CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 59. Serangan Mesuh (3)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 59


Saat Langit selesai melucuti senjata milik lawannya, dia merasakan bahaya yang mendekat. Begitu membalikkan badan ternyata ada sebuah peluru yang mengarah kepadanya. Meski laki-laki itu berusaha menghindar tetap saja peluru itu mengenai bahunya.


"A-kh! Aku salah perhitungan. Ternyata di arah tadi lebih dari satu orang," kata Langit sambil meringis.


Sky terkejut saat melihat kakaknya terkena tembakan. Dia tidak menyangka kalau Langit akan terkena serangan musuh. Sebab dia terkenal dengan insting yang sangat kuat.


"Kak Langit," gumam Sky. 


Sebenarnya dia hendak berlari keluar rumah. Namun, dia teringat kembali kata-kata yang tadi diucapkan oleh Langit. Maka dia pun mengurungkan perbuatannya itu. Jadi, dia hanya bisa mengawasi dari dalam rumah.


"Apa yang harus aku lakukan?" Sky memperhatikan keadaan di luar.


Untungnya Langit memakai seragam tim keamanan khusus yang tidak akan tembus meski terkena tembakan. Dia hanya merasakan sakit saja karena tekanan keras dari tembakan peluru tadi.


Langit pun kembali melancarkan serangannya ke arah sudut 45 derajat searah jarum jam. Dia juga berguling mencari tempat berlindung dari serangan musuh. Ada sebuah tong sampah besar yang ada di dekatnya. Maka untuk sementara waktu Langit bersembunyi di sana.


"Lumayan juga," gumam Langit saat melihat ke arah bahu yang terkena peluru tadi.


Musuh ternyata menggunakan senjata yang lumayan canggih. Terlihat dari bekas peluru yang bisa memberikan robekan pada seragam yang dipakai oleh Langit.


Langit gini bisa melihat di mana musuh tani bersembunyi. Lalu, dia pun mengeluarkan senjata andalannya. Hanya  dengan satu tembakan, peluru Langit mengenai tubuh lawan.


"Sepertinya, tepat sasaran," ucap Langit.


 Tidak lama kemudian terdengar bunyi mobil sirine polisi yang sangat banyak. Bersamaan dengan itu datang mobil Sky dan Angkasa.

__ADS_1


Banyak polisi datang ke sana. Mereka pun langsung mengikat para penjahat yang kini sedang tidak sadarkan diri.


"Ada beberapa orang di sekitar sudut 45 arah jarum jam. Entah mereka masih hidup atau mati karena aku mau nembaknya dari sini," kata Langit kepada polisi yang kini berdiri di depannya.


"Baiklah akan kami periksa ke sana sekarang juga," balas si polisi.


"Apa di sini sudah selesai?" tanya Shine.


"Sudah kepala kepolisian juga sudah masuk ke ruang rahasia dan ruang bawah tanah bersama Sky saat ini.


***


Keempat orang kakak beradik itu pun mendatangi markas yang ada di kota itu. Hanya untuk mengistirahatkan sebentar badan mereka yang terasa remuk. 


"Tidak aku sangka, ternyata aku berhasil menembak Daniel tepat di kepalanya," ucap Langit. Sebenarnya dia tidak ada niat untuk membunuh lawannya. Justru dia ingin lawannya itu bisa hidup agar bisa di introgasi.


"Itu sudah menjadi takdirnya. Lagian polisi juga tidak bisa menangkapnya. Karena dia selalu bisa kabur dari kejaran polisi," balas Angkasa.


"Yang aku sesali adalah … kenapa kalian bisa berhasil membunuh lawan, sedangkan aku tidak ada seorangpun yang bisa aku habisi," kata Sky dengan nada lemas.


***


Shine pulang ke rumah dan betapa bahagianya dia saat melihat Amira datang menyambut kepulangannya. Pelukan yang diberikan oleh istrinya itu dan membuat seluruh beban yang ada di pundak shine terasa hilang.


"Assalamualaikum, Honey." 


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarokatuh, Sayang."


Pelukkan saja masih terasa kurang bagi Shine, maka dia pun mencium lembut bibir istrinya. Amira pun membalas ciuman itu tidak kalah dengan mesranya.


Ciuman mereka pun berubah perlahan secara menuntut. Membuat keduanya larut dalam gelora gairah.

__ADS_1


"Ini masih sore nanti seperti kemarin Mama memanggil kita lagi," bisik Amira dengan napas terputus-putus.


"Mama akan mengerti jika kita tidak keluar," balas Shine dengan berbisik di telinga Amira.


"Apa Sayang tidak merasa kelelahan? Bukannya tadi kalian habis berkelahi dengan musuh?" tanya Amira.


"Kalau itu aku bisa menahannya, sedangkan yang ini aku tidak bisa menahannya lagi," jawab Shine dan memberikan sentuhan lembut pada tubuh Amira yang tidak bisa ditolak olehnya.


Shine ingin segera memiliki anak. Makanya, sebelum adanya bayi di dalam perut Amira, dia akan terus menanam benihnya setiap hari. Bahkan kadang lebih dari satu kali dalam sehari.


***


Juan sangat marah saat mendengar kalau Daniel mati di tangan Langit. Dia sudah menganggap Daniel itu sebagai adiknya meski terlahir dari beda ibu. 


"Tambahkan Langit dalam target kita! Orang yang harus kita bunuh dari keluarga Andersson," ucap Juan dengan mengepalkan tangannya.


"Baik, Tuan," balas David.


David tau kalau Langit bukanlah sembarang orang yang bisa dilawan oleh mereka. Kemampuan dalam membuat senjata yang canggih dan terkesan aneh, dia juga punya otak yang cerdik. Gerakan tubuhnya juga sangat gesit.


'Jika aku disuruh memilih siapa lawanku, maka Langit adalah satu-satunya orang yang tidak ingin aku lawan.' (David)


"Cari kelemahan Langit! Buat dia tidak bisa berkutik," titah Juan.


"Baik, Tuan. Secepatnya akan kami cari datanya," balas anak buah Juan.


"Langit ... dia itu adalah seorang anak lugu dan polos, tetapi punya potensi menjadi orang yang sangat kejam. Aku sejak dulu selalu tertarik pada kemampuan dan dirinya," gumam Juan.


***


Bagaimana kisah keluarga Andersson? Tunggu kelanjutannya, ya! sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya.

__ADS_1



__ADS_2