
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 88
Cantika melihat Amira yang sedang meringis kesakitan. Dia langsung panik seketika melihat menantunya seperti itu.
"Amira, ada apa? Mana yang sakit?" tanya Cantika sambil memeriksa keadaan tubuh Sang menantu.
Ketika Cantika melihat keadaan Amira yang sedang mengerang kesakitan, diam-diam Nick menutup hidung Cantika dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius. Dalam sekejap Cantika pun tidak sadarkan sendiri.
"Maafkan aku Nyonya Cantika. Aku terpaksa melakukan ini kepada Anda," lirih Nick sambil berurai air mata. Lalu, dia membaringkan Cantika di atas tempat tidur.
Amira yang melihat Ibu mertuanya tidak sadarkan diri akibat ulah Nick. Maka, dia pun memaksakan diri bangun dan memukuli tubuh laki-laki itu.
"Apa yang sudah kamu lakukan terhadap Mama? Dasar laki-laki brengsek!" umpat Amira terus memukuli Nick sekuat tenaga. Meski tidak memiliki pengaruh apapun terhadap tubuh lawannya itu.
Lalu, Nick pun memegang kedua tangan Amira dan mengikatnya ke arah belakang tubuhnya. Dia langsung mengikat kuat tangan Amira dan dia tidak memperdulikan ringisan kesakitan dari wanita hamil itu.
"Sebaiknya Anda jangan melakukan perlawanan, kalau tidak ingin terjadi sesuatu kepada bayi yang ada di dalam kandungan kamu ini," ujar Nick.
Amira pun akhirnya diam. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada bayinya. Insting sebagai seorang ibu, membuat dirinya akan melakukan apapun demi melindungi sang buah hati.
Akhirnya Nick pun bisa membawa Amira dengan cara baik-baik. Dia tidak menunjukkan tindakan mencurigakan saat keluar rumah. Para Tim Keamanan melihat mereka berdua seolah Nick sedang mengawal Amira untuk keluar rumah.
"Cepat kita pergi ke tempat tujuan yang diminta oleh Tuan David!" titah Nick pada sopir.
Mobil itu pun melaju pergi meninggalkan mansion keluarga Andersson. Tidak ada seorangpun yang menyadari kalau saat ini Amira sedang diculik dan akan dibawa ke markas musuh.
__ADS_1
Tidak sampai 10 menit terlihat helikopter yang membawa Shine dan Sky mendarat di halaman belakang mansion. keduanya pun segera berlari sekuat tenaga memasuki rumah. Para pegawai dan Tim Keamanan yang ada di sana terlihat terkejut, saat melihat kedua tuan mereka berlari dengan muka yang pucat ketika memasuki kediaman keluarga itu.
"Tuan, ada apa?"
"Di mana Mama dan Amira?" tanya Shine sambil berlari menaiki anak tangga menuju ke lantai atas.
"Bukannya Nona Amira baru saja pergi dengan Nick keluar rumah?" tanya seorang Tim Keamanan kepada rekannya.
"Iya, aku juga melihat dia keluar rumah bersama Nick. Tetapi Nyonya Cantika sepertinya masih ada di dalam rumah?" balasnya.
Shine dan Sky berlari menaiki lantai dua. Shine berlari ke arah kamarnya sedangkan Sky berlari ke arah kamar kedua orang tuanya.
"Honey!" teriak Shine memanggil Amira sambil membuka pintu.
Betapa terkejutnya dia saat tidak mendapati istrinya di sana. Akan tetapi hanya ada mamanya yang sedang tidur di atas ranjang.
"Shine, Mama tidak ada di kamarnya!" teriak Sky
"Mama ada di sini, di kamarku!" balasan Shine.
Sky pun masuk ke dalam kamar kembaranya. Dia langsung berlari saat melihat mamanya berada dalam pelukan kakak kembarannya.
"Apa yang sudah terjadi kepada Mama?" tanya Sky dengan panik dan air mukanya berubah.
Shine pun menelepon dokter keluarga Andersson dan memintanya datang ke rumah mereka. Di waktu bersamaan ada pemberitahuan dari kantor pusat Tim Keamanan untuk para penjaga yang ada di kediaman mansion Andersson sedang dalam keadaan bahaya.
Bunyi alarm berbahaya menggema di seluruh penjuru bangunan besar itu. Tentu saja ini membuat Sky dan Shine terkejut.
"Alarm tanda bahaya? Siapa yang sudah menghubungi Tim Keamanan Pusat?" tanya Shine.
__ADS_1
Belum juga keterkejutan mereka reda, kini terdengar suara helikopter yang berada di atas bangunan mansion. Tentu saja ini membuat orang-orang yang ada di sana langsung dalam keadaan bersiap siaga.
"Tuan Shine, Nyonya Cantika sudah memberi tahu tanda bahaya ke Tim Keamanan Pusat dan juga ke keluarga Green," kata salah seorang Tim Keamanan yang berdiri di depan pintu kamar Shine, dengan napas yang terputus-putus. Diikuti oleh seorang Tim Keamanan lainnya.
"Tuan Shine, Nona Amira sudah pergi keluar mansion bersama dengan Nick beberapa menit yang lalu," kata laki-laki itu melapor.
"Apa?" Shine dan Sky terkejut.
***
Apakah Shine bisa menyelamatkan Amira? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin karyanya.
Blurb
Musim paceklik sedang melanda negeri, rakyat sedang menderita akibat dari kekeringan sumber mata air mulai mengering, sedangkan hujan tak turun-turun, tiap malam Kaisar Chimera memandang langit berharap hujan deras mengguyur negerinya. Kesekian kali purnama ia juga memandang langit malam nampak rembulan bersinar terang,
“Huh,... Kau malah selalu tersenyum rembulan, kenapa kau tidak berubah menjadi awan hitam saja?” Gerutu Kaisar Chimera geram.
Tanpa Kaisar Chimera ketahui, rembulan yang ia pandangi setiap malam itu, juga sebenarnya seseorang wanita yang suka menatapnya dari kejauhan langit. Wanita itu adalah Dewi Rembulan, ia terpesona pada sosok seorang pemuda yang selalu memandang kearahnya.
“Siapakah pemuda itu? Dia sangat tampan dan berwibawa,” gumam Dewi Rembulan tersenyum.
Namun syarat Dewi jika ingin berubah jadi manusia agar bisa berjumpa dengan pemuda idamannya, haruslah menunggu selama 5000 tahun agar kesempurnaannya menjadi seorang manusia perempuan dapat terlaksana, sedangkan itu sosok Kaisar Chimera berenkarnasi dari generasi ke generasi.
Dapat kah Dewi Rembulan menemukan cinta sejatinya ? Mampukah ia memikat hati seorang Kaisar Chimera?
__ADS_1