
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 58
Serangan musuh yang tiba-tiba muncul secara misterius membuat Angkasa dan Shine terkejut. Mereka yakin kalau itu adalah perbuatan kelompok Juan. Namun, musuh itu tidak diketahui sedang bersembunyi di mana
"Shine, kita pergi dengan mobil dan masuk ke dalam hutan!" perintah Angkasa kepada adiknya.
"Apa? Kak, bukannya itu malah berbahaya!" pekik Shine.
"Justru yang kita anggap berbahaya adalah peluang terbesar bagi kita untuk bisa selamat," balas Angkasa.
Angkasa dan Shine pun mengendarai mobil mereka masing-masing. Sesuai dugaan sebelumnya kalau musuh akan mengejar mereka. Mobil mereka saling kejar mengejar di jalan raya yang sepi. Jumlah mobil musuh ada 5 buah, tetapi mereka tidak tahu berapa orang yang ada di dalam mobil itu.
"Shine, kamu masuk ke sisi hutan sebelah kanan. Sedangkan aku akan masuk ke sisi kiri," perintah Angkasa kepada adiknya.
"Baik, Kak."Â
Shine pun masuk ke hutan sisi sebelah kanan. Ternyata semua musuh mengikuti jejaknya masuk ke hutan sebelah kanan.
"Ternyata benar yang mereka inginkan adalah Shine saja," gumam Angkasa dan dia pun menghentikan laju mobilnya. Lalu, memutar arah dan mengikuti jejak mobil Shine.
Angkasa memberitahu ke markas pusat kalau saat ini orang-orang Juan sedang mengejar Shine. Saat ini mereka sedang berada di dalam hutan.
***
__ADS_1
Shine sadar kalau dirinya yang sedang diincar oleh mereka. Terlihat semua mobil mengikuti dirinya dan membiarkan Angkasa pergi begitu.
"Rupanya aku udah target utama mereka," gumam Shine.
Untungnya Shine memiliki keahlian mengemudi yang handal, sehingga dia bisa melajukan kendaraannya di tengah-tengah hutan yang mana tidak ada sedikitpun di jalan yang mulus dan beraspal. Tanah bebatuan yang memiliki dataran yang bergelombang.
Angkasa dengan kecepatan tinggi mengajar mobil milik Shine. Dia bisa melihat ada mobil milik musuhnya. Dengan menggunakan senjata yang dia miliki Angkasa pun menembak ban mobil itu sehingga mobil mereka oleng dan menabrak pohon besar yang ada di dekatnya.
DUAK!
Angkasa pun menembak kembali mobil yang kini sudah mengeluarkan asap. Lalu, dia pun mengarahkan tembakannya itu pada bagian tangki bahan bakar.
DUAR!
Mobil lawan pun meledak karena tembakan Angkasa tepat mengenai sasaran.Â
***
Sementara itu, Shine masih melajukan mobilnya. Dia juga sesekali menembakkan senjatanya ke arah mobil musuh. Keadaan medan yang berat kadang memberikan keuntungan bagi dirinya.Â
Shine mengarahkan tembakan pada mobil musuh di bagian depan. Tembakannya tepat mengenai sasaran sehingga mobil itu pun meledak.
"Bagus. Tinggal satu lagi mobil yang masih mengikutiku," gumam Shine.
Ketika Shine akan menembakkan senjatanya ke arah mobil lawan, tiba-tiba saja mobil itu meledak dengan keras.
"Ada apa ini?" Shine merasa aneh dengan situasi saat ini.
__ADS_1
Shine pun menghentikan laju mobilnya dan memeriksa keadaan di sekitar dia. Hatinya baru merasa tenang saat melihat ada mobil sang kakak yang tidak jauh darinya.
"Kak Angkasa," ucap Shine dengan pelan diiringi senyum tipis.
Lalu, Shine melajukan mobilnya mendekat ke arah mobil Angkasa. Dia pun membunyikan klakson sebagai tanda dia baik-baik saja.
"Kita sebaiknya kembali ke rumah tadi untuk menjemput Langit dan Sky," titah Angkasa.
***
"Sky kamu jangan pergi ke mana pun. Tetap di tempat persembunyianmu saat ini!" titah Langit pada adiknya.
"Baik, Kak," jawab Sky.
Langit pun berjalan secara mengendap-endap seluruh rumah. Dia akan membawa senjata milik musuhnya. Jika mereka sadar nanti sudah tidak bisa memberikan serangan jarak jauh. Maka mereka akan mengandalkan kekuatan otot saja dengan beradu fisik.
Saat Langit melucuti semua senjata yang dimiliki oleh musuh. Dia merasakan kehadiran seseorang yang sedang mengintai dirinya. Maka kini laki-laki itu memfokuskan instingnya mencari keberadaan musuh. Dengan menutup mata dan mendengarkan bunyi-bunyian yang ada di sekitarnya, Langit bisa menduga di mana letak musuh itu berada sekarang.
Lalu, dengan sekali gerakan cepat Langit menembakkan senjatanya ke arah sudut 45° sesuai arah jarum jam. Benar saja setelah Langit menambahkan senjatanya, terdengar suara teriakan kesakitan.
"Jumlah mereka dan berapa orang, ya?" Langit bertanya pada dirinya sendiri.
Saat Langit selesai melucuti senjata milik lawannya, dia merasakan bahaya yang mendekat. Begitu membalikkan badan ternyata ada sebuah peluru yang mengarah kepadanya. Meski laki-laki itu berusaha menghindar tetap saja peluru itu mengenai bahunya.
"A-kh! Aku salah perhitungan. Ternyata di arah tadi lebih dari satu orang," kata Langit sambil meringis.
***
__ADS_1
Apakah Langit bisa mengatasi lawannya? Tunggu kelanjutannya, ya