CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 32. Shine Koma


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 32


Shine belum bisa membuka matanya, tetapi dia bisa mendengar keadaan sekitarnya. Selain itu dia juga bisa merasakan tangannya menyentuh dengan Amira. Saat ini dia hanya bisa menggerakkan satu jarinya. Telunjuk itu mencoba menyentuh tangan Amira yang ada di dekatnya. Sekarang dia bisa merasakan kelembutan dari kulit tangan perempuan itu.


'Ya Allah, ini beneran tangan Amira.' (Shine)


Meski hanya dengan satu jari, dia sudah merasa sangat senang karena bisa menyentuh perempuan yang dicintainya. Kehadiran Amira membuatnya semangat untuk cepat sembuh.


Sementara itu, Amira sendiri tertidur pulas karena merasa kelelahan sudah melakukan perjalanan yang jauh. Seandainya saja Shine saat ini tak sadar dia tidak akan mengetahuinya.


***


Jam dinding sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Amira baru bisa membuka matanya. Dia melihat kalau tangannya dengan tangan pemuda itu, saat ini saling bergenggaman. Entah kenapa dia bisa tersenyum dan merasa senang. Padahal jelas-jelas Shine masih dalam keadaan belum sadar.


Amira pun pergi ke kamar mandi dan berwudhu untuk melakukan salat tahajud. seperti biasa dia mau minta permohonan untuk kesembuhan dan keselamatan bagi Shine. Sambil menunggu waktu subuh, perempuan itu mengaji dengan suara pelan di samping sang pujaan hati.


Suaranya yang merdu sampai ke telinga Shine. Dia bisa mendengar dengan jelas suara perempuan itu dan rasanya dia ingin membuka matanya saat itu juga. Namun, lagi-lagi mata itu sulit untuk dia buka.


'Ya Allah, beri aku kesembuhan dan kesempatan untuk menjalani kehidupan rumah tangga bersama dengannya. Aku merasa kalau Amira adalah jodoh yang sudah Engkau tentukan untuk aku.' (Shine)

__ADS_1


Hati dan pikiran Shine sekarang merasa bahagia dan tenang. Rasa sakit dari luka yang ada di sekujur tubuhnya, tidak seberapa jika dibandingkan dengan rasa kebahagiaan yang sedang dia rasakan saat ini.


Wangi aroma tubuh Amira tercampur dengan bau obat khas rumah sakit. Meski begitu Shine masih bisa menghirup wanginya.


'Semoga saja secepatnya aku bisa merengkuh si pemilik wangi tubuh ini.' (Shine)


Suara Almira mengalahkan suara dari mesin alat bantu yang menempel pada tubuh Shine. Hal yang paling disukai oleh ahli waris keluarga Andersson ini.


Amira membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an, tanpa melihat keadaan sekitar. Sampai dia tidak sadar kalau Angkasa masuk ke dalam ruangan itu. Lelaki dewasa itu tidak mengganggu Amira. Tanpa bicara apapun dia langsung mengganti labu kantung darah yang hampir habis.


Amira mengakhiri kegiatan mengajinya, saat tersadar ada Angkasa yang sedang mengganti labu darah dengan yang baru. Sebenarnya dia terkejut karena tiba-tiba saja ada orang yang berdiri di seberangnya.


"Lanjutkan saja, itu bagus untuk merang_sang kesadaran Shine," ucap Angkasa, lalu dia pun pamit undur diri keluar dari ruangan itu.


Hati perempuan itu ikut terluka saat melihat ada beberapa alat medis yang menempel pada tubuh sang pujaan hati. Air matanya kembali luruh setelah kemarin tiada henti dan baru kering setelah malam hari. Sepertinya air matanya sudah di produksi lagi oleh tubuhnya, sehingga kini dia kembali menangisi kondisi Shine.


"Shine buka mata kamu! Katanya kamu ingin menikahi aku. Buka matamu kalau begitu. Aku ingin mendengar sendiri kamu mengucapakan qobul itu setelah Abah mengatakan ijabnya." Amira bicara seorang diri. Dia sangat mengharapkan balasan dari Shine. Baginya tidak ada yang mustahil jika Tuhan sudah menghendaki.


"Kamu tidak berbohong 'kan, dulu? Jika menginginkan diri ini sebagai istrimu?" cecar Amira agar Shine memberikan respon kepadanya.


Shine bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Amira saat ini. Namun, dia tidak bisa membuka mulutnya untuk menjawab semua pertanyaan yang diajukan kepadanya. Dia ingin mengatakan kalau dia sangat mencintainya dan menginginkan dirinya untuk menjadi pasangan hidupnya sampai mati.


'Amira bisakah kamu mendengarkan isi hatiku ini?' (Shine)

__ADS_1


'Aku berharap kalau kamu tahu apa yang ingin aku katakan kepadamu saat ini.' (Shine)


"Shine, entah kenapa aku merasa kalau kamu saat ini bicara sesuatu kepadaku. Maka, aku akan terus setia menunggu kamu di sini," ucap Amira sedang sungguh-sungguh dan penuh harap laki-laki ini cepat sadar.


***


Pagi harinya, keluarga Shine berdatangan satu per satu. Amira bahkan ada yang baru pertama kali dia melihat mereka. Ada rasa canggung saat orang-orang itu berkumpul di ruangan Shine.


"Ada kekasihnya Shine di sini!" ucap seorang perempuan berwajah campuran.


"Apakah kamu Amira? Perempuan yang berhasil menaklukan hati Shine?" tanya seorang laki-laki bermata biru.


Ditanya seperti ini membuat Amira malu. Dia sendiri bingung mau menjawab apa.


"Quinza ... Xavier! Kalian tidak sopan bicara seperti itu." Terlihat Bilqis menasehati kedai anak kembarnya. William pun menatap tidak suka dengan tindak sopan dari kedua anak kesatuannya itu.


"Mommy dan Daddy salah paham. Kita mau membuka biro perjodohan untuk mereka berdua," ucap Quinza.


"Kita dapat misi dari Trio R untuk menjodohkan mereka," lanjut Xavier.


***


Aku lampirkan keluarga William juga di sini. Apakah ada yang rindu pada si kakek alias si oppa yang dulu suka bikin emak-emak marah 😆😆😆. Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2