
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 15
Amira dan keluarganya tidak tahu kalau Shine dan Sky adalah kakak dari Rain. Mereka sangat terkejut saat melihat kedua orang itu duduk bersama keluarga besar Hakim.
"Shine?"
"Kamu sedang apa di sini?"
"Shine … jangan-jangan kamu—" Amira merasa sakit hati karena sudah dipermainkan oleh laki-laki itu.
"Loh, Nak Shine ada di sini?" Umma Habibah juga kaget saat melihat pemuda yang belakangan ini selalu berkunjung ke rumahnya untuk bersilaturahmi sambil membawakan aneka makanan.
Setelah melihat Alex, mereka baru sadar kalau Shine dan Sky itu sangat mirip dengannya. Padahal mereka sudah pernah melihat wajah Alex meski lewat video call saat meminta maaf pada keluarganya, karena tidak bisa melanjutkan rencana untuk besanan.
"Kedatangan kami ke sini untuk meluruskan kesalahpahaman yang sudah saya buat," kata Kiai Samsul.
"Saat itu saya sedang menggoda Amira dan Rain. Tanpa tahu kalau Rania ada di sana dan mendengarkan ucapan banyolan saya itu. Aku tahu kalau Nak Rania tidak mau dipoligami. Begitu juga Nak Rain tidak punya keinginan mempunyai istri lebih dari satu. Saat itu aku tahu kalau ada laki-laki yang selalu ada di dekat Amira, yaitu Shine. Aku sedang menggoda Amira saat itu, dan mengatakan mungkin saja Shine adalah jodohnya. Padahal aku sudah menghafal lafal ijab qobul atas nama Rain dan harus diganti dengan nama Shine." Kiai Samsul menjelaskan kembali kejadian yang sebenarnya terjadi dulu.
***
Pembicaraan itu selesai dengan Rania memaafkan keluarganya Amira. Mereka pun menganggap masalah itu sudah selesai. Amira mengikuti Shine yang pergi lebih dulu setelah pertemuan itu selesai. Dia ingin mendengar penjelasan, kenapa dia membohongi dirinya.
Terlihat Shine sedang duduk di gazebo taman yang ada di belakang taman bunga di kediaman Fatih. Tempat yang sangat nyaman dan tenang.
"Shine," panggil Amira dengan nada kesal. Seandainya saja cadar yang menutupi wajahnya itu dibuka, maka akan terlihat raut mukanya sedang marah.
Shine melihat ke arahnya dan memberikan senyum tipisnya. Dia yakin kalau Amira pastinya akan meminta penjelasan padanya mengenai status dirinya.
"Kenapa kamu tidak bilang kalau kau adalah kakak dari Rain?" tanya Amira.
"Karena kamu tidak bertanya padaku," jawab Shine dengan senyum lebarnya.
Amira mendelikan matanya ke sembarang arah. Dia merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan oleh Shine.
"Ya, setidaknya saat aku bercerita tentang Rain, kamu bilang kalau kamu adalah kakaknya atau bilang kamu dan Rain bersaudara," ujar Amira.
__ADS_1
Suara Amira yang lembut dan pelan, berubah dengan seiring berjalannya waktu karena Shine. Pemuda ini senang sekali membuat dirinya ngomel-ngomel.
"Apa bedanya saat kamu tahu aku ini kakak atau saudara dari Rain?" tanya Shine dengan tatapan nanar.
Amira terdiam. Dia mulai berpikir apa yang dikatakan oleh Shine barusan itu ada benarnya juga. Rain kini sudah hidup bahagia dengan Rania. Sudah saatnya dia juga mencari kebahagiaannya sendiri.
"Ya, setidaknya aku tidak akan cerita masa lalu aku," jawab Amira menahan malu dengan nada bicara pelan dan mengalun lembut seperti biasanya dia bicara.
"Bukannya masa lalu itu juga bagian dalam dirimu. Mau itu baik atau buruk. Semua kejadian kita alami pastinya akan suatu nilai hikmah di dalamnya," ujar Shine sok bijak.
Amira yang masih berdiri menatap ke arah Shine yang terlihat berbeda dari biasanya. Laki-laki itu terkesan cuek dan sibuk dengan handphone miliknya sekarang, setelah bunyi pesan masuk. Amira menjadi canggung, dia tidak tahu harus apa saat ini, maka dia memutuskan untuk pergi. Namun, saat dia membalikan badan, lengannya di tahan oleh Shine.Â
"Duduklah di sini, Aku selesai dulu pekerjaan aku yang penting ini. Setelah itu aku mau membicarakan sesuatu padamu," ucap Shine.
Amira pun duduk di samping Shine. Entah kenapa dia malah duduk di sana bukan di kursi seberangnya. Tanpa sadar dia jatuh tertidur dan bersandar pada Shine.
Shine terkejut saat merasakan kepala Amira bersandar padanya. Dia memperhatikan sebentar mata Amira yang tertutup. Dia pun membiarkan Amira tertidur seperti itu.
Sudah satu jam lebih Amira tidur bersandar padanya. Bahkan Shine sudah selesai mengerjakan pekerjaannya, perempuan itu masih nyenyak tertidur.
Tidak ada niatan Shine untuk membangunkan Amira. Justru dia juga malah ikut memejamkan matanya.Â
"Sejak kapan Shine dan Kak Amira dekat?" tanya Raihan.
"Sejak dia ditabrak dulu," jawab Sky.
"Maksudnya saat Shine tidak bisa jalan?" Rayyan terkejut mendengar hal yang baru ini.
"Iya. Amira bertanggung jawab untuk mengurus Shine karena dia yang sudah menabraknya dulu," jelas Sky.
"Wah, ini pelanggaran. Dia tidak bilang kalau Kak Amira yang sudah menabraknya. Bunda sampai panik dan Shine malah meminta bunda jangan terlalu merisaukan dirinya karena lukanya tidak parah," ujar Raihan.
"Ternyata ada udang di balik batu. Kenapa dia melarang kita semua memberi tahu Tante Cantika tentang kecelakaan itu," lanjut Rayyan.
"Ya, begitulah. Tapi, sepertinya dia bilang mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Namun, menurutku itu tidak benar," kata Sky.
Raihan dan Rayyan pun membenarkan. Amira bukanlah sosok seorang wanita yang mudah dekat dengan laki-laki. Apalagi sampai duduk berduaan seperti ini.
***
__ADS_1
Amira sangat terkejut saat terbangun dia sudah berada di dalam kamar tamu di kediaman Fatih. Apalagi ada Shine yang duduk di dekat jendela sambil memangku laptopnya.
"Kamu, sudah bangun? Kalau lima belas menit lagi kamu tidak bangun, maka aku akan membawa kamu ke rumah sakit," kata Shine dengan seringai jahil.
"Seharusnya kamu bangunkan aku. Berapa lama aku tertidur?" tanya Amira karena tidak ada jam dinding.
"Tiga puluh menit lagi masuk waktu Ashar," jawab Shine.
"Apa?" Amira sangat terkejut dia yakin kalau tadi di tidur sebelum waktu Zuhur.
"Kamu masih punya waktu kalau mau sholat Zuhur," pungkas Shine.
"Aku sedang libur," balas Amira dengan malu.
***
Amira merasa canggung saat melihat keluarga besar Rania sedang berkumpul. Dia bingung harus apa, kedua orang tuanya sudah pulang di antarkan oleh bodyguard kediaman Fatih tadi siang.
"Amira kemarilah ikut bergabung bersama kami," kata Fatih saat melihat ke arah Amira.
"Terima kasih Tuan. Saya sebaiknya pulang, takut abah sama umma khawatir," balas Amira.
"Kedua orang tua kamu sudah menitipkan kamu pada kami. Kamu juga boleh menginap," kata Mentari.
Amira merasa malu pada keluarga yang selalu bersikap baik padanya. Namun, dia malah menimbulkan riak di rumah tangga putri kesayangan mereka.
"Terima kasih atas tawarannya, Nyonya. Tapi, aku harus pulang karena ada suatu keperluan," ucap Amira menolak.
"Tetaplah di sini sampai makan malam, nanti biar Shine yang antarkan kamu pulang." Terdengar suara Cantika dari arah belakang Amira.
Amira selalu kagum akan pasangan Alex dan Cantika, meski mereka sudah tua, tetapi masih terlihat mesra dan kompak. Dia juga berharap nanti bisa merajut kehidupan rumah tangga seperti pasangan ini.
"Kenapa aku yang harus mengantarkan Amira?" tanya Shine dan malah mendapatkan pelototan tajam dari semua orang.
'Eh, ada apa? Apa ada yang salah?' Shine menyadari orang-orang di sana sedang mengintimidasi dirinya.
***
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1