
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 13
Malam hari Shine baru sampai di Indonesia. Dia langsung menuju ke rumah keluarga besar Fatih, ayahnya Rania. Dia yakin kalau mereka semua sedang berada di sana saat ini. Dari Bandara Soekarno Hatta sampai ke rumah orang tua Rania lumayan cukup jauh. Untungnya malam itu jalanan dalam keadaan sepi, sehingga mobil bisa melaju dengan kecepatan penuh.
"Pak, bangunkan aku jika sudah sampai rumah ya!" pinta Shine pada sopir pribadi keluarga Ghazali.
"Baik, Tuan."
Dalam perjalanan itu Shine benar-benar tertidur, karena dia merasa kelelahan. Semua agenda penting dimajukan jadwalnya agar dia bisa secepatnya datang ke Indonesia. Dia melakukan ini semua demi Amira dan keluarganya.
Beberapa jam kemudian, sopir pun membangunkan Shine saat mereka sampai di rumah keluarga orang tua Rania. Ternyata rumah dalam keadaan sepi.
"Mereka pada ke mana?" tanya Shine sambil bergumam.
Shine pun bertanya kepada penjaga di sana. Ternyata para penghuni rumah saat ini berada di rumah sakit menunggu Rania yang sedang terbujur koma. Maka Shine memutuskan untuk pulang dulu ke rumah utama keluarga Anderson yang ada di Jakarta.
Begitu dia sampai di rumah itu ternyata kedua orang tuanya dan juga Sky baru sampai. Mereka juga langsung terbang ke Indonesia begitu mendengar kabar Kalau Rania mengalami kecelakaan dan akhirnya keguguran.
"Apa kita sekarang langsung pergi ke rumah sakit?" tanya Shine pada keluarganya.
"Lebih baik sekarang kita beristirahat saja dahulu. Besok pagi-pagi baru kita ke rumah sakit," jawab Alex sambil membopong tubuh Cantika.
Shine dan Sky cemburu melihat kemesraan orang tuanya. Alex dan Cantika meski sudah punya banyak cucu, masih terlihat seperti pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk cinta.
__ADS_1
"Papa, kita tidur bersama, ya?" pinta Sky.
"Tidak boleh!" bantah Alex menolak keinginan putranya itu.
***
Keesokan paginya Shine bersama keluarganya mengunjungi rumah sakit. Begitu mereka sampai di sana ternyata Rania baru saja sadar dari komanya. Rania sedang berteriak mau marahin karena tidak ingin melihat dirinya.
Melihat keadaan wajah Rain yang babak belur dan Rania yang berwajah pucat pasi. Membuat Shine ikut sedih dan hatinya juga merasa terluka.
"Keluar! Aku tidak mau melihat kamu lagi!" teriak Rania.
"Tapiβ" Rain masih bersikukuh ingin bersama istrinya.
"Sebaiknya kamu keluar atau kami yang akan menurutmu!" Raihan yang masih marah terhadap Rain menarik tubuhnya. Begitu juga dengan Rayyan yang ikut mendorong tubuh lain agar keluar dari ruang rawat Rania.
Shine mendekati brankar dan memeluk tubuh sepupunya itu. Meski mereka jarang bertemu setiap hari, tetapi Shine sangat sayang kepada Rania. Bukan hanya Shine yang sayang sama Rania, semua sepupunya juga menyayangi wanita ini.
"Kak Shine, aku benci Kak Rain," balas Rania sambil menangis dalam pelukan Shine.
"Rain tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Karena dia begitu sangat mencintai dirimu. Bukannya kamu tahu sendiri akan perasaan suamimu itu," lanjut Shine.
"Tidak. Kak Amira selalu saja berharap bisa menjadi istri dari Kak Rain. Dan aku tidak mau di madu," bantah Rania.
Shine bukan tipe orang yang bisa menenangkan orang yang sedang bersedih. Maka, dia membiarkan Mama dan Tantenya (Bundanya Bintang) yang menenangkan Rania. Shine sendiri memilih pergi mencari ruang Kiai Samsul yang masih di rawat di rumah sakit.
Ruangan tempat Kiai Samsul di rawat ada di dua lantai di bawah tempat Rania di rawat. Saat dia menengok ke ruangan itu lewat jendela kaca, terlihat kalau Kiai Samsul sedang menenangkan Amira.
__ADS_1
"Sudah, kamu jangan terus menyalahkan dirimu sendiri. Itu semua sudah menjadi takdir. Kita tidak bisa mencegahnya," kata Kiai Samsul.
"Tapi, semua itu karena kita, Bah. Coba saat itu Abah tidak mengucapkan kata-kata 'itu', pasti semua ini tidak akan terjadi," lirih Amira.
"Nak, jangan seperti ini. Ini sama saja kamu sudah menentang takdir yang sudah di gariskan oleh Allah pada Rania. Sebaiknya kita doakan untuk kebaikan Rania dan keluarganya," lanjut Umma Habibah.
Shine pun mengetuk pintu ketika semua orang terdiam. Dia tidak mau pas masuk malah menimbulkan ketegangan baru lainnya.
"Masuk!" ucap Umma Habibah.
"Shine," panggil Amira.
Dia sangat senang dengan kedatangan laki-laki itu. Amira dengan cepat berdiri dan berjalan ke arah Shine.
"Ada yang mau aku bicarakan dengan kamu. Ini sangat penting!" ucapannya dengan tegas.
"Katakanlah!" ucap Shine.
Amira ragu kalau di ucapkan sana. Namun, dia juga tidak mungkin melakukan pertemuan empat mata hanya dengan Shine.
"Apa perasaan kamu untuk aku itu adalah beneran bukan bohongan?" tanya Amira dengan pelan.
Shine sangat terkejut karena tiba-tiba saja Amira bertanya seperti ini. Dia pun hanya menatapnya dalam pada netra yang kini terlihat membengkak.
***
Jawaban apa yang akan diberikan oleh Shine pada Amira? Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1
Sambil menunggu up bab berikutnya yuk, baca juga karya aku yang lainnya.