
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kirim like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
Bab 16.
Semua orang menatap kesal kepada Shine. Mereka berpikir kalau laki-laki itu tidak bisa membaca kesempatan yang dia miliki, untuk berdekatan dengan Amira tanpa gangguan orang lain.
'Eh, ada apa? Apa ada yang salah?' Shine menyadari orang-orang di sana sedang mengintimidasi dirinya.
"Setidaknya Amira akan aman saat pulang diantar oleh kamu," kata Sky sama yang menghadirkan sebelah matanya.
Melihat kode dari saudara kembarnya, akhirnya Shine tahu akan maksud tertentu. Dia pun melakukan kepala dan tersenyum tipis.
"Baiklah, aku akan mengantarkan Amira pulang nanti," balas Shine.
***
Setelah selesai salat Magrib mereka semua makan malam bersama. Cantika dan Mentari yang membuat menu utama untuk makan malam itu. Kedua wanita itu jago dalam memasak baik itu masakan Nusantara atau Barat.
"Amira, kamu bukanlah yang lebih banyak agar tubuhmu semakin berisi," kata Cantika.
Mendapat perhatian dari Cantika, kamu buat Amira merasa sangat bahagia. Dia tahu kalau wanita paruh baya itu selalu memperlakukan dirinya seperti anak sendiri.
"Terima kasih, Ma. Ini sudah cukup untuk aku," balas Amira.
Diam-diam Amira memperhatikan Rain yang hilir mudik sedang merayu istrinya. Dia baru melihat sosok Rain yang seperti ini. Sangat terlihat jelas kalau dia begitu mencintai istrinya itu.
Sementara itu, Shine juga diam-diam memperhatikan Amira. Dia tahu kalau Amira terus memperhatikan Rain.
"Ini sudah malam waktunya Amira untuk pulang," kata Shine sambil beranjak dari kursi yang didudukinya.
__ADS_1
Amira pun langsung ikut berdiri dan berpamitan kepada semua orang yang ada di sana. Saat akan berubah pamitan kepada Rain dia agak ragu-ragu.
"Rain ...." Amira berdiri menghadang yang akan masuk ke dalam lift.
"Ya, Kak Amira. Ada apa?" tanya Rain dengan suaranya khasnya yang lembut dan begitu enak didengar di telinganya.
"Aku mau pamit pulang," jawab Amira.
"Oh, hati-hati di jalan, Kak. Semoga selamat sampai ke rumah," balas Rain, lalu dia pun berlari menaiki anak tangga menyusul Rania karena liftnya sudah menutup.
Amira menatap Rain sampai hilang dari pandangannya. Tanpa dia sadari, tidak jauh dari sana, Shine berdiri memperhatikan dirinya.
***
Saat dalam perjalanan pulang, baik Amira maupun Shine saling terdiam. Tidak ada yang berniat bicara di antara mereka. Sampai terjadi sesuatu di dalam perjalanan itu. Ada sebuah mobil yang menyalip kendaraan mereka dan menghadang. Mau tidak mau Shine menghentikan laju kendaraannya.
"Ada apa?" tanya Amira dengan panik.
Terlihat ada dua orang yang berpakaian serba hitam dan memakai penutup kepala, turun dari mobil itu. Shine pun turun dari mobilnya.
"Mau apa kalian!" bentak Shine.
"Serahkan mobil kalian dan wanita yang ada di dalam mobil itu!" teriak si begal yang memegang dua pisau.
Amira yang ada di dalam mobil begitu panik dan ketakutan. Dia pun menghubungi Rain untuk memberitahu apa yang sedang terjadi pada mereka saat ini.
"Rain, angkat dong, teleponnya!" Amira merasa gemas karena Rain tidak juga mengangkat nomor teleponnya.
"Kenapa aku tidak mempunyai nomor Sky? Aku harus bagaimana sekarang?" tanya Amira bermonolog.
__ADS_1
"Kyaaaak rasakan ini!"
Amira melihat si begal itu melayangkan pukulan ke arah Shine.
"Shine awas!" teriak Amira.
Shine sedang berkelahi melawan dua orang begal. Ternyata dua orang begal itu sangat menguasai ilmu beladiri. Sampai-sampai membuat Shine kewalahan.
Begal itu menendang tubuh Shine dan membuatnya terjelembap ke pinggir jalan. Kebetulan di dekatnya ada batu yang lumayan besar. Lalu, Shine pun melebarkan batu itu ke arah dua orang begal tadi.
"Rasakan itu!" balas Shine merasa senang.
"Gila kamu, ya! Melemparkan batu sebesar itu kepada kami," desis salah seorang di antara mereka berdua.
Shine terkejut mendengar suara orang yang berbicara barusan. Dia yakin kalau orang itu memiliki suara yang sama dengan Raihan.
'Apa dia itu, Ian?'
'Tapi, mana mungkin itu mereka!'
'Akan aku buktikan dulu dengan ini.' Shine pun mengambil ranting berukuran lumayan besar yang tergeletak di pinggir jalan.
***
Siapakah orang yang sudah menghadang mereka di jalan? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya yuk baca juga karya aku yang lainnya.
__ADS_1