CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 57. Serangan Musuh (1)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 57


Ada dua mobil polisi ke rumah yang didatangi oleh Angkasa beserta ketiga adiknya. Ternyata ada empat orang yang menggunakan seragam polisi turun dari dua mobil itu.


Langit dan Sky bersembunyi, sedangkan Angkasa dan Shine berjalan dengan tenang ke luar dari rumah itu. Keduanya bagian memantau keadaan di sana dan menjadi backing-an saat musuh menyerang.


Langit bersembunyi di balik gorden. Dia memperhatikan setiap pergerakan musuh. Senjata miliknya pun sudah berada di genggaman tangan, untuk berjaga-jaga. 


Sementara itu, Sky berada di ruang sebelah. Dia juga melakukan hal yang sama seperti Langit. Dia mengawasi musuh dari arah yang berbeda.


Kedua orang di dalam rumah itu memperhatikan para polisi yang sedang berbicara dengan Angkasa. Langit memahami kode yang diberikan oleh kakak kandungnya itu.


'Jadi hanya satu polisi yang asli sementara yang tidak adalah palsu.' (Langit)


Langit pun memberi tahu Sky lewat earphone kalau orang yang berbadan agak pendek adalah polisi yang asli sementara yang tiga lainnya adalah anak buah Juan.


Keempat orang berseragam polisi itu sedang membicarakan sesuatu. Sementara itu, Langit melihat Angkasa mengacungkan jempol dibalik punggung Shine.


'Oh, berjalan lancar sesuai rencana.' (Langit)


***


"Maaf, Tuan. Meski begitu Anda sudah melanggar hak pemilik rumah. Orang yang memiliki rumah ini tidak mengizinkan siapapun untuk memasukinya," kata polisi palsu.

__ADS_1


"Kalau itu urusan Kepala Polisi. Aku hanya menjalankan apa yang harus aku lakukan saat ini," balas Angkasa dengan tenang.


"Bisa saja Anda mengambil sesuatu atau barang yang ada di dalam rumah itu. Tanpa seizin si pemilik asli," lanjut polisi palsu yang lainnya lagi.


"Silakan saja kalian periksa kami! Tidak ada satupun benda yang kamu bawa," tantang Angkasa sambil melangkah ke depan dengan kedua tangan direntangkan, untuk mereka periksa.


Salah seorang polisi maju dan mencoba memeriksa tubuh Angkasa. Namun, sebelum tangan Polisi palsu itu menyentuh tubuhnya, orang itu jatuh tak berdaya.


"Apa yang sudah kau lakukan padanya?" tanya salah seorang teman si penjahat.


"Mana aku tahu? Bukannya kalian melihat sendiri kalau aku tidak melakukan apa-apa," jawab Angkasa.


Ketiga penjahat itu saling menatap dalam hati mereka membenarkan ucapan Angkasa. Hanya saja mereka merasa aneh kenapa tiba-tiba temannya langsung jatuh tidak sadarkan diri.


Kini perhatian ketiga orang itu teralihkan kepada Shine. Mereka menduga kalau pria itu sudah melakukan sesuatu.


Merasa tersudutkan, maka salah seorang dari penjahat itu menghubungi teman yang lainnya dan meminta bantuan untuk menangani Angkasa dan Shine. Si polisi pun minta Shine dan Angkasa untuk mengeluarkan senjata yang mereka miliki.


"Ini," kata Angkasa mengeluarkan senjata api yang ada di balik sakunya.


"Kakak, kenapa menyerahkan senjatamu itu?" tanya Shine dengan gemas. Seharusnya mereka langsung saja melancarkan baku tembak.


Para penjahat itu matanya langsung berbinar saat melihat senjata milik Angkasa yang diserahkan kepada mereka. Ketiganya tahu kalau senjata milik putra sulung Alex itu bukan senjata biasa. Maka dengan cepat mereka pun merebut benda yang berbentuk unik itu. Senyum kemenangan terlihat jelas dari wajah ketiga orang yang sangat menyebalkan di mata Shine.


'Kalian pikir akan bisa mengalahkan kami dengan senjata milik Kak Angkasa.' (Shine)


Tanpa ketiganya sadari saat ini Langit sedang mengincar mereka dari dalam rumah. Angkat telepon sengaja menggerakkan badannya dan Shine tiga langkah ke arah kanan.

__ADS_1


Dalam hitungan detik ketiga orang itu pun jatuh tidak berdaya seperti temannya tadi. Langit berhasil menemukan peluru bius kepala ketiganya, sehingga tidak perlu terjadi baku tembak di sana.


Angkasa pun mengambil kembali senjata miliknya. Dia juga memeriksa penjahat itu satu persatu dan ketiganya berada dalam pengaruh obat bius.


"Sebaiknya kita ikat mereka semua dan langsung dibawa ke markas keamanan yang ada di kota ini," titah Angkasa.


DUAR! DUAR!


Mobil milik polisi palsu yang berjumlah dua unit itu tiba-tiba meledak. Tentu saja hal ini membuat Angkasa dan Shine sangat terkejut. Keduanya pun langsung menunduk dan mencoba melindungi diri dari serangan musuh yang tidak terlihat.


"Serangan itu datangnya dari mana?" tanya Shine.


"Mana aku tahu," jawab Angkasa.


"Langit apa kamu tahu dari mana arah serangan barusan?" tanya Angkasa lewat earphone.


^^^"Aku saran kalian segera kembali ke dalam rumah atau langsung mengendarai mobil kalian dan masuk ke dalam hutan."^^^


"Apa penjahat ini sniper yang sangat hebat?"


^^^"Aku rasa dia Daniel. Berhati-hatilah!^^^


"Shine, kita pergi dengan mobil dan masuk ke dalam hutan!" perintah Angkasa kepada adiknya.


***


Apa yang akan terjadi pada Shine dan Angkasa selanjutnya? Tunggu, kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2