
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 78
Mobil yang membawa Shine sekarang melaju dengan cepat menuju ke suatu tempat yang asing. Laki-laki itu hanya diam sambil memperhatikan sopir yang sedang mengemudikan stir. Di belakang ada dua mobil yang mengikuti mereka.
^^^"Rencana diubah. Bahwa Shine ke tempat yang diminta oleh Tuan David. Dia ingin bertemu dengannya terlebih dahulu."^^^
"Baiklah," jawab sopir itu.
Mata laki-laki itu terlihat sangat gelap. Dia dan Shine saling beradu tatap lewat kaca spion tengah.
'Apa-apaan orang ini? Menatap aku terus, aku merasa tidak tertarik sedikitpun padanya. Belum lagi bola matanya sangat gelap sekali.'
'Ternyata hanya Amira saja yang mampu menggetarkan hatiku melalui tatapan mata. Amira … semoga saja dia baik-baik saja.'
Shine melihat ke luar jendela kaca mobil. Pemandangan di sana hanya hutan rimbun dan sepi. Tidak ada tiang-tiang lampu yang biasa ada di samping kanan dan kiri jalan.
'Ini daerah mana kenapa aku tidak mengenalinya?'
'Semoga saja otak cerdas kak Angkasa bisa membaca situasi aku saat ini.' (Shine)
Tiba-tiba saja terdengar suara yang sangat keras. Kedua mobil di belakang itu kini telah hancur di brondong oleh peluru.
"Si_al!" umpat si sopir.
'Apakah ini bantuan untukku?' tanya Shine dalam hatinya sambil melihat keadaan di belakang lewat kaca spion tengah.
Sopir itu pun langsung mengarahkan pistol ke arah Shine. Namun, terlebih dahulu ada sebutir peluru yang menembus kaca depan mobil dan mengenai kepala si sopir.
Shine pun menahan rem tangan mobil agar tidak menuju terus. Dia pun maju ke depan dan mematikan mesin mobil.
__ADS_1
"Huuufh, hampir saja," gumam Shine merasa lega.
Dia pun melihat ke depan, ternyata ada Angkasa sedang berdiri di depan mobilnya yang menghalangi jalan. Kakaknya itu memegang pistol yang masih mengarah kepadanya.
"Kakak ini aku! Penjahatnya sudah mati!" teriak Shine sambil mengeluarkan kepalanya melalui jendela samping.
Shine pun turun dari mobil itu dan berlari ke arah sang kakak. Dia merasa senang karena saudara laki-laki tertua itu bisa menyelamatkan dirinya.
"Kamu ini bodoh! Kenapa bisa sampai jatuh ke tangan musuh seperti ini. Lihatlah, gara-gara perbuatan kamu, teman-teman kita mati sia-sia." Angkasa sangat marah kepada Shine.
Angkasa adalah tipe orang yang tidak banyak bicara, tetapi banyak bekerja. Sekali saja dia marah, orang-orang di sekitarnya selalu merasa ketakutan. Aura dia begitu sangat mencekam dan saat ini itu juga yang dirasakan oleh Shine.
"Maafkan aku, Kak. Aku sangat bodoh sampai tidak memikirkan hal ini," ujar Shine dengar penuh rasa penyesalan.
"Ada tujuh orang teman kita yang gugur tadi. Maka kamu harus tanggung jawab terhadap keluarga mereka!" tukas Angkasa.
Shine pun menyanggupi dan itu memang resiko sebagai keluarga Andersson, terhadap keluarga anggota tim keamanan. Kita sebagai bentuk ucapan terima kasih atas pengabdian mereka.
***
"Ada apa Langit?" tanya Angkasa lewat earphone yang terpasang di telinga kanannya.
^^^"Aku berhasil menangkap sinyal dari nomor yang menghubungi anak buah David barusan."^^^
"Bagus. Kalau begitu kirimkan di mana lokasi dia berada saat ini!"
^^^"Baiklah, akan aku kirimkan sekarang."^^^
Pembicaraan Angkasa dan Langit pun terhenti. Lalu, laki-laki itu melemparkan sebuah tas kepada Shine.
"Pakai, itu seragam milikmu! Jangan sampai bayimu terakhir tanpa seorang ayah."
Hati Shine berdesir, membayangkan jika dirinya mati saat ini. Maka, anaknya akan terlahir sebagai seorang yatim. Tentu saja dia tidak mau hal itu terjadi kepada anak. Dia juga ingin membesarkan buah cinta mereka bersama dengan Amira.
__ADS_1
***
Shine dan yang lainnya pergi menuju ke tempat yang telah dikirimkan oleh Langit. Lokasi itu lumayan dekat dari tempat kejadian tadi, sekitar 20 kilometer.
Mereka menghentikan laju kendaraan beberapa meter sebelum sampai ke titik yang dikirimkan oleh Langit. Angkasa pun menerbangkan pesawat mata-mata yang berukuran kecil untuk melihat situasi markas musuh.
Terlihat ada sebuah bangunan bertingkat yang terlihat kotor dan terbengkalai seperti tidak sedang digunakan. Pesawat pengintai itu semakin mendekat ke tempat itu. Ada beberapa orang yang berjaga-jaga di sana.
"Sebaiknya kita ke sana sekarang!" titah Angkasa kepada yang lainnya.
"Baik!" sahut mereka kompak.
Shine dan Angkasa membagi mereka menjadi dua tim. Masing-masing terdiri dari lima orang. Shine dan timnya menyusup lewat pintu belakang. Sementara itu, Angkasa dan timnya masuk lewat depan.
Tim Shine berjalan mengendap-ngendap lewat semak belukar. Bangunan itu memiliki pintu di bagian belakang bangunan. Terlihat ada dua orang anak buah David yang sedang berjalan ke arah sana. Lalu, salah satu anggota tim keamanan langsung menembak mereka dengan menggunakan pistol yang sudah memakai peredam suara.
Kedua musuh mereka pun langsung mati, karena peluru tepat mengenai kepala. Mereka juga tidak sempat melakukan tembakan balasan.
"Sembunyikan dulu mayat mereka agar tidak diketahui oleh yang lainnya," bisik Shine pada yang lainnya.
Ada dua orang di antara mereka keluar dari persembunyian dan menarik dua mayat itu. Lalu, mereka menyembunyikannya di balik semak-semak belukar.
Selanjutnya mereka berjalan mendekati arah pintu dengan berlari sambil membungkuk. Shine dan timnya pun berhasil masuk ke dalam bangunan itu. Ruangan itu sangat gelap dan juga lembab. Juga tercium bau jamur dan banyak tumbuhan merambat di dekat jendelanya.
DOR! DOR!
"Ada musuh! Ada musuh yang datang!" teriak seseorang terdengar sayup-sayup oleh mereka.
"Tangkap mereka!" perintah seseorang yang mempunyai suara yang berat.
"Tangkap mereka semua!" kembali terdengar orang lain berteriak.
"Apa Tuan Angkasa ketahuan?" tanya salah seorang tim keamanan kepada Angkasa.
__ADS_1
***
Apakah Angkasa dan yang lainnya ketahuan oleh musuh? Bagaimana kelanjutan penyusupan mereka? Tunggu kelanjutannya, ya!