CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 34. Shine Tersadar


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 34


Cantika tersenyum tipis. Dia tahu kalau Amira sudah menaruh hati pada putranya kini. Gadis itu pun sudah terlihat jelas kalau dia sedang menanti kebersamaan mereka lagi.


"Jika, Shine sadar hari ini, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Cantika sambil menatap ke arah perempuan yang ada di depannya.


Ditanya seperti ini membuat Amira gelagapan. Dia ingin melihat senyum tampan dari laki-laki narsis yang sudah mengganggu ketenangan hatinya. Dia juga merindukan suara rayuan maut yang sering membuat jantungnya berdebar-debar. Kerlingan mata yang jahil dan menggoda yang selalu membuatnya tersenyum malu-malu. Dia merindukan itu semua. Jadinya, pasti dia ingin sang pemuda itu melakukan hal yang biasa dilakukan kepadanya. Egois memang, tetapi apa boleh buat karena dia sudah terlanjut dibuat rindu oleh laki-laki yang sedang berbaring ini.


"I-tu ... saya akan menjawab la-lamaran-nya, yang dahulu yang pernah dia ajukan sebelum kembali ke sini," jawab Amira tergagap karena merasa malu sekali.


Cantika tersenyum sambil melirik ke arah putranya. Dia tahu kalau Shine bisa mendengar pembicaraan mereka. Seringnya dia mengurus dan menjaga pasien yang koma, dia jadi tahu kalau ada juga orang yang masih berada diambang antara sadar dan tidak sadar. Perempuan yang masih terlihat cantik dan muda dari usia aslinya itu merasa kalau Shine termasuk orang yang koma, tetapi masih bisa mendengar suara di sekitarnya.


"Ayo, buka mata kamu, Shine. Amira akan menjawab lamaran kamu, dulu." Cantika menggenggam tangan putranya.


Dia merasakan kalau jemari tangan Shine memberikan respon. Cantik senang kalau putranya itu sudah ada kemajuan.


Tidak lama kemudian datang Sky dan Langit. Dua laki-laki yang berwajah hampir sama, tetapi salah satunya lebih dewasa. Mereka mencium tangan Cantika dan memeluknya.


"Bagaimana keadaan Shine, Ma?" tanya Langit sambil menatap ke arah adiknya.

__ADS_1


"Dia itu anak yang kuat, pasti akan segera sadar," jawab Cantika yang kini sedang di rangkul oleh Sky.


"Malu, ada orang lain," ucap Langit sambil menepuk bahu adiknya.


"Nggak apa-apa. Amira sudah tahu kalau aku ini sayang banget sama Mama. Iya, 'kan?" Sky menatap ke arah Amira.


Amira sudah tahu tentang sifat Shine dan Sky yang selalu posesif terhadap ibunya. Bahkan mereka cenderung ke mother complax. Membuat mereka sering berebutan perhatian dari sang mama.


Gadis itu hanya mengangguk. Dia melirik sekilas ke arah Langit yang kini sedang mengacak-acak rambut Sky karena gemas. Dia tidak mengira kalau kembaran Angkasa itu punya sifat yang berbeda dengan si sulung.


"Sudah, sudah! Malu sama Amira. Kalian ini sudah besar, tapi kelakuan masih kayak bocah kecil," ujar Cantika yang kini dipeluk oleh kedua putranya.


"Mumpung lagi nggak ada papa," balas Langit.


Cantika hanya tersenyum sambil menepuk pelan kepala kedua putranya itu. Dia merasa bahagia saat bisa berkumpul bersama keluarganya.


***


Hari sudah menjelang sore, tetapi Shine belum juga membuka matanya. Terbesit kejahilan dari Sky. Dia membisikan sesuatu ke telinga kembarannya itu.


"Shine, kalau kamu belum bangun juga. Aku akan bawa Amira ke pelaminan. Kita sama-sama bebas tidak dalam ikatan dengan orang lain. Lumayan kalau aku menikah akan ada teman tidur. Amira juga bisa membantu aku untuk mengurus perusahaan. Yang pasti aku akan membuat dia mengandung calon penerus," bisik Sky dengan sangat meyakinkan.


"Coba saja kamu berani melakukan hal itu. Akan aku potong senjata kebanggaan kamu itu. Sehingga tidak punya alat untuk bertempur nanti," balas Shine dengan penuh ancaman.

__ADS_1


Sky membelalakkan matanya. Mulut dia menganga tidak percaya. Niat jahilnya itu ternyata berhasil membuat saudara sesusuan itu langsung tersadar.


"Masya Allah, Mama ... Shine sudah sadar! Bahkan sudah bisa mengancam aku," pekik Sky pada Cantika yang baru saja menyelesaikan sholat Ashar.


"Ada apa Sky?" tanya Cantika tergopoh-gopoh menghampiri putranya.


"Alhamdulillah. Ya Allah, terima kasih sudah membuat putra hamba bisa sadar akhirnya," ucap Cantika dengan berlinang air mata kebahagiaan.


Cantika mencium kening Shine dengan lembut takut membuatnya sakit karena mendapat tekanan dari bibirnya. Ibu dari enam anak itu kini mengusap lembut ujung rahang putranya.


"Shine, mama tahu kalau kamu itu orang kuat dan pastinya bisa menahan rasa sakit ini," ucap Cantika dengan suara yang bergetar karena menangis bahagia.


Shine juga meneteskan air mata saat melihat wanita yang sudah mengandungnya itu bahagia atas kesadarannya ini. Dia juga merasa rindu pada semua keluarganya.


Pintu kamar rawat terbuka, Amira dan Langit beserta istrinya datang ke sana, setelah mereka mencari restoran untuk makan mereka. Gadis itu mematung saat matanya menangkap pergerakan dari pemuda yang sejak kemari ditunggu-tunggu kesadarannya. Kini tatapan mereka bersirobok satu sama lain.


"Shine," lirih Amira dengan mata yang kini sudah berair kembali.


'Amira.' Shine merasa sangat senang saat melihat sosok perempuan yang selama ini dirindukannya.


***


Apa yang akan terjadi pada Shine dan Amira? Tunggu kelanjutannya, ya!

__ADS_1


__ADS_2