CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 100. Tinggal Di Rumah Abah


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 100


Shine dan Amira kini sudah datang ke Indonesia. Mereka memutuskan untuk tinggal di desa bersama dengan Kiai Samsul dan Ummu Habibah. Kedatangan mereka disambut dengan hangat dan penuh suka cita.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian tiba ke sini dengan selamat," ucap Kiai Samsul.


Ummu Habibah memeluk putrinya dengan berderai air mata. Dia ikut merasa sedih saat mendengar ceritanya telah tiada karena terkena tembakan.


"Nak, Ummu sangat senang melihat kamu sekarang sudah bisa tersenyum dan ikhlas melepas kepergian putri kalian," kata wanita tua renta itu dengan tatapan mata yang sayu.


"Insha Allah, Ummu. Suatu saat nanti semoga Allah akan memberikan lagi kepercayaannya kepada kami berdua," balas Amira.


Shine senang saat melihat cahaya di mata istrinya sudah kembali bersinar. Ketika perempuan itu bermanja-manja kepada kedua orang tuanya. Dia lebih suka melihat Amira yang seperti ini, dibandingkan dia yang selalu bersikap mandiri seakan tidak memerlukan bantuan orang lain.


"Sayang, mau aku buatkan teh atau air putih?" tanya Amira kepada Shine.


"Air putih saja, Honey," jawab Shine dengan senyum menawannya. 


Para gadis yang ada di sana akan ketampanan Shine. Mereka adalah sepupu dari keluarga dan tetangga yang sering datang ke rumah Kiai Samsul. Baik itu untuk mengaji atau mendengarkan nasehat dan ceramah.


"Suaminya Teh Amira, ganteng," bisik salah seorang gadis bergamis pink.


"Bule lagi," balas yang lainnya.


"Tapi, bisa bahasa Indonesia, ya?" sahut yang lain.


"Pastinya belajar dulu sama Teh Amira," ucap si gadis bergamis pink tadi.

__ADS_1


Mendengar ucapan para gadis itu membuat Amira cemburu. Perempuan itu tahu kalau Shine itu tampan meski agak dingin sama orang yang tidak dikenal atau tidak dekat dengan dirinya. Dia juga tipe laki-laki yang selalu cuek pada wanita yang mengejar-ngejar dirinya. Bahkan jika dia menghadiri pesta atau pertemuan yang dihadiri banyak wanita seksi, paling cuma menyapa tuan rumah, setelah itu pulang atau mengajak jalan-jalan Amira.


"Sayang, ini minumannya." Amira menyerahkan gelas berisi air dingin.


"Terima kasih, Honey." Setelah mengucapkan 'bismillah' air itu langsung habis di minum olehnya.


"Alhamdulillah, segar, Honey." 


Amira sering memperlihatkan kemesraan dirinya bersama sang suami ketika di rumah Kiai Samsul. Jika sedang di luar rumah mereka paling bergandengan tangan. Mana bisa Shine main sosor seenaknya.


Hari pertama mereka tinggal di desa, Shine pergi ke ladang bersama anak-anak tahfidz. Mereka mencari sayur mayur yang ditanam oleh Kiai Samsul dan pekerjaan dahulu. Bahkan Rain dan Raihan dan Mega juga ikut membantu saat itu.


Shine memetik banyak daun singkong, ambil nangka muda, dan tanaman rempah-rempah untuk bumbu. Kegiatan seperti ini bukan pertama kali bagi Shine. Saat kecil, jika mereka liburan ke Indonesia, sering juga melakukan hal seperti ini. Mau di rumah Kakek Ja'far atau di pesantren keluarga Kakek Khalid. Cantika selalu menyuruh anak-anaknya berbaur dengan anak-anak yang ada di tempat itu, sehingga mereka mudah bergaul dan berkomunikasi.


"Mister bule, segini cukup nggak?" tanya seorang anak laki-laki memperlihatkan singkong yang sudah diambil dari dua batang pohon.


"Sepertinya itu cukup," balas Shine.


"Honey, apa ini sudah cukup?" tanya Shine saat membawa sekarung hasil memetiknya di kebun milik Abah.


"Cukup, Sayang," jawab Amira.


"Anak-anak mau mengajak aku ke sungai. Katanya saat ini air sedang surut dan banyak ikan. Aku ingin main juga," kata Shine meminta izin.


"Mau main?" tanya Amira.


"Eh, maksud aku mau menangkap ikan buat makan malam atau buat besok," balas Shine meralat ucapannya tadi. Padahal dia juga ingin bermain di sungai bersama anak-anak itu.


Shine pulang ke rumah dengan membawa banyak ikan dari hasil tangkapannya. Ini membuat Amira merasa heran, bagaimana cara suaminya mendapatkan banyak ikan. Anak-anak juga diajari oleh Shine cara membuat jebakan dari bambu. Tentu saja anak-anak sangat senang, dengan bermodal batang bambu yang dibuat wadah memudahkan mereka mendapat ikan yang besar, karena ikan yang kecil akan lolos dari jebakan.


Kegiatan Shine selama di sana diunggah tapi hanya keluarganya saja yang tahu, karena itu grup keluarga besar Andersson, Hakim, Green, dan Mochtar. Meski begitu semua saudara-saudaranya memberi tanggapan. Bahkan Sky, marah-marah karena dia juga ingin ikutan. Ditambah dipanasi oleh Rayyan dan Mega, membuat kembarannya itu ingin datang juga ke Indonesia.

__ADS_1


"Sayang, ada apa? Tumben tertawa sendiri sambil pegang ponsel," tanya Amira.


"Sky, marah-marah karena aku malah main terus seharian. Gitu katanya," jawab Shine sambil menunjukan isi chat di grup keluarganya.


"Aku tidak buka-buka ponsel sejak tadi," balas Amira tersenyum membaca chat Shine bersama saudara-saudaranya.


Pasangan suami istri itu berbagi cinta, sentuhan, dan peluh. Ini pertama kali mereka melakukan lagi, setelah sekian lama tidak melakukan hubungan suami istri karena Amira telah melakukan operasi dulu.


"Sayang, apa kamu senang tinggal di sini?" tanya Amira sambil memainkan tangannya di dada bidang Shine.


"Aku akan bahagia di mana pun, asal bersama dengan kamu, Honey," jawab Shine, lalu dikecupnya kening sang istri.


"Sayan, di rumah Abah ini kamar mandinya ada di luar kamar. Jadi, kita harus bergantian mandinya," kata Amira dengan pipi yang merona. Biasanya mereka selalu mandi bersama setiap hari.


"Tidak apa mandi bersama juga. Abah dan Umma, mengerti, kok! Ini juga sunah, loh. Suami istri mandi bersama," balas Shine.


"Bagaimana, jika pas kita masuk atau keluar dari kamar mandi ada saudara atau anak-anak yang datang ke sini dan melihat kita," gumam sang istri karena itu membuat malu Amira.


"Kalau begitu aku akan buat kamar mandi di kamar kita ini. Bagaimana?" tanya Shine.


"Apa? Ukuran kamar ini sudah kecil. Masa mau dikurangi lagi untuk kamar mandi," balas Amira sambil melotot.


"Terus, apa yang harus aku lakukan?" tanya Shine.


***


Bagaimana kelanjutan kisah Amira dan Shine di kampung halaman itu? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.


__ADS_1


__ADS_2