CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 11. Surat Dari Shine


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 11


Shine pulang ke Amerika dengan menggunakan pesawat pribadi milik keluarganya. Meski dengan berat hati dia harus kembali ke Amerika.


Rencana dia untuk mengajak liburan bersama keluarga Amira dan berniat melamarnya di hari terakhir liburan, harus gagal. Dikarenakan dia harus pulang ke Amerika secepatnya. Tidak ada yang bisa menggantikan dia untuk mengurus perusahaan raksasa milik keluarga Andersson. 


Meski Shine bukan anak pertama pasangan Alexander dan Cantika, tetapi dia terlahir sebagai ahli waris pertama dari keluarga Anderson. Dia juga harus bertanggung jawab penuh akan berjalannya bisnis keluarganya yang ada di Benua Amerika. Sementara itu, Sky memegang tanggung jawab bisnis keluarga Anderson di Benua Eropa. Untuk Benua Asia sudah diberikan kepada Rain yang memutuskan menjadi seorang warga negara Indonesia.


"Martin, menurutmu aku ini laki-laki yang seperti apa?" tanya Shine pada ajudan setianya sejak masih balita.


"Tentu saja Tuan adalah seorang yang pekerja keras," jawab Martin dan membuat Shine merasa senang.


"Lalu, apa lagi?" tanya Shine dengan senyum manis terukir di wajahnya.


"Tuan Shine adalah pria tampan yang mempunyai sejuta pesona," jawab laki-laki paruh baya itu dan membuat hidung Shine semakin mengembang.


"Lalu, apa lagi?"


"Tuan adalah orang yang cerdas dan pintar mencari dan memanfaatkan peluang," lanjut laki-laki yang selama ini di suruh Shine untuk mengawasi perusahaannya selama dia tinggal di Indonesia.

__ADS_1


"Apa menurut kamu … aku ini laki-laki yang tampan?" tanya Shine sambil menatap lekat pada Martin.


"Ya, Anda adalah laki-laki yang sangat tampan," jawab Martin sambil mengerutkan keningnya karena Shine bertanya sesuatu yang tidak pernah ditanyakan pada siapapun.


"Lebih tampan mana aku dan saudara-saudaraku?" tanya Shine lagi dan membuat Martin semakin mengerutkan keningnya.


"Tuan serius bertanya pertanyaan seperti ini?" Martin balik bertanya.


"Tentu saja," ujar Shine.


"Aku bingung mau jawab apa. Karena rupa Anda dan saudara-saudara yang lain bukannya serupa. Kalian semua mirip Tuan Besar Alex. Kecuali Tuan Rain yang memiliki wajah cenderung mirip pada Nyonya Cantika," balas Martin.


Shine terdiam dan membenarkan ucapan Martin, kalau dia punya wajah pasaran yang mirip papa dan ketiga saudara laki-laki lainnya.


"Tapi, meski begitu aku lebih unggul dari mereka. Walau wajah kami mirip, tapi akulah yang paling tampan di antara semuanya. Aku adalah seorang ahli waris nomor satu di keluarga Andersson. Tentunya harta aku akan lebih banyak … ralat, ralat, ralat bagian ini. Nyatanya jika kekayaan ditotalkan, milik Kak Langit akan lebih banyak. Kenapa sih, aku punya kakak-kakak (Trio Kancil) yang mengerikan semua." Shine baru sadar akan kenyataan ini.


"Bukannya nanti harta milik Tuan Alex akan dibagikan rata pada Anda dan Tuan Sky?" tanya Martin.


"Ya, benar. Tapi Kak Angkasa dan Kak Langit punya kekayaan dari hasil usahanya sendiri. Sudahlah, kalau dilihat dari kekayaan juga masih ada yang bisa menyaingi." Shine menjadi menciut.


Martin merasa tuannya ini berubah sejak tinggal di Indonesia. Shine terlihat semakin cerewet dan merasa kepercayaan dirinya sedang goyah karena membandingkan dirinya dengan saudara-saudara yang lainnya. Dia tidak tahu kalau Shine sedang terjangkit virus cinta.


***

__ADS_1


Amira memandangi paper bag yang tadi diberikan oleh Sky. Lalu, dia membukanya dengan tangan yang bergetar, karena teringat akan ucapan Sky tadi kepadanya. Paper bag itu berisi sebuah kotak dan surat. Amira membaca suratnya terlebih dahulu, sebelum dia membuka kotak yang berukuran sedang itu.


Teruntuk Calon Bidadariku di dunia,


Sebenarnya aku ingin mengatakan ini secara langsung. Bukan melalui sepucuk surat seperti ini, tapi apa boleh buat karena sudah tidak ada waktu lagi bagiku untuk menemuimu. Jujur saja aku sangat menyukaimu. Awalnya aku tidak merasa seperti ini. Namun, seiring berjalannya waktu perasaan itu mulai tumbuh. Jika kamu memiliki perasaan yang sama denganku, maka aku akan sangat senang sekali. Dulu kamu pernah bilang ingin memiliki sebuah tempat makan yang bisa membuat napsu makan kamu meningkat. Aku berikan tempat makan yang memakai wajah tampan milikku. Semoga dengan melihat wajah aku yang tampan tiada bandingannya ini, membuat kamu selalu lapar dan ingin makan.


Amira tertawa saat membaca surat itu. Dia tahu kalau Shine adalah laki-laki yang selalu punya rasa percaya diri yang ekstrim menurutnya bahkan masuk ke kategori narsis meski dia tidak menganggap rendah atau menghina orang lain. Dia pun melanjutkan lagi membaca surat itu.


Aku harap kamu bisa menjaga diri, aku tidak tahu apa kita bisa bertemu kembali bertemu atau tidak. Jika, kita ditakdirkan untuk menjadi pasangan yang tercipta saling melengkapi, maka kita akan bertemu lagi. Namun, bila kita tidak berjodoh, aku harap kamu bisa hidup bahagia. Tersenyumlah, jangan terlalu bersedih dengan kisah masa lalu. Masa depan yang cerah dan bahagia sedang menanti kamu. Sepertinya ini sudah waktunya aku berangkat. Jaga diri kamu baik-baik, ya.


Dari Pangeran yang akan menjadikan kamu seorang Bidadari.


Amira melipat surat itu dengan perasaan campur aduk. Selama ini dia mengira kalau Shine adalah orang yang sangat menyebalkan dan sering membuatnya kesusahan. Dia tidak menyangka kalau laki-laki itu punya perasaan spesial untuk dirinya. Amira menjadi galau akan perasaannya saat ini.


"Apa aku punya perasaan lain kepadanya juga?" gumam Amira.


"Tapi, nggak ada yang bisa membuat aku jatuh cinta padanya," lanjut Amira.


***


Apakah dalam hati Amira sudah muncul tanda-tanda perasaan cinta untuk Shine? Tunggu kelanjutannya, ya!


 

__ADS_1


__ADS_2