CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 43. Lelaki Di Atas Kursi Roda


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ๐ŸŒŸ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 43


"Amira, apa kamu merasa bahagia menikah dengan Shine?" tanya Sky tiba-tiba.


"Tentu saja aku merasa bahagia," jawab Amira dengan suara lembutnya.


Shine merasa senang mendengar jawaban istrinya tersebut. Dia tahu kalau hati Amira telah memilihnya.


Sky pun tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya. Dia merasa senang atas jawaban Amira tersebut. Pemuda itu takut kalau Shine hanya jadikan pelarian saja oleh Amira, karena tidak mendapatkan Rain.


"Syukurlah kalau begitu. Aku doakan semoga kalian bahagia selalu sampai maut memisahkan," ucap Sky.


"Aamiin," balas Shine dan Amira bersamaan.


Amira pun kembali duduk di samping suaminya. Dia masih malu dengan perbuatan mereka tadi.


"Kenapa?" tanya Shine dengan lembut.


"Malu," jawab Amira dengan mata yang berkaca-kaca.


Bukannya merasa kasihan, Shine malah tersenyum lebar pada istrinya ini. Lalu, dia mengusap kepala Amira.


"Yuk, tidur!" ajak Shine sambil menepuk tempat tidurnya.


Amira menggelengkan kepala karena merasa malu, ada Sky di sana. Dia memilih tidur sampai duduk saja.


Tentu saja Shine tidak menerima penolakan. Dia langsung menarik tangan istrinya itu, agar ikut naik ke tempat tidur. Meski awalnya Amira tidak mau, akhirnya dia terpaksa melakukannya.

__ADS_1


"Abaikan saja keberadaan Sky itu. Anggap saja dia boneka atau patung yang dipajang di sana," kata Shine siapa yang menarik selimutnya untuk menutup tubuh sang istri.


Meski begitu, tetap saja Amira merasa tidak senang dan tenang. Rasa malu masih menguasai dirinya. Dia paling tidak suka kalau ada yang memperhatikan dirinya di saat melakukan hal yang dianggap privasi.


'Bagaimanapun juga aku tidak bisa menganggap keberadaannya itu sebagai patung.' (Amira)


"Tidurlah! Ini sudah larut malam," perintah Shine sambil mengusap kepala Amira.


"Aku tidak bisa tidur," balas Amira dengan suaranya yang sangat pelan.


"Kenapa?" tanya Shine yang saat ini sedang menatap wajah sang istri.


Amira membuka matanya dan melirik ke arah Shine. Lalu, dia berkat, "Entahlah. Aku tidak bisa tidur, mungkin karena tidak mengantuk."


"Sini aku peluk. Biar kamu cepat tidur," ucap Shine sambil merangkulkan tangannya pada tubuh perempuan yang baru sah menjadi istrinya hari ini.


Jantung Amira berdebar dengan sangat kencang. Malam ini adalah malam pertama kalinya mereka setelah sah menjadi pasangan suami istri. Untuk pertama kalinya juga dia tidur bersama Shine dalam satu ranjang. Bahkan ukuran tempat tidurnya sangat kecil.


"Tetap saja aku tidak bisa tidur," tukas Amira.


"Tidak tahu," jawab Amira dengan mata berkaca-kaca.


Melihat wajah Amira yang sendu membuat Shine merasa bersalah. Dia tidak maksud memarahi istrinya ini. Hanya saja yang dia ingin adalah perempuan ini bisa tidur dengan secepatnya.


"Kenapa?" tanya Sky yang sejak tadi sibuk dengan laptopnya.


"Gara-gara ada kamu, Amira tidak bisa tidur," jawab Shine.


Dituduh seperti itu oleh kembarannya membuat Sky merasa kesal. Dia sendiri merasa tidak melakukan apa-apa atau mengganggu kegiatan mereka.


Sky tidak sadar kalau keberadaan di sana itu mengganggu Amira. Perempuan itu merasa tidak nyaman, jika malam-malam ada laki-laki lain. Apalagi dia berada di tempat privasi dengan status sebagai ipar. Banyak hubungan pasangan suami istri rusak gara-gara ipar. Meski Amira tahu Sky bukan tipe orang yang seperti itu.

__ADS_1


Meski hari sudah hampir tengah malam ketiga orang itu belum juga tidur. Akhirnya, mereka malah bermain Ludo. Shine dan Amira duduk bersisian, sedangkan Sky duduk di depan mereka.


"Aku menang!" teriak Amira dengan girang.


Shine dan Sky hanya tersenyum tipis. Mereka sengaja mengalah agar membuat Amira senang. Mungkin dengan perasaan yang senang nanti gadis itu mudah tertidur.


Ketiga orang itu bermain Ludo sampai pukul 01.00 dini hari. Amira jatuh tertidur di bahu suaminya.


"Dia sudah tidur," bisik Sky.


"Iya," balas Shine.


"Apa aku gotong ke atas tempat tidur?" tanya Sky.


Shine melotot pada saudara kembarnya itu. Dia tidak mau ada yang menyentuh tubuh istrinya. Hanya dia yang berhak untuk melakukan hal itu.


Akhirnya Amira dan Shine tidur di sofa sambil berpelukan. Sementara itu Sky tidur di tempat tidur. Posisi mereka tertukar, pasien dan si penunggu.


***


Terlihat seorang laki-laki yang tangannya keriput memegang dua buah foto. Dia pun melemparkan keduanya pada perapian yang ada di sampingnya.


"Tunggu saja kehancuran keluarga kalian!" Suara serak dan berat itu terkekeh memenuhi ruangan itu.


Ada dua orang laki-laki berdiri tidak jauh dari pintu ruangan itu. Mereka selalu siap siaga dalam menjaga tuannya.


"David, siapkan senjata khusus untuk putra mahkota Anderssonโ€”Shine!" perintahnya pada seorang yang duduk di depannya.


"Senjata itu sudah siap, Tuan. Kapan pun Anda ingin menggunakannya," balas laki-laki bernama David.


"Bagus." Seorang laki-laki tua yang memakai kursi roda itu menyeringai lebar.

__ADS_1


***


Siapakah Laki-laki tua yang ada di atas kursi roda itu? Apa latar belakang yang membuatnya ingin menghancurkan keluarga Andersson? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2