
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 103
Shine dan Amira mendatangi rumah yang biasa ditinggali oleh keluarga Alex saat datang ke Indonesia. Ternyata di sana sudah ada kedua orang tuanya dan juga Rain. Jadinya mereka tinggal bersama apalagi Bintang juga ikut karena di rumah tidak ada anak-anaknya.
"Kamu sibuk sekali," kata Shine kepada Rain ketika melihat adiknya sedang sibuk dengan laptop dan juga handphonenya.
"Aku menangkap ada transaksi yang digunakan oleh Rania di Amerika. Setelah aku telusuri waktunya sama dengan saat aku datang ke sana untuk menjenguk Kak Amira," balas Rain.
Otomatis dalam hati Shine membenarkan hal itu. Kalau di waktu yang bersamaan dulu mereka datang ke Amerika. Hanya saja dia dan saudara-saudara yang lainnya masih suka menjahili adik kecilnya ini. Inilah akibatnya kalau membuat si kembar, Raihan dan Raihan marah.
"Benarkah itu? Kenapa kamu baru tahu?" tanya Shine.
"Saat itu aku sedang sibuk mengurus perusahaan yang kamu lemparkan tanggung jawabnya kepada aku, selama satu bulan saat tinggal di Amerika," jawab sang adik.
Shine membenarkan hal itu, dulu saat Amira sakit perusahaan dipegang oleh Sky dan Rain. Meski dirinya juga sesekali memeriksa hasil kerja kedua adiknya.
"Mungkin belum jodoh kalian untuk bertemu saat itu. Sudahlah, cukup doakan saja kebaikan untuk Rania. Dengan begitu dia akan selalu berada dalam lindungan Allah. Bukannya lebih baik seperti itu?" Shine berkata seakan dirinya juga bisa kuat dan bertahan jika jauh dari Amira.
Amira dan Cantika yang mendengar pembicaraan antara Shine dan Rain, menahan tawarnya. Sebab, keduanya tahu kalau Shine juga pasti tidak akan bisa bertahan jauh dari sang istri.
Selama 3 hari Shine dan Amira tinggal bersama keluarga Alex di rumah itu. Suasana rumah itu sangat ramai, apalagi keluarga besar Cantika semua datang. Untung saja rumah itu berukuran sangat besar dan luas. Belum lagi rumah Erlangga ada di depannya, jadi meski semua keluarga dari pihak Cantika berkumpul masih dapat tertampung. Keluarga Mochtar dan keluarga Lazuardi berkumpul dan melepas rasa rindu atau temu kangen satu sama lain.
"Katanya kamu besok mau pergi ke Jogjakarta, ya?" tanya Rayyan kepada Shine.
"Iya, tapi kamu jangan keras-keras bicaranya nanti kedengaran oleh Rain," bisik Shine.
"Oops, lupa. Memangnya kamu ke sana mau apa?" tanya Rayyan kali ini dengan suaranya yang pelan.
Shine menceritakan apa yang sudah direncanakan bersama istrinya. Setidaknya dia ingin membuat Amira bahagia untuk menghapus luka di hatinya.
__ADS_1
***
Akhirnya Shine dan Amira pergi ke Jogjakarta untuk menemui Rania. Sang adik ipar ternyata tinggal di apartemen yang cukup luas, jadi keduanya memutuskan untuk ikut tinggal di sana. Ditambah Amira juga tidak mau pergi jauh dari Rania.
"Sayang, malam ini aku tidur bersama Rania, ya?" Rayu Amira kepada suaminya.
"Lalu aku tidur dulu sama siapa?" balas Shine.
Amira memasang wajah cemberut, karena sang suami tidak memberikan izin untuk tidur bersama dengan adik iparnya ini. Namun, setelah melakukan negosiasi yang cukup panjang, akhirnya Shine mengizinkan. Tentu saja dengan imbalan yang setimbang.
"Rania, apa yang inginkan saat ini?" tanya Amira.
"Kak Rain," jawab Rania langsung tanpa jeda.
Amira tahu maksud perempuan ini. Pasti dia sangat merindukan sosok sang suami yang dicintainya.
"Tapi, Rain masih berada dalam hukuman dari kedua kakakmu," gumam Amira dengan penuh rasa simpati.
Rania menceritakan betapa sulitnya menahan perasaan Rindu kepada orang yang dicintai. Kadang dia pergi secara diam-diam ke rumah orang tuanya, jika Rain sedang menginap di sana.
Kedua wanita itu saling berbagi kisah saat kehilangan buah cinta mereka. Betapa berarti mendukung dan perhatian dari orang-orang yang dicintai, di saat mereka dalam keadaan terpuruk.
"Lalu, kapan hukuman Rain habis?" tanya Amira setelah hampir 2 jam mereka saling curhat.
"Katanya sampai aku selesai kuliah. Aku tidak tahu, apakah sanggup atau tidak," jawab Rania.
Amira merasa bersalah, karena gara-gara keluarga dialah Rania kehilangan bayinya dan Rain yang menjadi kambing hitam, untuk menebus kesalahannya itu.
"Maafkan aku … maafkan keluarga aku, Rania."
"Kak Amira jangan terus menyalahkan diri sendiri. Semua itu sudah takdir, baik aku ataupun Kak Rain, sudah ikhlas. Mungkin saat ini waktunya belum tepat. Insha Allah jika sudah waktunya, Allah akan memberikan gantinya lagi. Aku percaya itu," balas Rania sambil memeluk tubuh Amira.
***
__ADS_1
Kebutuhan Rania sedang liburan semester, jadinya dia berkeliling kota Jogjakarta bersama dengan Amira dan Shine. Mengunjungi beberapa tempat wisata, museum, keraton, dan juga tempat wisata kuliner.
"Apa kau senang, Honey," bisik Shine saat mereka jalan-jalan di kawasan Malioboro.
"Iya. Entah kenapa hatiku sangat senang dan beban dari tubuh merasa hilang," balas Amira.
"Syukurlah kalau begitu. Sekarang sudah tidak ada lagi yang menjadi beban pikiran dan hatimu," lanjut Shine sambil mempererat rangkulannya.
"Iya. Aku merasa ringan dan tidak salah datang ke kota ini untuk menemui Rania," lirih Amira dengan arah pandangan pada langit malam yang bertabur bintang tanpa adanya bulan.
"Rasa bersalah dalam dirimu kepada Rania yang membuat kamu seperti itu. Sekarang kamu sudah bisa memaafkan dirimu sendiri dan Rania juga tidak pernah menyalahkan dirimu," ucap laki-laki berwajah bule.
"Ya, kamu benar, Sayang. Rasa bersalah dalam diriku ini yang membuat aku terasa berada di dalam penjara." Air mata Amira lolos dari mata indahnya.
Rania berjalan di depan keduanya. Dia tidak mau mengganggu keromantisan pasangan suami istri itu.
"Kak Shine!"
Terdengar suara yang familiar bagi ketiganya dari arah belakang. Begitu mereka membalikan badan ternyata ada seseorang yang mereka kenali.
"Rain, sedang apa kamu di sini?" tanya Shine.
Hal yang tak terduga adalah kehadiran Rain di kota itu. Rania hampir saja ketahuan jika tidak dihalangi oleh tubuh Shine dan Amira cepat-cepat menyuruh Rania untuk bersembunyi.
Kakak beradik itu saling berbincang beberapa saat. Untungnya Rain pengertian tidak mau mengganggu acara pasangan itu, sehingga dia pun undur diri dan pergi dari sana.
"Untung saja Rain tidak melihat Rania. Bisa gawat kalau ketahuan. Nanti Raihan dan Rayyan akan mencak-mencak dan mengacak-acak perusaahan aku," ujar Shine horor dan Amira hanya tersenyum tipis di balik cadarnya.
***
Beban di hati dan pikiran Amira yang selama ini menghantuinya, kini telah hilang. Apakah dia akan benar-benar mendapatkan kebahagiaan sejati bersama dengan Shine? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.
__ADS_1