
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 102
Amira pun melangkah ke teras warung milik Mbok Mirah. Ibu-Ibu tadi yang menggosipkan suaminya kini mendadak diam. Satu hal yang paling tidak sukai oleh Amira. Dia lebih suka pada orang yang berkata jujur dan bertanya langsung padanya, jika ada sesuatu. Bukan berani bicara di belakangnya.
"Mbok, saya mau beli terasi sama kerupuk," ucap Amira.
"Mau masak apa, Teh?" tanya Mbok Mirah.
"Mau membuat sambal terasi karena suamiku tadi pergi ke ladang dan mengambil beberapa pucuk daun singkong. Katanya ingin makan lalapan dan ikan goreng yang dia tangkap dari sungai," jawab Amira.
Ibu-Ibu itu saling memandang dan memberi isyarat lewat tatapan mata dan gerak alis. Sebenarnya mereka penasaran dengan gosip yang sedang berada di kampung, tetapi tidak berani menanyakannya langsung kepada Amira.
"Oh, orang bule juga suka sambal terasi, ya?" tanya salah seorang wanita yang memakai baju daster motif bunga.
"Meski dia orang bule, tetapi suka makan masakan Indonesia," jawab Amira.
Lagi-lagi para wanita paruh baya itu terkejut mendengar perkataan dari putri Kiai Samsul. Sebab, setahu mereka lidah orang bule itu tidak suka memakan makanan yang banyak memakai bumbu.
"Teh Amira, memang suaminya tidak kerja?" tanya wanita lainnya.
"Suamiku kerjanya, ya, gitu. Jika ada pekerjaan, dia akan bekerja. Jika tidak ada, ya, dia mengajar anak-anak tahfidz," jawab Amira.
Untuk kesekian kalinya para wanita itu terkejut. Mereka mengira kalau suaminya Amira tidak pandai mengaji.
"Mari Ibu-Ibu, saya pulang dulu. Karena sebentar lagi suami kembali dari masjid bersama dengan Abah," pamit Amira.
Setelah kepergian Amira, Mbok Mirah pun langsung mengomeli mereka semua. Sebab, menurutnya, orang-orang itu sudah berpikiran buruk terhadap Shine. Bahkan sudah memfitnahnya yang bukan-bukan.
__ADS_1
"Lain kali jangan langsung dipercaya setiap ada berita. Apalagi yang belum tentu kebenarannya, jika kita tidak menyaksikannya sendiri," omel Mbok Mirah dan membuat para wanita yang sedang berbelanja di warungnya terdiam.
***
Sepanjang perjalanan Amira terus beristighfar dan meminta perlindungan kepada Allah. Agar dirinya dan suaminya terlindung dari segala fitnah.
"Ya Allah aku tahu apa yang nampak atau yang tersembunyi dari diri semua makhluk ciptaan-Mu. Lindungilah aku dan suamiku dari fitnah yang sudah mereka sebarkan," gumam Amira.
Kiai Samsul makan bersama dengan menantu dan juga semua anak-anak tahfidz yang tinggal di asrama bergabung di ruang depan rumah. Sementara itu, Amira dengan Ummu Habibah makan di dapur. Tentu saja dengan menu yang sama, yaitu lalapan, sambal, dan goreng ikan. Meski hanya menu sederhana seperti itu, tetapi makan itu terasa sangat nikmat bagi mereka.
"Setelah ini siapa yang mau belajar bahasa Inggris?" tanya Shine kepada anak-anak tahfidz.
"Apa nanti akan ada hafalan juga?" tanya salah seorang anak.
Mendengar itu Abah dan Shine pun tertawa lepas. Sebab, anak-anak akan merasa lelah, jika terlalu banyak yang harus dihafal.
"Tentu saja tidak. Kita hanya berbicara dengan bahasa Inggris. Ya, kalau mau juga tidak perlu dihafal asal sering diucapkan dan digunakan sehari-hari, maka kita akan cepat bisa," jawab Shine.
Shine mengajak anak-anak belajar di bawah pohon. Dia mengajari percakapan sehari-hari yang biasanya sering digunakan secara umum. Tentu saja dia menggunakan metode bermain sambil belajar. Agar tidak membuat suntuk ataupun bosan bagi anak-anak yang sedang belajar bersama dengannya.
***
Hari-hari pun berlalu dengan damai dan terasa menyenangkan bagi Shine. Tinggal di rumah mertuanya yang sederhana ini, banyak memberi pelajaran hidup bagi laki-laki ini. Sejak kecil dia selalu mudah mendapatkan sesuatu karena memiliki begitu banyak uang. Berbeda dengan orang-orang di kampung ini harus berusaha dulu hanya untuk bisa makan yang dapat mengganjal perutnya.
Semangat belajar anak-anak dalam menghafal Alquran dan mempelajari ilmu lainnya membuat laki-laki ini juga ikut bersemangat, agar mereka menjadi anak-anak yang cerdas dan bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Meski dia sempat mendengar selentingan negatif tentang dirinya. Namun, Shine tidak pernah ambil pusing dengan berita bohong itu. Baginya hanya buang-buang waktu untuk berbicara kepada orang-orang yang mudah terhasut dari awal.
"Sayang, kapan-kapan kita main ke Jogja, yuk!" ajak Amira yang sedang berada dalam dekapan suaminya.
"Mau apa pergi ke sana?" tanya Shine penasaran.
"Ingin bertemu dengan Rania. Entah kenapa aku sangat rindu sekali padanya," jawab Amira sambil melihat ke arah wajah suaminya.
__ADS_1
"Ayo, sepertinya seru juga bertemu dengan sepupuku itu. Eh, adik iparku." Shine meralat ucapannya meski tidak salah juga.
Amira pun dari tertawa mendengar ucapan suaminya. Sebab, sepupunya itu kini berubah menjadi adik ipar.
***
Sebelum pergi ke Jogjakarta, Shine dan Amira terlebih dahulu mendatangi rumah Bintang. Dulu kakaknya itu pernah menyuruh untuk tinggal beberapa hari bersamanya, tetapi selain memilih langsung pergi ke rumah orang tua Amira. Jadi, baru sekarang dia bisa mendatangi kakaknya.
"Sudah berapa lama tinggal di Indonesia, baru sekarang kamu mengunjungi rumah kakak." Bintang memeluk tubuh adiknya dengan sangat erat.
Shine hanya bisa tertawa mendengar omelan kakaknya ini. Dia sendiri bukan tidak mau mengunjungi kakaknya tetapi tinggal bersama istrinya di kampung membuatnya betah lama-lama di sana. Seandainya saja Amira tidak ingin pergi ke Jogjakarta, tentu saja dia lebih memilih diam di kampung dan mengajari anak-anak tahfidz.
"Apa kamu sudah bertemu dengan Rain dan yang lainnya?" tanya Bintang saat mereka sudah duduk di atas sofa.
"Belum, tapi kami sering berkomunikasi lewat telepon dan chat," jawab Shine.
Mendatangi mansion Hakim membuat Shine teringat akan mamanya. Terakhir kali mereka berbicara satu minggu yang lalu. Itu karena mamanya sekarang sibuk ikut mengurus perusahaan yang dia tinggalkan.
"Apa mama baik-baik saja, ya, Kak? Beberapa hari yang lalu aku menelpon mama, tetapi tidak diangkat olehnya," tanya Shine sambil menyimpan foto keluarga kakaknya yang tadi diletakkan di atas meja kecil di samping.
"Mama baik-baik saja, kemarin dia baru tiba di Indonesia," jawab Bintang.
"Apa? Kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Kalau mama datang ke sini." Shine sangat kesal sekali kalau ada ketinggalan informasi penting.
Cantika sebenarnya sedang dalam perjalanan bisnis ke Singapura, tetapi dia sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan anak-anaknya yang tinggal di Indonesia. Kebetulan hari ini dia sedang menemui Rain.
***
Apa yang akan terjadi selanjutnya? 🤭. Apakah kota Jogjakarta akan memberikan kenangan indah atau buruk bagi keduanya? Tunggu kelanjutannya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.
__ADS_1