
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih Bunga, Kopi, Vote dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 6
Shine bicara dengan suara yang tegas dan meyakinkan. Dia mengungkapkan keinginan isi hatinya yang terdalam kepada abahnya Amira.
"Abah, boleh tidak jika aku meminta Amira untuk dijadikan istriku?"
Tidak ada jawaban dari Kiai Samsul. Shine menunggu dengan harap-harap cemas.
^^^"Bagaimana, Nak Shine? Maaf barusan Abah ditinggal dulu sebentar karena ummi manggil."^^^
'Apa? Aku sejak tadi menunggu dengan perasaan gugup sampai perutku terasa melilit, ternyata aku ditinggalkan begitu saja.' Shine memijat kepalanya karena terasa pening.
"A-h, tidak Abah. Hanya saja aku mau bilang, kalau aku akan menjaga Amira dengan sangat baik dengan sepenuh hatiku."
^^^"Abah percaya kalau kamu adalah laki-laki yang bertanggung jawab dan tidak akan melakukan hal sesuatu yang bisa merugikan Amira."^^^
'Asik, Abah sudah memberikan kode, nih! Ada kemungkinan aku bisa mendapatkan restu juga nanti darinya.'
Malam itu pun Shine dan Amira makan bersama. Shine mengira kalau dia bisa melihat wajah Amira saat perempuan itu makan. Namun, pikirannya salah. Ternyata bergo Amira mempunyai niqob yang bagian belakang bisa di tutupkan ke depan dan bagian depan diturunkan ke bawah saat dia akan makan. Jadinya, Amira menutupi makanannya oleh kain niqob itu. Tentu saja mukanya tidak terlihat oleh Shine.
'Wah, ada cara makan seperti itu ya?'
'Kalau begini aku tidak akan pernah bisa melihat wajahnya kecuali kalau dia menjadi istri aku.'
'Aku semakin penasaran dengan wajah dia. Apa Rain dulu pernah melihat wajah Amira?'
'Ish, beruntung benar Rain, kalau dia pernah melihat wajahnya.'
Keduanya makan dalam diam. Shine sebenarnya ingin makan sambil berbicara sesuatu yang bisa menghangatkan suasana di sana.
'Apa dia tidak kesusahan makan dengan cara seperti itu, ya?'
Shine makan sambil terus memperhatikan Amira. Dia malah jadi gemas sendiri.
Begitu selesai makan dan minum Amira merapikan kembali niqabnya sehingga menutup wajah dan menyisakan mata. Dia pun membereskan sisa makanan dan piring yang kotor sambil berdiri agak membungkuk.
Lalu, Amira melihat ke arah Shine. Tatapan mereka bersirobok dan mengantarkan getaran pada hati keduanya. Jarak mereka saat ini sangat dekat dan membuat jantung keduanya berdebar.
Kalau jantung Amira berdebar karena terkejut dengan posisi yang begitu dekat dengan Shine. Sementara bagi Shine sendiri, jantungnya berdebar kencang karena terjerat tatapan mata Amira.
__ADS_1
"Hem. A-pa … Mister sudah selesai makannya?" tanya Amira dengan gugup.
"Apa kamu mau menyuapi aku, jika tambah lagi makannya?" Shine tersenyum tipis. Namun, senyumannya ini sangat menggoda di mata Amira.
Amira pun dengan cepat menundukkan kepalanya. Dia tidak boleh jatuh pada hal yang mendatangkan dosa baginya. Hal ini bisa saja terjadi saat diawali dengan tatapan mata selanjutnya akan turun ke hati. Bila hati sudah menguasai jiwa dan pikirannya, maka hal yang lainnya pun bisa mudah terjadi. Itulah kenapa dia selalu berusaha menjaga pandangannya.
"Kedua tangan Mister masih berfungsi dengan baik. Kenapa tidak makan sendiri saja?"
Shine mengaga mendengar Amira bicara seperti itu. Niatnya dia agar bisa lebih dekat dengan Amira.
"Ini untuk latihan saat kita menjadi suami istri nanti," ucap Shine seenak udelnya dan tidak tahu malu.
Amira mengerutkan keningnya mendengar ucapan Shine barusan. Dia tidak mengerti maksudnya.
'Suami istri? Maksudnya apa?'
Melihat Amira diam mematung, membuat Shine tersadar kalau Amira belum menginginkan hal seperti ini. Maka dia pun mengakhiri makan malam.
***
Kini sudah satu bulan Shine menjadikan Amira sebagai asisten pribadinya. Baik mengurus dia saat di rumah maupun di kantor. Perasaan dia terhadap perempuan itu dari hari ke hari semakin tumbuh dan berkembang.
Ada saja kelakuan Shine agar menarik perhatian Amira. Mau itu mengeluh sakit di kakinya atau menginginkan makan sesuatu agar dibuatkan.Â
"Mister, kapan melakukan lagi terapi agar bisa berjalan kembali?" tanya Amira saat di kantor.
"Kenapa memangnya?" tanya Shine balik.
"Aku ingin secepatnya bisa kembali bekerja di rumah sakit," jawab Amira dengan jujur.
Shine berdiam. Dia memikirkan, bagaimana caranya untuk membuat Amira selalu ingin bersama dengannya.
"Aku akan berusaha secepatnya mencari jadwal yang pas waktunya bersama dokter."
Amira pun pulang diantar oleh sopir taksi pesanan Shine. Orang itu sebenarnya adalah anggota tim keamanan Hakim yang menyamar.
***
Keesokan harinya Amira bekerja seperti biasa. Hari ini dia mendatangi apartemen Shine lebih pagi dari biasanya. Sebab, harus menyiapkan semua keperluan dan membuatkan sarapan untuknya. Saat Amira berjalan menuju lift, dari kejauhan dia melihat seseorang yang mirip Shine. Laki-laki itu sedang berdiri dan berbicara dengan seseorang.
'Mister Shine bisa berdiri!'Â
Amira sangat terkejut. Lalu, dia pun berjalan mendekatinya. Dia semakin yakin dengan penglihatannya, kalau laki-laki itu memang Shine.Â
__ADS_1
'Benar. Ternyata dia sudah bisa berjalan.'
Laki-laki itu berdiri, lalu mau balikan badannya dan berjalan ke arah Amira. Namun, ada seseorang yang menghentikannya dan memberikan sebuah amplop badannya.
"Ini berkas laporan kesehatan milik Tuan Shine."
"Terima kasih."
Amira merasa sangat kesal karena sudah dibohongi oleh laki-laki itu. Maka, dengan langkah cepat dia menghampirinya, lalu memukulkan tas yang dipegangnya ke kepala laki-laki berwajah bule.
"Dasar penipu! Berani-beraninya kamu membohongi aku dengan berpura-pura tidak bisa berjalan."
Amira sangat marah kepada laki-laki yang sedang mengerang kesakitan akibat pukulannya. Dia tidak memberi ampun terus saja memukul dengan menggunakan tas.
"Rasakan ini!" Amira masih saja memukulkan tasnya.
"Nona, Anda sudah salah orang," kata laki-laki itu sambil melindungi kepalanya dengan tangan.
"Apa maksud kamu? Dasar pembohong!" teriak Amira dengan penuh emosi.
"Aku tidak mengenal siapa dirimu?" ucap laki-laki itu bersikukuh.
"Tuan Sky, siapa dia?" tanya orang yang sudah memberikan amplop tadi.
Orang itu bingung harus melakukan apa, saat Amira memukuli kepala Sky. Dia mengira kalau Amira itu adalah kenalannya Sky.
"Tuan Sky?" Amira menghentikan gerakan tangannya dan mengumamkan nama yang diucapkan oleh orang yang berdiri sambil menatap mereka berdua.
"Anda ini sebenarnya, siapa?" tanya Sky dengan nyolot.
"Kamu sendiri siapa?" tanya Amira balik.
"Aku Sky. Kamu siapa?" Sky menatap tajam ke arah Amira.
"Mister Shine, kamu jangan pura-pura tidak tahu sama aku. Bahkan sampai mengganti nama kamu sendiri," balas Amira dengan geram.
"Shine itu kembaran aku. Dan aku adalah Sky."
Bola mata Amira membulat karena sangat terkejut melihat orang yang wajahnya sama mirip dengan Shine. Dia tidak menyangka kalau Shine punya saudara kembar identik.
'A-hk, tidak. Ternyata aku sudah salah orang!'
***
__ADS_1
Bagaimanakah reaksi Shine saat mendengar cerita pertemuan pertama Amira dengan Sky? Tunggu kelanjutannya, ya!