CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 67. Penyerangan (1)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 67


Shine, Martin, dan James keberadaan mereka telah diketahui oleh anak buah Juan yang sedang melakukan pesta. Meski dari mereka banyak yang sudah tidak berdaya karena tadi meminum minuman yang dicampur dengan obat tidur. Tetap saja orang-orang yang pasti dari sadar menyerang mereka dengan menggunakan senjata api. Sehingga terjadilah baku tembak di antara mereka.


DOR! DOR!


DOR! DOR!


Tim Shine pun menyerang mereka menggunakan senjatanya milik musuhnya yang dirampas tadi. Hal ini bisa saja untuk mengaburkan keberadaan mereka saat melakukan penyelidikan olah tempat kejadian perkara oleh tim penyelidik.


DOR! DOR!


"Kya-aaa!" Suara teriakan kesakitan akibat timah panas yang bersarang kepada tubuh mereka.


James menggunakan kedua tangannya untuk menembakkan peluru itu secara cepat dan tepat ke arah tubuh musuhnya. Hanya dalam waktu 5 menit sudah banyak korban yang terkena tembakan langsung darinya.


"Wow, Uncle James sangat hebat!" puji Shine.


Kekuatan kedua lengan kokoh milik James mampu menembakkan peluru dari dua buah pistol dengan tepat sasaran. Penglihatannya masih dalam keadaan awas. Meski musuh dalam jarak jauh dia masih bisa mengenai organ vitalnya.


"Papa kamu jauh lebih hebat dari aku," bantah James.


"Iya, papa juga hebat. Tapi, uncle juga hebat!" kata Shine.


DOR! DOR!

__ADS_1


"Tuan Shine, sebaiknya Anda fokus dulu kepada musuh yang ada di depan. Kalau tidak, bisa-bisa tubuh kamu yang akan tembakan," kata Martin.


Baku tembak di sana terjadi selama 15 menit. Semua orang yang melakukan serangan kepada Tim Shine dapat dihabiskan oleh ketika orang itu.


"Apa mereka semua sudah mati, ya?" Shine memperhatikan keadaan di area kebun itu yang dijadikan tempat pesta out door.


"Aku rasa mereka sudah tidak berdaya. Meski ada yang masih hidup. Untuk jaga-jaga sebaiknya kita ambil senjata mereka dan alat komunikasinya," kata James lalu keluar dari tempat berlindungnya dari serangan tembakan peluru musuhnya tadi.


Ketiga orang itu pun akhirnya mengumpulkan senjata dan menyimpannya dalam sebuah wadah. Lalu, mereka menyembunyikannya di suatu tempat.


***


Tim Alex kini berada di lantai tiga. Ruangan yang menjadi sasaran pertama mereka periksa adalah beruang santai. Biasanya orang-orang suka menghabiskan waktu di ruang seperti itu.


William membuka sebuah pintu yang diduga adalah ruang yang sering didatangi oleh orang. Hal ini bisa dilihat dari handle pintunya yang mengkilap dan licin karena sering dipegang. Berbeda dengan ruang yang ada di depannya, handle pintu itu agak kusam dan kasar.


William adalah orang pertama yang masuk ke ruangan itu. Di sana ada tiga orang yang sedang duduk di depan perapian. Salah satunya adalah laki-laki yang duduk di kursi roda.


"Selamat datang di kediaman aku, Tuan Alex. Aku tidak menyangka kalau Tuan William Green pun bersedia datang berkunjung ke tempat aku ini," ucap Juan.


Fatih hanya diam saja melihat laki-laki yang ada di kursi roda itu. Dulu dia pernah beradu jotos dengannya. Saat terjadi pertempuran antar kelompok mafia karena siasat adu domba darinya.


Kedua orang yang lainnya adalah Andreas dan David. Baik Alex, William, ataupun Patih tidak mengenal kedua orang itu di saat dulu.


Akan tetapi berbeda dengan kedua orang itu. Mereka menatap ketiganya dengan pancaran mata yang berbeda.


"Sepertinya kamu sudah tahu akan kedatangan kami hari ini," kata Alex dengan nada yang tenang.


"Sejak dulu aku selalu menantikan kedatangan kalian di sini. Namun, baru kali ini kalian datang kemari," balas Juan.

__ADS_1


Juan saat ini terlihat jauh sekali berbeda dibanding dengan Juan yang dulu. Kini dia hanya merupakan seorang kakek-kakek tua yang tidak berdaya. Serta hanya bisa duduk di atas kursi roda.


"Coba kalau dulu kamu langsung memberitahu kami kalau masih hidup. Tentu saja kami akan langsung menemui," kata William.


"Benar juga kata kamu, seharusnya seperti itu. Hanya saja keadaan aku tidak memungkinkan saat itu," balas Juan sambil tertawa terkekeh.


Tidak ada yang tertawa selain dirinya. Sementara itu, yang lainnya hanya diam sambil menatap ke arah lawan masing-masing.


"Lalu, siapa laki-laki yang bersama dengan kalian ini? aku sepertinya mengenal dia?" tanya Juan sambil menatap ke arah Fatih.


"Orang sepertimu tidak akan pernah mengenal dia sebelumnya. Karena duniamu dan dunia dia berbeda," jawab William.


"Lalu, kenapa sekarang dia ikut bersama kalian ke sini?" tanya Juan yang sangat menyukai tatapan mata Fatih. Tegas, tajam, namun ada kehangatan di sana.


"Karena kau sudah mengusik keluarga kami," jawab William.


"Benar kata orang-orang, ternyata kamu memang cerewet dibandingkan dengan Alex," ucap Juan sambil tersenyum merendahkan William.


"Terserah kamu saja. Sekarang yang aku inginkan adalah menuntut kamu untuk bertanggung jawab untuk semua kejahatan yang sudah kamu lakukan," lanjut William.


DOR!


***


Siapakah yang melesatkan tembakan? Apakah akan ada korban di sana? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya, yuk baca juga karya aku yang lainnya. Ini sudah tamat jadi kalian bisa membacanya secara maraton.


__ADS_1


__ADS_2