CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 26. Suasana Genting (4)


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 26


Martin dan kedua temannya masuk melalui saluran udara yang terhubung ke restoran. Mereka melihat keadaan di sana sangat kacau. Namun, tidak boleh gegabah mengambil tindakan. Sebab, masih banyak pengunjung yang berada dalam tekanan sandera.


Martin mengedarkan penglihatannya mencari keberadaan Shine. Tuan yang sering membuat dirinya repot dan uring-uringan. Dia bisa menemukan keberadaan pemuda yang sedang bersembunyi di balik pot bunga.


"Enggak elegan begitu cara sembunyi ya," gumam Martin sangat pelan.


Dia memikirkan bagaimana caranya bisa mengalahkan musuh tanpa adanya korban lagi dari pihak pengunjung. Martin dan kedua temannya sedang merencanakan suatu taktik penyelamatan sandera dan mengalahkan musuh.


***


Sementara itu, di luar gedung hotel. Polisi yang baru datang meminta kerja sama dengan Angkasa.


"Saat ini ada tiga orang dari tim kami yang sedang berusaha menyusup masuk ke dalam," kata Angkasa sambil memperhatikan beberapa layar yang ada di depannya.


"Baiklah. Apa yang harus kami lakukan?" tanya kepala polisi yang terjun langsung.


Martin tadi mengirim laporan tentang penyanderaan di sebuah restoran di hotel berbintang tujuh milik keluarga Andersson, ke pihak polisi. Banyak orang-orang penting di dalam sana.


"Ini baru pertama kalinya kalian kecolongan seperti ini di tempat kalian," sindir kepala polisi dan Angkasa tidak menyukainya.


"Derick, kirimkan sepuluh unit ambulan ke Hotel Asterik sekarang! Perlengkapan medis untuk pasien gawat darurat juga tim medis yang banyak kirim ke sini," Angkasa memerintah pada seseorang lewat telepon.


Kini Angkasa kembali fokus kepada situasi di dalam restoran. Sudah ada ide cara penyelamatan di dalam kepalanya.


"Martin, kamu masuk ke saluran udara nomor tiga. Ray, kamu masuk ke saluran udara nomor lima. Dan Sam, kamu tetap di tempat. Tunggu aba-aba dari aku selanjutnya," ucap Angkasa dan dapat di dengar oleh ketiga orang itu.


Kepala polisi memperhatikan cara kerja Angkasa yang sering diminta bantuan oleh Komisaris Kepolisian beberapa negara bagian Amerika. Dia yang baru melihat secara langsung saat ini, merasa kagum dengan ketenangan Angkasa saat memberikan instruksi kepada bawahannya.


"Martin, apa kira-kira kamu bisa memberikan senjata milik Shine pada orangnya?" tanya laki-laki dewasa yang semakin matang dalam bertindak.

__ADS_1


^^^"Bisa karena jaraknya sangat dekat."^^^


"Bagus. Usahakan agar Shine memegang senjata miliknya. Lalu, jangan lupa berikan dia sebuah earphone agar mengikuti instruksi aku."


^^^"Baik, Tuan!"^^^


"Ray, posisi kamu lebih dekat kepada badut yang sedang menahan sandera?"


^^^"Iya, Tuan. Jarak kami tidak sampai tiga meter."^^^


"Bagus. Kamu harus utamakan keselamatan sandera. Dia adalah seorang istri dari orang penting. Jangan sampai dia mati atau nanti kita akan berurusan dengan mereka."


^^^"Baik, Tuan. Aku akan melindungi dirinya dengan mempertaruhkan nyawa."^^^


"Sam, kamu serang kedua badut yang jaraknya paling dekat dengan kamu. Sisanya biar yang lain tangani. Kamu buka pintu restoran agar kami yang disini bisa masuk ke dalam sana," titah Angkasa.


^^^"Baik, Tuan!"^^^


"Kita harus mengeluarkan para pengunjung yang terkapar di lantai. Mungkin saja mereka masih hidup."


^^^"Baik, Tuan!"^^^


***


Martin pun membuka teralis besi dan Shine menyadari kehadirannya. Terbukti pemuda itu langsung menengadahkan kepalanya.


Martin kesal melihat seringai Shine yang terlihat manis. Dia sering berpikir kalau Tuannya ini terlalu santai dalam segala hal.


'Apa dia tidak pernah berpikir kalau banyak orang yang khawatir kepadanya?'


'Rasanya ingin sekali aku memarahinya sampai merasa puas hati ini.'


Tangan Shine memberi kode agar Martin melemparkan tas berisi senjata miliknya. Kebetulan Sam dan Ray diberi aba-aba oleh Angkasa untuk menembak para badut itu.


DOR! DOR!

__ADS_1


DOR! DOR!


Kini baku tembak mulai terjadi di saat Sam dan Ray terjun ke ruangan itu. Martin melompat ke bawah sambil melemparkan tas pada Shine.


Dengan tepat Shine bisa menangkap tas itu. Lalu, menangkap lagi sebuah earphone untuk berkomunikasi.


Shine membuka tas yang berisi dua buah pistol kembar dan beberapa kotak yang berisi peluru. Dia pun dengan cepat menembak badut yang ada di tengah ruangan restoran.


DOR! DOR!


Shine menembak sampai membuat lawannya jatuh. Dia dengan cepat menghubungi kakaknya, untuk memberi tahu kondisi sebenarnya di dalam restoran.


"Kak Angkasa, cari keberadaan para tim keamanan yang seharusnya bertugas hari ini. Mereka tidak ada di sini, kecuali satu orang saja."


^^^"Apa? Maksud kamu tidak ada penjaga di hotel sebesar ini!"^^^


^^^"Iya. Aku merasa aneh dengan keberadaan mereka. Mana mungkin mereka tidak berjaga-jaga di tempatnya mereka bertugas," balas Shine.^^^


^^^"Baiklah akan kakak cari tahu keberadaan mereka."^^^


"Satu lagi, Kak!"


^^^"Apa?"^^^


"Mereka punya senjata yang mirip dibuat oleh Kak Langit. Senjata 909, yang dulu pernah hilang."


^^^"A-apa? Siapa mereka?"^^^


***


Siapakah dalang dari kejadian ini? Apa motif si pelaku melakukan kejahatan ini? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Kepoin dan baca Novel nya.


__ADS_1


__ADS_2