CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 104. Kembali Ke Amerika


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 104


Setelah puas jalan-jalan di kota Jogjakarta, Shine mengajak Amira berkeliling ke beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur selama seminggu. Tadinya mau sekalian saja dilanjutkan ke Lombok dan Bali, tetapi Kiai Samsul bilang kalau anak-anak terus menanyakan Shine. Jadinya, mereka memutuskan pulang dahulu ke Rumah Tahfiz.


Kepulangan Shine dan Amira sangat ditunggu-tunggu oleh anak-anak yang mencari ilmu di rumah tahfidz. Begitu keduanya turun dari mobil mereka menyambut gembira dan saling berebut bersalaman dengan laki-laki bule itu.


"Mister, kenapa lama sekali perginya?" tanya salah seorang anak. 


"Ya, karena banyak tempat yang harus kita singgahi," jawab Shine sambil mengeluarkan oleh-oleh dari koper. 


Dia pun membagikan kaos tertuliskan kata 'Jogya' atau 'Solo' ada juga beberapa nama kota lainnya yang mereka datangi keduanya kemarin. Betapa bahagianya mereka menerima hadiah sederhana itu.


***


Waktu terus bergulir kini tidak terasa kalau Shine dan Amira sudah tinggal di rumah Abah selama 6 bulan. Gosip buruk tentang Shine pun hilang dengan seiring berjalannya waktu. Tidak ada bukti kalau Shine menggoda para gadis di desa. Bahkan, laki-laki itu membantu para warga agar bisa berbisnis dan menghasilkan uang yang banyak. 


Rumah mertuanya pun akhirnya di renovasi dan tentunya di kamar Amira dibuatkan kamar mandi. Kalau bangunan kelas tempat belajar anak-anak tahfidz memang bagus karena mendapatkan dana dari Rain, Raihan, dan Rayyan yang selalu mengalir tiap bulannya. Begitu juga dengan para dermawan yang suka bersedekah atau membelanjakan uang di jalan yang diridhoi oleh Allah.


"Itu bule mau sampai kapan tinggal di kampung ini. Bikin meresahkan saja," kata Doni ketus.


"Meresahkan apanya?" tanya laki-laki tua yang mengambil gelas berisi air kopi.


"Gara-gara dia anak-anak tahfidz bukannya belajar ini malah bermain-main," jawab Doni sambil merokok.


"Kata anak-anak mereka itu bukan sembarangan bermain, tetapi mereka sedang belajar. Katanya biar tidak suntuk dan belajar juga jadi terasa menyenangkan," balas Mbok Mirah.

__ADS_1


"Lagian bule itu juga suka ikut membantu jika ada gotong royong di sini," sahut laki-laki tua tadi.


"Iya. Dia juga tidak merasa jijik saat membantu membersihkan gorong-gorong dan juga kadang memberikan bantuan kepada keluarga tidak mampu di kampung ini," timpal yang lainnya.


Mereka tidak tahu kalau Shine dan Amira berada di dekat warung itu dan keduanya juga bisa mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Tentu saja ini membuat Amira tidak suka dan sakit hati. Sebab, suaminya masih saja di pandang jelek hanya karena dia bule.


Sebenarnya Shine sendiri tidak peduli dengan ucapan orang-orang itu. Ini dikarenakan dia merasa tidak seperti itu. Jadi, buat apa pusing memikirkan hal seperti itu.


***


Amira memutuskan untuk segera kembali ke Amerika, meski suaminya bilang masih betah tinggal di Indonesia. Dia melakukan hal ini untuk menjaga nama baik sang suami, karena banyak tetangga yang sudah banyak yang menghina dan memfitnah dirinya. Perempuan itu sebagai seorang istri merasakan sakit hati atas tuduhan yang tidak benar atas Shine.


"Kalian berdua usahakan tiap tahu pulang ke sini. Bagaimanapun, Abah dan Umma pasti akan merasa rindu pada kalian berdua," ucap Kiai Samsul dengan mata yang berkaca-kaca dan senyum tipis menahan tangis.


Ruang depan yang biasanya diisi oleh celotehan para anak tahfidz dan Shine, kini mendadak menjadi sepi. Anak-anak yang biasanya suka membuat suasan ramai kini terdiam dan terlihat ekspresi wajah yang sedih. Tentu saja hal ini membuat Shine dan Amira ikut bersedih.


"Kapan-kapan kita akan kembali ke sini untuk menjenguk Abah dan Umma, juga kalian semua," ucap Shine.


***


Shine dan Amira sudah kembali ke Amerika dan menjalani rutinitas mereka sehari-hari seperti biasanya. Kali ini perasaan mereka sudah berbeda, bertambah kuat rasa saling cinta, percaya, dan sayangnya. Kedua orang ini layaknya pasangan pengantin baru. Shine juga semakin bahagia menjalani kehidupan rumah tangganya bersama Amira. Mereka bekerja bersama baik itu di kantor maupun di rumah. 


"Tuan Shine dan istrinya terlihat selalu kompak," ucap salah seorang karyawan.


"Sepertinya Nyonya Amira takut kalau ada yang menggoda Tuan Shine," bisik karyawan lain.


"Salah, yang ada Tuan Shine tidak mau jauh-jauh dari istrinya," timpal sang sekretaris Shine sambil berlalu hendak pulang.


Cantika dan Alex merasa sangat bahagia, saat melihat perubahan dalam diri mereka berdua. Keikhlasan hati melepas buah hati, membuat mereka terlihat lebih banyak mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. 

__ADS_1


"Semoga saja mereka secepatnya punya anak," ucap Cantika yang kini sedang bersandar pada dada suaminya.


"Aamiin." Alex juga berharap seperti itu.


"Jika Shine dan Amira sudah punya anak dan tumbuh agak besar. Aku ingin tinggal di Indonesia," kata Cantika dengan tatapan penuh harap.


"Iya." Alex tersenyum dan membalas ciuman yang diberikan oleh istrinya.


***


Waktu terus berlalu dan usia pernikahan Shine dan Amira kini sudah 2 tahun. Meski begitu kedua semakin mesra layaknya orang yang masih pengantin baru. Kini keduanya sedang mempersiapkan diri untuk membuat buah cinta mereka.


Setiap hari keduanya bekerja keras untuk membuat generasi penerus keluarga Andersson. Shine dan Amira bercinta jika setelah selesai sholat tahajud dan menyelesaikannya sebelum adzan Subuh.


"Allahummaj’al nuthfatna dzurriyyatan thayyibah." (Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh)).


Shine membacakan doa ketika dia sudah sampai ke puncak dan menyemburkan calon benihnya. Begitu juga dengan Amira, selalu berharap dari jutaan benih yang ditanamkan oleh suaminya ada yang berhasil tumbuh.


Napas keduanya memburu, keringat membasahi sekujur tubuh mereka. Shine mencium kening sang istri dengan lembut. Amira membalas dengan senyum kebahagiaan. Setelah merasa puas dan selesai melakukan hubungan badan, mereka pun membaca doa.


"Alhamdulillaahi lladzii khalaqa minal maa i basyaraa." (Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan)).


Begitulah kegiatan mereka hampir setiap hari, berdoa dan berikhtiar selalu mereka lakukan.


***


Apakah Amira akan cepat hamil atau masih membutuhkan waktu yang lama? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya.

__ADS_1



__ADS_2