
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 77
Waktu pun bergulir, sudah dua bulan berlalu sejak penyerangan ke Pulau Leon. Seseorang mengawasi juga sesekali memotret Shine dan Amira. Kedua orang itu dikawal oleh beberapa orang. Orang di sampingnya juga melihat lewat sebuah teropong.
"Istrinya Shine itu orang mana? Kenapa wajahnya di tutup pakai cadar?" tanya laki-laki berbadan tegap dengan muka yang terdapat bekas luka goreng dari kening sampai ke pelipisnya dan memotong alisnya.
"Menurut informasi, wanita itu orang Indonesia. Gosip yang aku dengar wajahnya cantik. Makanya Shine menyuruhnya untuk menutup pakai cadar agar tidak diketahui oleh orang lain," jawab laki-laki yang berparas kelihatan masih muda.
"Rasanya aku ingin melihat wajah di balik kain penutupnya itu, A." Laki-laki bertubuh tegap itu masih mengawasi mobil yang keluar dari rumah sakit.
"Jangan, nanti dia menangis, B." Laki-laki yang dipanggil A pun menyahut ucapan B.
Kedua laki-laki itu tertawa lepas sambil membereskan peralatan pengintai dan memasukan ke dalam sebuah tas. Secepat mungkin mereka pergi dari sana, sebelum di ketahui keberadaannya oleh tim keamanan keluarga Andersson.
***
Shine mengusap perut Amira yang mulai terasa keras. Sementara itu, sebelah tangannya merangkul bahu istrinya.
"Sayang, sudah tidak mual-mual lagi?" tanya Amira kepada sang suami yang semakin manja kepadanya.
"Asal ada di dekat kamu, mulanya hilang," jawab Shine yang kini menarik kepala Amira agar bersandar di dadanya.
"Modus, ya?" Amira mendongakkan kepalanya.
"Mana ada yang begituan. Ini beneran. Buktinya sekarang aku baik-baik saja saat dekat dengan kamu. Sepertinya, bayi kita ingin agar kedua orang tuanya bisa bersama-sama terus," balas Shine dan Amira hanya tersenyum di balik cadarnya.
***
Mobil pun sudah sampai ke kantor perusahaan milik keluarga Andersson. Hari ini kebetulan Shine ada rapat penting, sehingga dia tidak bisa diwakilkan oleh Martin.
"Maaf, aku harus mengajak istriku. Jika tidak ada dia di samping aku, rasanya perut ini mual-mual," kata Shine jujur.
"Apakah istri Anda sedang hamil?" tanya salah seorang direksi.
"Iya. Dan aku yang mengalami ngidam," aku Shine dan membuat orang-orang yang ada di sana tertawa kecil.
__ADS_1
Sementara itu Amira merasa sangat malu. Dia hanya bisa menundukkan kepalanya sambil memainkan jari jemarinya.
Rapat pun berjalan cepat dan lancar, sehingga tidak membuat Shine dan Amira terlalu lama di kantor perusahaannya. Mereka pun langsung pulang.
***
Shine merasa ada mobil yang mengikuti mereka. Dia memperhatikan mobil itu mengikutinya sejak satu kilometer dari kantor perusahaannya tadi.
"Abe, percepat laju saat di kilometer lima belas!" perintah Shine pada sopir pribadinya.
"Baik Tuan," Abe juga sudah menyadari ada mobil yang mengikutinya sejak tadi.
Mobil pun melaju dengan kencang saat di kilometer 15. Shine memeluk tubuh Amira meski sudah memakai sabuk pengaman. Dia takut terjadi pada istri dan bayinya.
Akan tetapi mobil itu juga ikut melaju dengan kencang. Sampai mobil salah satu pasukan shadow datang dan memotong laju mobil itu dengan menghadangnya. Mobil itu pun berhenti mendadak, sehingga mobil milik Shine bisa lolos.
"Bagus." Shine senang saat bala bantuan datang di tepat waktu.
"Sayang, ada apa?" tanya Amira.
Perempuan itu merasakan ketegangan barusan dan membuat perutnya juga ikutan menegang. Dia tahu kalau keadaan mereka itu masih dalam keadaan diintai oleh musuh. Namun, mengalami hal seperti ini membuat dirinya juga ada perasaan takut.
"Alhamdulillah. Semoga Allah selalu melindungi kita semua dari orang-orang dzolim," kata Amira.
"Aamiin." Shine pun memberikan kecupan di pucuk kepala sang istri.
***
Alex hendak menginterogasi penjahat yang tadi membuntuti mobil Shine. Dia datang ke ruangan khusus bersama Angkasa.
"Tuan Alex, lagi-lagi pelaku mati mendadak. Setelah diperiksa jantungnya meledak," kata salah seorang anggota tim keamanan.
"Apa?" Alex sangat terkejut, lalu di bertanya, "jadi musuh sudah tahu kalau orangnya sudah berada di tangan kita?"
"Mungkin saja itu terjadi. Jika, keberadaannya bisa terlacak oleh mereka lewat GPS yang mereka tanaman bersama dengan boooom di dalam tubuhnya," jawab Angkasa.
"Lagi-lagi kita kehilangan jejak mereka," ujar Alex merasa sangat kesal.
"Mereka seperti belut, sangat licin saat akan di tangkap," lanjut Angkasa.
__ADS_1
"Iya. Mereka itu makhluk-makhluk yang menyebalkan," tambah Alex.
Alex meminta Angkasa untuk mengautopsi mayat penjahat itu. Dia merasa kesal dan marah pada orang-orang yang sudah menganggap tidak berarti nyawa seseorang.
***
Shine mendapat laporan dari Angkasa tentang kejadian tadi. Kalau orang yang membuntuti dirinya sudah mati seperti para pelaku penyanderaan di restoran, dulu. Dia sangat geram dengan ulah orang-orangnya Juan. Masalah masa lalu orang tua yang tidak perlu diteruskan lagi jejaknya.
"Mereka yang salah, malah tidak terima. Seharusnya, sudah berhenti saja. Sulit jika punya sifat yang pendendam. Apalagi kalau sampai pakai kesumat. Ih, bikin jengkel saja," gerutu Shine begitu dia mematikan panggilannya bersama Angkasa barusan.
Amira yang melihat suaminya menggerutu terasa lucu. Dulu, laki-laki ini tidak pernah seperti ini. Meski kadang sifat jahil dan menyebalkan sering dilakukan kepadanya.
"Ada apa, Sayang? Sini!" Amira menepuk pahanya. Tentu saja Shine langsung mendatangi istrinya dengan senang hati.
"Honey, aku rindu sama anak kita," kata Shine sambil menciumi perut Amira.
"Bukannya kemarin malam sudah ditengok," balas Amira dengan tangannya membelai surai suaminya.
"Hari ini aku rindu lagi. Setiap hari aku rindu padanya," ucap Shine dengan rayuan maut dan tangannya sudah menjelajah pada bagian tubuh sang istri.
Lagi-lagi Amira tidak bisa menolak keinginan suaminya untuk menengok sang buah hati. Malam ini pun mereka mendaki puncak surga dunia.
***
"Shine, kali inipun bisa lolos. Dia itu terlalu bagus nasib keberuntungannya," ucap David sambil memukul meja.
Tiga orang laki-laki yang berdiri di depannya hanya bisa diam dan menundukkan kepalanya. Mereka tahu kalau misi hari ini mereka gagal.
"A, kamu intai terus keseharian Shine. Dan kamu, B. Pantau kediaman mansion Andersson. Jika, ada peluang untuk menculik istrinya Shine, kamu langsung eksekusi saja tanpa menunggu perintah dari aku!" perintah David.
"Baik, Tuan," jawab A dan B bersamaan.
***
Bagaimana Shine akan menghadapi musuh-musuhnya yang masih saja mengincar nyawanya? Apakah dia juga bisa melindungi Amira? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan menarik, loh. Cus meluncur ke karyanya.
__ADS_1