
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 91
Shine duduk sambil memegang tangan Amira. Air matanya tidak berhenti menangis karena kesedihan hatinya sudah ditinggal oleh buah hati mereka. Lelaki itu merutuki kebodohannya, karena tidak bisa melindungi istri dan bayi mereka. Jika saja dia peka dan awas terhadap keadaan sekelilingnya waktu itu, mungkin saja hal ini tidak akan terjadi.
"Honey, maafkan aku yang tidak bisa menjaga dan melindungi kalian," lirih Shine.
Amira masih belum tersadar dari efek obat bius. Shine sendiri masih bisa merasakan dinginnya tubuh putri mereka yang baru saja selesai dia kuburkan satu jam yang lalu.
Wajah putrinya masih terbayang di pelupuk mata lelaki yang memiliki lensa bola mata warna biru.
"Honey, bukalah matamu! Kamu jangan tinggalkan aku sendiri," ujar Shine sambil membelai pipi istrinya.
Alex dan Cantika yang melihat keadaan putranya ikut merasa bersedih. Mereka juga berharap kau kejadian kemarin tidak pernah menimpa kepada Amira.
"Shine, kamu jangan larut dalam kesedihan. Papa dan Mamamu juga dari pernah berada di posisi kalian. Tapi, kami selalu berusaha untuk menerima dan ridho dengan takdir yang telah diberikan oleh Allah kepada kami," kata Alex sambil menutup bahu putranya.
"Insya Allah, kalian akan mendapatkan gantinya lagi, Seperti mama dulu mendapatkan kamu dan juga Sky," lanjut Cantika sambil mengusap kepala Shine.
Shine pun mengangguk dan memeluk perut mamanya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Dia sejak dulu selalu merasa tenang dan nyaman. Jika dia berada dalam pelukan wanita yang sudah mengandung dan melahirkan serta membesarkannya ini.
***
Keluarga Amira yang ada di Indonesia pun merasa ikut sedih saat mendengar kalau bayi yang dikandung olehnya telah meninggal. Dikarenakan kesehatan kedua orang tua Amira yang sudah sangat sepuh itu dalam keadaan kurang sehat, mereka tidak bisa datang ke Amerika.
__ADS_1
Jadinya, hanya keluarga Fatih yang datang menjenguk ke Amerika termasuk Rania. Mereka menggunakan pesawat pribadi untuk pergi ke Amerika.
Begitu mereka sampai di rumah sakit tempat Amira dirawat terlihat jelas sekali keadaan perempuan itu yang masih dalam keadaan shock. Rania pun langsung memeluk Amira. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan bayi yang sangat mereka sayang dan harapkan kehadirannya.
"Kak Amira, kamu harus bersabar yakinlah kalau kakak akan bertemu kembali dengan dia di akhirat," ucap Rania sambil menangis terisak.
"Terima kasih, Rania. Aku juga sedang mencoba untuk menerima semua takdir yang Allah berikan kepadaku," balas Amira dengar suaranya yang sengau.
Orang-orang yang ada di sana turut merasa bersedih dengan nasib kedua perempuan itu. Keduanya kehilangan bayi di saat kehadirannya sangat diharapkan.
Di saat mereka sedang menghibur Amira dan Shine, Sky menerima laporan kalau Rain sudah tiba di rumah sakit. Tentu saja kedua laki-laki kembar itu langsung mau minta Rania untuk bersembunyi.
"Rania, ayo cepat kamu masuk ke dalam toilet. Saat ini Rain sedang berjalan menuju ke sini," kata Sky.
Rania yang tidak mau disuruh bersembunyi di ruangan kecil dan pengap itu memilih keluar ruangan inap. Perempuan itu bersembunyi di kamar sebelah.
"Ayah … Bunda, kenapa aku bisa mencium wangi Rania di sini?" tanya Rain kepada kedua mertuanya.
Jika saja mereka tidak menuruti keinginan Rayan dan Raihan tentu saja Rania dan Rain sudah bertemu sejak lama. Hal itu malah didukung oleh Shine dan Sky.
"Mungkin itu hanya perasaanmu saja," kata Sky.
Rain pun mengira begitu karena rasa rindunya yang begitu kuat terhadap sang istri. meski dia sudah berkeliling dunia keberadaan wanita yang dicintainya itu belum juga dia temukan.
"Kak Shine, aku turut prihatin atas apa yang menimpa kepada kalian." Ryan memeluk tubuh kakaknya.
"Terima kasih kamu sudah mau datang ke sini," balas Shine.
__ADS_1
"Aku mau bawakan obat herbal titipan dari Kiai Samsul dan Ummu Habibah. Mereka sangat sedih tidak bisa ikut ke sini," ucap Rain sambil menyerahkan satu paper bag titipan mertua Shine.
"Terima kasih, Rain."
Amira pun hanya tersenyum tipis ke arah Rain. Wajah yang sudah lama tidak dilihatnya itu, kini terlihat banyak perubahan. Pipinya menjadi tirus dan bibirnya juga kering.
"Semoga Kak Amira segera sembuh dan bisa berkunjung ke Indonesia. karena Kiai Samsul dan Ummu Habibah sangat ingin bertemu dengan Kakak," lanjut Rain dan Amira hanya mengangguk.
***
Sudah satu minggu berlalu sejak Amira dan Shine kehilangan putrinya. Pasangan itu terlihat masih berkabung. Air mata masih saja membasahi wajah mereka. Wajah pucat Amira dan tubuhnya yang semakin kurus, membuat siapapun yang melihatnya merasa iba. Shine yang biasanya terlihat ceria pun kini menjadi pendiam. Laki-laki itu terpukul dengan apa yang sudah menimpa istri dan bayi mereka.
"Shine sekarang waktunya Amira minum obat," ucap Cantika sambil menyerahkan nampan berisi segelas air dan beberapa obat yang diberikan oleh perawat tadi.
Laki-laki itu pun menerima, kemudian berjalan ke arah sang istri yang masih terbaring. Terlihat kalau Amira hanya memejamkan mata, sedang dia dalam keadaan sadar.
"Honey, minum obat dulu." Shine menyentuh lembut paras istrinya yang masih bocah pasi.
Amira pun mau tidak mau bangun dan mau minum obatnya. Dia tidak mau merepotkan suami dan orang-orang yang berada di sekelilingnya. perempuan itu tahu kalau bukan hanya dirinya saja yang bersedih dan berduka atas kehilangan bayi itu. Akan tetapi seluruh anggota keluarga besar suaminya juga turut bersedih.
"Jika kamu sudah sehat, kita akan pergi berbulan madu ke tempat yang kamu inginkan," kata Shine kemudian memberikan kecupan di kening dan bibirnya sekilas.
***
Bagaimana Shine dan Amira berjuang untuk mengobati luka hati mereka? Akankah Amira dan Shine akan secepatnya punya anak kembali? Tunggu kelanjutannya, ya!
Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk, baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus meluncur ke novelnya
__ADS_1