
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan πππππ. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 18
Amira terkejut saat merasakan bibirnya dicium oleh Shine. Tubuh dia bergetar hebat dan saat ingin melepaskan dirinya, tangan laki-laki itu menahan tengkuknya. Amira pun memukul dada Shine berulang kali agar melepaskan dirinya.
Akan tetapi Shine, tidak mau melepaskan tautan bibirnya itu. Dia baru melepaskan setelah merasa habis napasnya.
Plak! Plak!
"Awww!" Shine terkejut akan tamparan keras di kedua pipinya yang dilayangkan oleh Amira kepadanya.
Amira sangat marah kepada Shine karena dia sudah mencium dirinya. Sesuatu yang tidak boleh mereka lakukan karena bukan suami istri.
"Dasar berengsek!" Amira mengumpat sambil membetulkan kembali cadarnya.
"A-mira," lirih Shine.
Pria itu tahu kalau Amira saat ini sedang marah kepadanya. Namun, dia juga tidak mau menyesali perbuatannya barusan. Dia memang senang dan sengaja mencium bibirnya. Ini merupakan ciuman pertama untuknya dan dia ingin melakukannya dengan perempuan yang dia sukai.
"Aku benci kamu, Shine! Kalian pura-pura 'kan, melakukan semua ini!" bentak Amira dengan penuh emosi.
"Maaf, kami melakukan ini untuk mengetahui perasaan kamu kepada Shine. Dan ternyata di dalam diri kamu ada rasa peduli dan takut untuk kehilangan Shine," ucap Sky.
Amira menatap tajam kepada Sky. Dia juga benci kepadanya saat ini. Amira merasa sedang jadi bahan permainan keduanya.
"Aku benci kalian semua!" hardik Amira dan langsung pergi dari sana.
Shine pun mengejar Amira. "Amira tunggu!"
Amira malah berlari ke arah lift. Dia tidak mau lagi berurusan dengan kedua laki-laki itu. Hatinya benar-benar sakit dan harga dirinya merasa direndahkan.
"Amira, tunggu! Aku akan menjelaskan semuanya," ucap Shine yang kini berhasil menahan tangan Amira.
__ADS_1
Amira menatap nyalang ke arah Shine. Dia sangat tidak suka saat laki-laki itu menyentuh tubuhnya.
"Lepaskan aku!" desis Amira.
"Tidak. Kamu harus mendengar dulu penjelasan aku," ucap Shine dengan tatapan memohon.
"Tidak perlu. Aku tidak mau punya urusan dan berhubungan dengan kamu juga keluarga kamu lagi," bentak Amira.
"Aku sangatβ!" ucapan Shine terpotong.
"Berisik! Aku tidak mau mendengar apapun lagi dari mulut kamu itu!" Amira menatap Shine dengan penuh kebencian.
"Tapi, akuβ"
"Aku akan benar-benar membenci kamu seumur hidupku. Jika kamu terus memaksa berbicara." Amira memotong lagi ucapan Shine.
Amira sungguh-sungguh kecewa padanya. Di saat dia mulai membuat hati untuk Shine, dia malah mempermainkan dirinya.
Shine pun merasa shock, dia tidak menyangka kalau Amira akan marah seperti ini. Dia menyadari apa yang sudah diperbuatnya tadi terlalu berlebihan. Padahal mereka bukan sepasang kekasih atau pasangan suami istri. Seharusnya dia sadar kalau Amira bukanlah wanita yang akan dengan mudah menyerahkan tubuhnya pada laki-laki yang bukan suaminya.
"Maaf," lirih Shine dan melepaskan genggaman tangannya dari lengan Amira.
***
"Astaghfirullahal'adzim! Astaghfirullahal'adzim!" lirih Amira sambil menyentuh bibirnya.
Amira masih bisa merasakan sentuhan lembut, hangat, dan menuntutnya dari bibir Shine di bibirnya saat ini. Dia tidak menyangka kalau ciuman pertamanya akan dicuri oleh seorang laki-laki yang belum menjadi suaminya.
Amira menangis di taman yang sepi dan gelap karena hari masih dini hari. Saat dia menangis ada sebuah jaket yang menutupi tubuhnya. Tanpa melihat siapa orang yang sudah menyelimutinya, Amira sudah tahu siapa orang ini. Dia bisa mencium wangi tubuh si pemilik jaket. Orang yang belakangan ini selalu berkeliaran di dalam pikirannya.
"Aku tahu kalau tadi tidak boleh mencium kamu seenaknya. Tapi, entah kenapa tubuhku bergerak sendiri tanpa bisa aku kendalikan," aku Shine jujur.
Amira masih tetap diam, dia masih belum bisa menerima kejadian yang menimpanya. Meski saat ini dia tidak semarah tadi, tetapi tetap saja enggan untuk membalas ucapan dari Shine.
"Aku mencintaimu, Amira," ucap Shine lirih.
__ADS_1
Ada perasaan hangat dan senang yang Amira rasakan saat mendengar pengakuan dari Shine. Dia sendiri baru menyadarinya sekarang. Perasaan yang dulu karena muncul saat dia bersama dengan cinta pertamanya.
Shine merasakan kalau Amira masih belum punya perasaan spesial untuknya. Dia pun ikut terdiam dan tidak mau memaksakan Amira untuk memberikan jawaban atas pengakuan dirinya.
Kedua orang itu sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Sampai terdengar kumandang suara adzan. Baik Amirara ataupun Shine, mereka beranjak pergi ke masjid yang ada di dekat gedung utama rumah sakit.
***
Setelah kejadian itu tidak ada komunikasi lagi pada keduanya. Shine pun pulang ke Amerika. Sudah satu bulan laki-laki itu menyibukkan diri dengan segudang perkerjaannya.
Saat Shine sedang berjalan ke ruangan kantornya, handphone dia berdering. Terlihat nama Rain di layar.
^^^"Assalamualaikum, Kak Shine."^^^
"Wa'alaikumsalam. Ada apa, Rain?"
^^^"Bisa bantu aku pegang beberapa perusahaan yang ada di Asia Tenggara."^^^
"Malas. Suruh saja Sky."
^^^"Kak Sky sudah bantu memegang beberapa perusahaan di Asia Timur."^^^
"Minta bantuan Raihan dan Rayyan."
^^^"Mereka sibuk dengan perusahaan masing-masing."^^^
"Minta bantuan Kak Bintang."
^^^"Mau aku bantu untuk mendekati Amira nggak?"^^^
Shine terdiam. Dia memikirkan perempuan yang sebulan ini tidak tahu kabarnya.
"Aku kerjakan di mana? Di sini atau di Indonesia?"
^^^"Terserah Kakak saja mau di mana?"^^^
__ADS_1
***
Pilihan apa yang akan dipilih oleh Shine? Tetap di Amerika atau ke Indonesia? Tunggu kelanjutannya, ya!