
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 41
Langit membuka file data pribadi milik Pedro. Dia berhasil meretas semua akun milik kakaknya Martin itu. Bahkan chat dia dengan semua orang bisa dia buka dan membacanya.
Akun data ini dibuat sekitar 15 tahun yang lalu. Jadi, mereka mempunyai data mulai dari sana.
"Aku copy dulu data milik Pedro," ucap Langit.
Saat data penyalinan baru mencapai 90% pihak musuh sudah tahu kalau data milik Pedro sedang diretas oleh seseorang. Mereka pun memberikan perlawanan agar data tidak berhasil dicuri.
"Tinggal 5 % lagi!" Angkasa yang berdiri sambil membungkuk di dekat Langit, ikut deg-degan dan gereget.
Langit yang tangannya bergerak sangat cepat sampai terlihat jarinya-jarinya itu tidak jelas menekan tombol mana. Bola matanya juga bergerak ke kiri, kanan, atau sembarang arah, mengikuti tulisan di layar laptop.
"Ayo tinggal 3% lagi!" Suara Angkasa memenuhi ruangan itu.
Martin takjub dengan gerakan cepat tangan milik Langit. Fokus yang masih saja terjaga, padahal banyak orang-orang yang membuat kegaduhan di bawan.
Data yang berhasil di salin baru 99%, tinggal 1% lagi, Langit semakin gencar melawan hacker milik lawannya.
"Makan, itu!" Langit mengumpat sambil menepuk tangannya.
"Kanapa, Tuan?" tanya Martin.
"Apa berhasil?" tanya Angkasa.
"Aku memasukan virus ke data milik mereka. Pastinya data yang mereka miliki saat ini akan rusak dan tidak akan bisa dipulihkan.Â
__ADS_1
"Virus baru buatan aku ini, sangat garang. Tidak akan mudah untuk mengatasinya," ucap Langit sambil tersenyum miring.
Martin menatap kagum kepada Langit yang sedang bertos dengan Angkasa. Keduanya terlihat senang.
"Kita mulai pencariannya!" ucap Langit.
Langit mulai membuka file yang berhasil dia salin tadi. Dia membuat beberapa kopian data itu dan membagi ke beberapa orang kepercayaannya. Agar pekerjaan mereka cepat selesai.
***
Sementara itu, di tempat lain. Shine juga sedang merasa bahagia. Akhirnya, dia bisa menikah dengan Amira. Gadis itu sudah berada dalam genggamannya. Dia tidak akan pernah melepaskan perempuan yang sudah mencuri perhatiannya sejak pertama kali mereka bertemu. Seiring berjalannya waktu, cinta pun hadir dengan cepat.
"Honey," bisik Shine pada Amira dengan mesra dan penuh kasih sayang.
"Iya. Ada apa?" tanya Amira dengan lembut dan malu-malu.
"Nama panggilan sayangnya untuk aku," kata Shine.
Amira melirik ke arah keluarganya dan keluarga suaminya yang sedang duduk di sofa sambil ngobrol. Dia juga memastikan tidak ada Sky yang suka usil padanya itu.
Kali ini giliran Shine yang tersenyum senang karena Amira memberi panggilan 'Sayang' untuk dirinya. Dia mempunyai panggilan sayang seperti kedua orang tuanya.
"Haus, ingin minum," kata Shine dengan manja.
Amira pun mengambil minuman yang ada di atas nakas. Lalu, memberikannya kepada sang suami. Dia membantu minumankan air di dalam gelas itu dengan perlahan.
"Lagi?" Amira menatap suaminya.
"Sudah. Honey, duduk di sini bersama dengan aku, ya!" pinta Shine sambil menepuk kasurnya.
"Sayang, di sini sekarang sedang banyak orang," bisik Amira dengan menahan malu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Mereka juga mengerti, apalagi kita ini pasangan pengantin baru," balas Shine dengan senyum nakalnya.
Amira bersikukuh tidak mau naik ke atas kasur. Dia memilih duduk di kursi sampingnya.
"Aku mau tidur," kata Shine.
Amira pun membantu membaringkan tubuh suaminya. Tanpa dia duga, Shine memeluknya dengan menggunakan sebelah tangannya. Lalu, menarik sehingga jatuh pada dadanya dan membalikan tubuh dia, sehingga kini istrinya ikut berbaring bersama dengannya.
"Shine," lirih Amira. Keduanya beradu pangang.
"Aku ingin tidur sambil memelukmu," bisik laki-laki yang kini kakinya mengunci pergerakan Amira biar tidak kabur.
Kejadian itu di saksikan langsung oleh Cantika dan Alex. Untungnya Kiai Samsul dan Ummu Habibah tidak melihat secara langsung. Mereka hanya tahu kalau Amira kini tidur di atas kasur bersama dengan suaminya.
"Dasar pasangan muda zaman sekarang. Mentang-mentang sudah halal, tidak malu bermesraan di depan orang lain," ucap Kiai Samsul sambil menggelengkan kepalanya.
Sementara itu, Ummu Habibah yang semula tercengang kini tersenyum. Lalu, dia berbisik pada suaminya, "Biar cepat punya cucu."
"Oh, iya juga. Kita sudah sangat tua. Semoga saja masih diberi rezeki umur untuk melihat cucu kita," balas Kiai Samsul.
"Mungkin zaman dulu, begitu menikah tidak langsung bersatu. Ada yang keesokan harinya, satu minggu setelah menikah baru bercampur dengan pasangan, bahkan ada yang satu bulan lebih baru bisa bercampur dengan pasangannya karena mereka di jodohkan. Dengan seiring berjalannya waktu, timbul perasaan dari keduanya, baru mereka bercampur buat anak," jelas Ummu Habibah.
"Kalau Kiai dan Ummu, masuk kategori mana?" tanya Alex dan Cantika mencubit pahanya karena hal itu tidak sopan.
"Kami di jodohkan. Kita dulu menikah di usia masih muda. Karena pada zaman segitu masih lumrah. Namun, pernikahan kami tidak kunjung mendapatkan buah hati. Amira terlahir di saat usia aku sudah berkepala lima," jawab Kiai Samsul.
"Wah, aku salut akan kesetiaan Anda pada sang istri," ucap Alex.
"Pastinya ada saja masalah yang menimpa dalam rumah tangga kita. Tetapi, kami berdua selalu bersama-sama melewatinya. saling mendukung dan mengingatkan, kerap kali kami lakukan setiap hari.
'Mudah-mudahan Amira tidak sampai mengalami hal seperti ibunya.' (Shine)
__ADS_1
***
Apakah Amira dan Shine akan cepat punya anak? Atau malah Amira itu termasuk wanita yang sulit hamil? Tunggu kelanjutannya, ya!