CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 20. Kepergok Kiai Samsul


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.


***


Bab 20


"Assalamu'alaikum," salam seseorang dari depan rumah Kiai Samsul.


"Wa'alaikumsalam," balas ketika orang itu.


Umma Habibah berjalan dengan cepat dan bukakan pintu. Terlihat ada Amira berdiri di sana.


"Ya Allah, Amira, Umma kira tidak akan datang hari ini," kata Umma Habibah sambil memegang pipi putrinya yang terasa dingin.


"Cepat bawa masuk, Umma! Kasihan Amira kedinginan," titah Abah.


Amira masuk ke dalam rumah keadaan basah kuyup dan menggigil. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada Shine sedang duduk di sana. Namun, dia bersama abaikannya dan segera masuk ke kamar mandi.


'Ya Allah, kenapa di saat aku mulai belajar untuk melupakan dirinya. Dia malah hadir kembali terhadap aku.'


Gadis bercadar itu sekarang ingin secepatnya menyelesaikan keperluan di kamar mandi. Sungguh dia merasa sangat kedinginan setelah berada di bawah guyuran hujan selama berdua jam. Ini semua gara-gara mobilnya yang tiba-tiba mogok.


"Amira minum susu wedang jahe ini dulu, untuk menghangatkan tubuhmu!" titah Umma Habibah Siapa yang menyerahkan segala air susu yang sudah dicampur dengan air rebusan jahe.


"Terima kasih, Umma."


Amira pun segera habiskan minumannya itu. Lalu, tidur menggunakan selimut tebal karena dia masih merasa kedinginan.


***

__ADS_1


Sementara itu, Shine yang berniat untuk pulang dicegah oleh Kiai Samsul, karena di luar masih hujan deras dan berangin kencang. Pemuda itu merasa tidak enak, takut ada fitnah diantara dirinya dan Amira. Hal yang bisa membuat nilai jelek di pandangan masyarakat.


"Tapi Abah, aku merasa enak dengan omongan tetangga nanti," kata Shine dengan suaranya yang lirih.


"Abah akan memberi tahu kepada Pak RT dan Pak RW, kalau ada tamu jauh yang sedang berkunjung ke sini," balas Kiai Samsul mencoba menenangkan Shine.


Akhirnya, Shine pun menginap di rumah Kiai Samsul. Dia dan Amira bisa saling bertatap muka saat makan malam. Setelah menjalankan sholat Magrib berjamaah di rumah, karena hujan deras masih mengguyur. Shine di minta Kiai Samsul untuk menjadi imam.


Hal yang baru Amira tahu adalah Shine memiliki suara yang sangat bagus dan fasih dalam membaca Al-Qur'an. Sesuatu yang tidak pernah dia sangka sebelumnya. Meski Rain masih lebih unggul dibandingkan dengan Shine. Hal ini jelas saja karena Rain pernah mengenyam pendidikan pesantren dan sering jadi juara MTQ.


"Apa Nak Shine juga dulu pernah mencari ilmu di pesantren?" tanya Kiai Samsul setelah selesai makan.


"Tidak pernah Abah. Mama dan Papa memanggil guru khusus untuk mengajari kami ilmu agama. Kami punya jadwal khusus setiap harinya, yaitu setelah subuh dan magrib. Papa mendatangkan guru-guru terbaik bagi kami agar kami tahu dan paham akan agama Islam," jawab Shine.


"Oh, pantas kamu sudah sangat fasih dalam membaca ayat-ayat Al-Qur'an tadi," ucap Umma Habibah sambil tersenyum senang. Baginya tidak mendapatkan Rain sebagai menantu, dapat Shine juga tidak apa-apa.


Amira diam-diam mencuri pandang ke arah Shine. Dia merasakan kagum akan kedisiplinan dan kerja keras pemuda itu bersama saudara saudaranya. Keluarga Andersson bukanlah sembarang orang. Mereka mempunyai kecerdasan dan kekuatan fisik di atas rata-rata manusia pada umumnya. Rain yang usianya 5 tahun lebih muda darinya, tetapi sekolah bisa seangkatan dengannya saat mereka lulus SMP.


***


Shine keluar hendak ke kamar mandi. Suhu yang dingin membuatnya ingin buang air kecil. Saat dia hendak masuk ke toilet, dari arah dalam ada seseorang yang membuka pintu. Betapa terkejutnya dia saat melihat ada Amira di hadapannya kini tanpa cadar dan memperlihatkan kesempurnaan wajahnya.


"Amira," gumam Shine.


"Shine." Amira langsung menutup wajahnya saat sadar kalau saat ini dia tidak memakai cadar. Apalagi dia takut kalau tiba-tiba Shine akan menciumnya seperti dulu.


Pletak, Duar!


"Astaghfirullahal'adzim," kata kedua orang itu.

__ADS_1


Tiba-tiba saja kilat menyambar diiringi suara guntur yang sangat keras. Hujan pun turun dengan deras kembali. Tanpa Amira sadari kalau saat ini dia sedang memeluk tubuh Shine. Dia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Shine yang menjulang tinggi di depannya.


Shine sendiri diam mematung. Dia tidak tahu harus berbuat apa saat ini. Membalas pelukan itu atau melepaskannya.


"Ehem!"


Sebuah suara mengejutkan keduanya. Amira baru sadar kalau saat ini dia sedang memeluk tubuh laki-laki bule yang sedang dia hindari. Lalu, dia pun dengan cepat melepaskan diri dan dengan cepat berlari ke arah kamarnya.


Shine melihat ada Kiai Samsul memergoki mereka berdua. Bapaknya Amira itu berdiri tidak jauh dari tempatnya saat ini. Dia melihat laki-laki tua itu menatapnya tajam kepadanya seolah meminta penjelasan padanya, kenapa mereka berpelukan di malam hari dan dekat kamar mandi pula.


"Izin sebentar Abah, mau buang air kecil dulu," kata Shine karena sudah kebelet.


Setelah keluar dari kamar mandi, Shine pun duduk di kursi meja makan. Di mana Kiai Samsul sedang menunggu dirinya untuk menjelaskan kejadian tadi.


Lalu, Shine pun menceritakan semua yang terjadi tadi. Selain itu, dia juga curhat kalau dia sangat menyukai Amira. Namun, gadis bercadar itu tidak memiliki perasaan yang sama.


"Abah rasa, dia punya perasaan kepada kamu juga. Entah sadar atau tidak. Sejak kita makan malam bersama tadi, Abah sering memergoki Amira, diam-diam melirik ke arah kamu," ucap Kiai Samsul dengan diiringi senyum tipis.


"Benarkah itu, Abah?" tanya Shine.


Dia juga tadi menyadari kalau Amira selalu curi-curi pandang kepadanya. Namun, Shine tidak mau membuat malu Amira jika dia membalas tatapannya itu.


"Kalau kamu benar-benar ingin menjadikan Amira pendamping hidup sampai maut memisahkan. Maka, abah akan membantu untuk membicarakan hal ini kepadanya," balas pria yang sudah berusia senja ini.


"Terima kasih, Abah. Tapi, saya berharap kalau Abah tidak memaksa Amira. Biarkan semua berjalan atas keinginan Amira sendiri," ucap Shine.


Dia akan berusaha meluluhkan hati Amira, sehingga dia sendiri yang menawarkan dirinya untuk dipersunting olehnya. Ini dikarenakan dia punya perasaan yang spesial untuknya.


"Jika, Amira punya perasaan cinta untukmu, akankah kamu segera menikahinya?" tanya Kiai Samsul.

__ADS_1


***


Jawaban apa yang akan diberikan oleh Shine? Tunggu kelanjutannya, ya!


__ADS_2