
Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih, like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan segala urusannya.
***
Bab 44
Amira terbangun oleh bunyi alarm. Ketika dia membuka mata, yang pertama kali dia lihat adalah wajah Shine. Disentuhnya muka suaminya yang kini sudah mulai sembuh dari lukanya. Bahkan warnanya sudah memudar.
'Cepat sekali pemulihan lukanya. Ini apa obat yang digunakan hebat atau regenerasi tubuh Shine yang cepat? Ini terlalu cepat untuk ukuran normal manusia biasa.' (Amira)
Tanpa dia sadari kalau sebenarnya Shine sudah bangun sejak Amira mulai menyentuh wajahnya. Namun, dia membiarkan sang istri berbuat sesukanya.
"Aku masih tidak menyangka kalau akan menikah denganmu. Laki-laki yang dulu aku anggap sangat menyebalkan. Lucu sekali, jika mengingat-ingat lagi kejadian dulu," kata Amira bermonolog.
"Aku harus bangun dan sholat. Tapi, bagaimana ini? Tangan dan kaki Shine mengunci tubuh aku," gumam Amira.
Shine dalam hatinya tertawa mendengar ocehan istrinya. Dia sengaja menahan tangan dan kakinya agar Amira tidak bisa bergerak.
Amira mencoba memindahkan tangan Shine, tetapi sangat sulit. Begitu juga saat dia ingin memindahkan laki laki itu. Namun, perempuan tidak hilang ide. Dia menurunkan cadarnya. Lalu, mengecup bibir suaminya dan sesuai dengan dugaannya, kalau suaminya itu sudah terjaga, tetapi pura-pura masih tidur.
Mata Shine langsung terbelalak saat merasakan sesuatu yang lembut menempel pada bibirnya. Dia tahu kalau itu adalah bibir milik istrinya. Detik berikutnya dia langsung melahap benda lembut dan kenyal itu, sampai membuat si empunya ke walahan dan ngos-ngosan kehabisan napas.
"Sa-yang, sho-lat," kata Amira terputus-putus.
Mau tidak mau Shine pun melepaskan pelukannya pada tubuh sang istri. Lalu, keduanya pun bangun dan duduk sejenak untuk berdoa dan berdzikir sedikit (seharusnya begitu sadar berdoa 😁😉)
Sky pergi ke masjid yang ada di lantai bawah. Sementara itu Shine menjadi imam bagi Amira, di ruang rawat inap. Hari ini Shine juga sudah bisa pulang, setelah cek kesehatan nanti di pagi hari.
"Kamu jangan lupa makan yang bisa bikin menambah stamina. Asupan gizi sudah bisa terpenuhi oleh suplemen. Jangan banyak begadang. Biarkan organ dalam tubuh kamu beristirahat. Usahakan tidur selesai sholat Isya itu akan lebih baik untuk kamu," ucap Angkasa begitu selesai melakukan pengecekan kesehatan adiknya.
"Tenang saja, Kak. Tubuh aku lebih kuat dari kamu," bisik Shine dan membuatnya mendapat pukulan di perutnya.
__ADS_1
"Aaa-hk! Sakit Kakak~!" teriak Shine.
"Makanya jangan sombong jadi orang," balas si sulung.
"Setidaknya aku tidak mengalami koma seperti Kakak," balas Shine sambil menggerutu.(Angkasa pernah koma lama, baca di Trio Kancil)
"Hei, siapa yang sudah membuatkan obat dan pengaturan makanan yang gizi seimbang untuk tubuh kamu?" tanya Angkasa dengan gemas.
"Kakak aku yang paling gede," balas suami dari Amira itu.
Shine pun pulang bersama keluarga Amira dan keluarganya. Mereka pulang ke mansion Andersson.
***
Amira berperangah melihat kediaman keluarga Andersson yang begitu sangat luas. Jarak dari pintu gerbang ke rumah begitu sangat jauh. Belum lagi rumahnya yang bagaikan istana megah.
'Bagaimana jika aku tersesat di dalam rumah ini?' (Amira)
Amira hanya tersenyum kikuk, karena sang suami bisa membaca apa yang sedang dia pikirkan. Jadinya dia malu sendiri.
"apakah sering kejadian para penghuni rumah tersesat?" tanya Amira.
"Biasanya para pegawai baru atau tamu yang baru pertama kali datang ke sini," jawab Shine.
Kamar tidur Shine berada di lantai 3, sehingga mereka menaiki lift untuk mencapai ke sana. Amira merasa takjub dengan interior rumah itu, begitu juga dengan barang-barang yang ada di sana.
Waktu pertama kali Amira datang ke rumah keluarga Hakim, dia juga dibuat terpana dengan kemegahan dan kemewahannya. Namun, kediaman ini lebih dari itu.
Saat Amira masuk ke dalam kamar tidur Shine, dia tidak pernah membayangkan akan menempati sebuah ruangan yang begitu luas dan nyaman serta semua fasilitas lengkap ada di sana.
Selama hidup Amira, tempat tidur termewah yang pernah dia tiduri adalah kamar hotel presidential suite room. Namun, gambar suaminya ini lebih bagus dari itu.
__ADS_1
"Apa ini tempat tidur kita?" tanya Amira sambil menatap ke arah suaminya.
"Iya. Di sini kita akan menghabiskan waktu bersama," bisik Shine dengan kedipan mata jahilnya. Itu membuat Amira merona.
***
Sky dan Martin sedang berada di sebuah ruangan yang remang-remang. Lalu, datang Angkasa dan Langit.
"Peter belum datang?" Angkasa mencari mantan bodyguard kesayangannya.
"Dia lagi sibuk sama anak-anaknya," celetuk Sky sambil menyeringai.
"Itu bodyguard kamu," tukas Langit yang kini membuka laptop dan menyambungkan ke sebuah proyektor.
Tidak lama kemudian datang Peter dan Akira. Tentu saja membuat Sky semakin memberengut.
"Kenapa para lelaki tua yang malah terjun langsung," gumam Sky.
"Langit sama," panggil Akira pada tuan muda kesayangannya itu.
"Akira!" pekik Langit senang. Dia pun berlari dan memeluk tubuh tua, sang ajudan kebanggaannya.
"Senang sekali kamu mau ikut bergabung lagi bersama dengan aku," ucap Langit.
"Demi keluarga Alex, akan aku lakukan hal terbaik semampu aku," balas Akira, si jenius mantan yakuza.
"Bagus. Dengan begini pormasi lebih sempurna." Tiba-tiba saja Alex masuk ke ruangan itu bersama dengan Shine.
***
Aksi keluarga Andersson sudah kembali akan dimulai. Tunggu kelanjutannya, ya!
__ADS_1