CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku

CEO Narsis: Kau Ditakdirkan Untukku
Bab 74. Di Rumah Sakit


__ADS_3

Teman-teman baca sampai selesai, ya. Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan ⭐⭐⭐⭐⭐. Semoga hari ini kalian bahagia dan dimudahkan rezekinya.


***


Bab 74


Shine merasa ada tangan yang menggenggam tangannya, lalu dia pun membuka matanya dengan perlahan. Dia melihat ada Amira yang tertidur sambil duduk di sampingnya. Lalu, laki-laki itu melihat cairan infus miliknya tinggal sedikit lagi.


"Sepertinya aku sudah lama tertidur," kata Shine bermonolog.


Amira merasa sangat nyaman dalam posisi tidurnya dan dia juga merasa tidur dengan nyenyak. Dia bahkan merasa kehangatan dari pelukan suaminya. Bukan hanya itu, wangi tubuh suaminya yang sangat dia sukai pun kini tercium sangat jelas dan membuat dia ingin terus menghirupnya.


Shine yang merasakan pelukan istrinya semakin mengerat dan wajah cantiknya di telusupkan di dada. Membuat dia ingin mencumbu sang istri. Tanpa membuang waktu, laki-laki itu pun mencium kening, lalu kelopak matanya. Begitu Amira membuka matanya, Shine melu_mat bibir merah itu.


"Sayang." Amira ngos-ngosan sambil memejamkan matanya.


"Kangen sama kamu, Honey." Shine kembali mencum_bu istrinya.


"Sayang, ini di rumah sakit," bisik Amira yang mulai ikut merasa panas pada akibat ulah suaminya.


"Kita belum pernah mencoba melakukan hal itu di rumah sakit, 'kan?" bisik Shine di leher dan dada Amira dengan nakal dan menggoda.


"Nanti akan ada orang yang masuk dan melihat kita," balas Amira dengan mendesis menahan hasrat yang sudah semakin menggelora.


"Tidak akan ada yang masuk atau melihat kita. Aku sudah mengunci pintunya dan cctv juga sudah dalam keadaan mati," balas Shine dengan puas melihat karya ciptanya di bagian tubuh Amira.


"Aku tidak bawa baju ganti," kata Amira pasrah pada akhirnya.


"Sudah ada. Tadi mama bawakan baju ganti untuk kamu dan aku," balas Shine sambil menunjuk ke arah sofa.


Amira bisa melihat ada ada sebuah tas di atas sofa. Tas miliknya yang dibelikan oleh sang suami sebagai hadiah satu minggu pernikahan mereka dulu.

__ADS_1


“Allahumma janibnasyaithana wa janibnisyathanamarazaqna.” (Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkanlah kami dari gangguan setan dan jauhkanlah setan dari rezeki (bayi) yang akan Engkau anugerahkan pada kami)


Shine merapalkan doa yang sudah sangat hafal di luar kepalanya. Sebab, sudah doa keseharian dia. Bahkan sehari lebih dari satu kali.


Kedua sejoli itu pun akhirnya mengarungi surga dunia di rumah sakit. Mereka tidak perlu takut ada yang akan menuntut, karena rumah sakit itu milik keluarga Andersson. Bahkan Amira tidak perlu menahan suara indahnya karena Shine bilang kamar itu khusus dipasangi peredam suara, sehingga tidak perlu khawatir kedengaran dari luar.


***


Alex dan semua pasukan tim keamanan keluarga Andersson, pulang. Namun, mereka terlebih dahulu pergi ke rumah sakit milik keluarga Andersson, untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.


"Sayang, kamu tidak apa-apakan?" tanya Cantika saat melihat suaminya berjalan di koridor rumah sakit.


Wanita cantik meski sudah di usia senjanya, memeluk tubuh suaminya yang selalu membuatnya khawatir. Perempuan itu menelisik semua tubuh suaminya. Berharap tidak ada luka padanya.


"Aku baik-baik saja, Honey," kata Alex lalu menarik tubuh Cantika ke dalam pelukannya. Diciumi wajah istrinya dengan lembut.


"Alhamdulillah. Allah selalu melindungi kamu, Sayang," balas Cantika ketika pagutan bibir mereka terlepas.


"Bagaimana kalau kita pergi umrah berdua saja. Jangan bawa siapa pun, kita pergi diam-diam," bisik Cantika.


"Ide yang sangat bagus, Honey. Kita persiapkan diri, yuk!" ajak Alex sambil merangkul tubuh Cantika ketika berjalan.


***


Angkasa dan Langit berbicara dengan Bintang lewat video call. Ketiga anak kembar itu sedang membahas kejadian di Pulau Leon. Kedua laki-laki itu membicarakan apa yang mereka alami selama di sana. Praduga dan kemungkinan kelompok Flaminggo, masih ada sisa-sisa anak buahnya yang kebetulan tidak ada di pulau itu. Seperti James Black yang tidak ada di pulau malam itu.


^^^"Kalian harus hati-hati. Apa yang tampak di permukaan tidak sama dengan yang di dalam."^^^


"Bintang, seharusnya kamu ke sini juga. Biar kita bisa kompak seperti dulu lagi." (Langit)


"Adik kita kehilangan partner bertengkar dikala berada di medan perang." (Angkasa)

__ADS_1


"Yang benar itu, Kak Angkasa berasa kurang kalau tidak berteriak memerintah kita saat di tempat yang genting." (Langit)


^^^"Ya, itu benar." (Bintang tertawa)^^^


Angkasa hanya mendengus kesal karena kedua adiknya sudah berkomplot dan melawan dirinya. Dia memang seperti itu, yang membuat strategi dan kedua adiknya yang beraksi.


^^^"Kirim video yang diambil oleh kalian. Akan aku pelajari. Syukur-syukur suamiku mau ikut memeriksa.^^^


"Oke, aku kirim sekarang." (Angkasa)


Kedua laki-laki yang mempunyai wajah yang sangat mirip dengan Alex itu pun langsung memeriksa kembali file yang di kirimkan oleh Bintang barusan. Angkasa dan Langit saling memandang dengan mata yang terbelalak.


"Tidak mungkin!" teriak kedua orang itu.


***


Sky kini sedang berada di ruang rawat inap William. Ada Fatih juga di sana.


"Sky, kamu harus berhati-hati. Ternyata James Black masih berkeliaran. Kami tidak menemukan keberadaan dirinya di pulau itu. Ini membuktikan kalau dia masih bisa mengintai kalian," kata Fatih.


"Iya, Om," balas Sky.


"Pasang alat GPS pada tubuhmu, agar mudah menemukan keberadaan dirimu. Meski di mana pun kamu berada," lanjut Fatih.


Ada pesan masuk dari Angkasa. Sky pun pamit dari ruangan itu.


***


Apa yang sebenarnya terjadi? Siapakah James Black ini? Tunggu kelanjutannya, ya!


Sambil menunggu up bab berikutnya. Yuk baca juga karya teman aku ini. Ceritanya bagus dan seru, loh! Cus kepoin karyanya.

__ADS_1



__ADS_2