
Teman-teman baca sampai selesai ya, Jangan di skip biar terbaca oleh sistem. Lalu, jangan lupa untuk selalu memberikan dukungan kepada aku dengan kasih like, komentar, bunga, kopi, vote, dan 🌟🌟🌟🌟🌟. Semoga hari ini kalian bahagia dan sehat selalu.
***
Bab 70
DOR! DOR!
DOR! DOR!
David menembakkan pelurunya secara membabi buta ke arah Alex dan yang lainnya. Untung saja dia menembak ke arah bagian atas, sehingga Alex dan lain-lainnya bisa berziarah di lantai.
Alex pun membalas tembakan David dengan tembakan peluru biusnya. Dia berapa kali melancarkan tembakan itu ke arah tubuh sehingga laki-laki itu jatuh tidak berdaya.
"Sepertinya dia sudah tidak sadarkan diri," kata Fatih.
"Apa perlu aku periksa terlebih dahulu?" tanya Fatih.
"Tidak perlu. Karena aku yakin sudah begitu banyak peluru yang benar-benar mengenai bagian tubuhnya," jawab Alex.
Ketiga orang itu pun keluar dari tempat persembunyian. William terlihat masih merasakan kesakitan di punggungnya.
Alex memeriksa satu persatu tubuh lawannya. Untuk memastikan kalau mereka benar-benar mati dan tidak sadarkan diri. Juan dan Andreas memang mati di tempat. Sementara itu, David dia dalam keadaan tidak sadarkan diri.
"Jangan-jangan dia mati, karena terlalu banyak kena tembakan obat bius," ucap William.
"Aku rasa tidak," balas Alex.
"Ya, dia akan baik-baik saja. Mungkin saja dia akan bangun tahun depan," ucap Fatih saat melihat ada beberapa peluru bius yang masih manancap pada tubuh David.
Ketiga laki-laki tua itu pun tertawa bersama. Mereka tidak menyangka kalau akan mengalami hal seperti ini lagi di saat usia sudah memasuki Senja.
"Sebaiknya kita cari anak-anak siapa tahu mereka membutuhkan bantuan kita," kata Alex.
__ADS_1
***
Sementara itu di tempat Langit, kini mereka berhadapan dengan beberapa orang yang berseragam. Mereka juga membawa senjata pistol di tangannya.
"Tembak!" teriak pimpinan kelompok anak buah Juan setelah mendengar bunyi tembakan dari atas.
DOR! DOR!
DOR! DOR!
"Sepertinya mereka semua sedang menunggu aba-aba dari atasan," ucap Langit.
"Ya. Mereka adalah tipe anak buah yang menurut pada atasan," kata Akira sambil membalas tembakan dari musuhnya.
Baku tembak terjadi di sana, Langit bisa bersembunyi di tempat yang aman. Begitu juga dengan Akira. Hanya saja Nick, dia tidak tahu sekarang bersembunyi di mana.
"Akira kamu tahu di mana nih bersembunyi?" tanya Langit.
"Tidak tahu Tuan," jawab Akira.
DOR! DOR!
Langit bisa mengenali suara senjata buatannya. Dia mendengarkan senjata bola sedang digunakan di lantai atas.
"Apa Kak Angkasa yang sedang menggunakan senjata bola itu?" Langit bertanya-tanya.
Hal ini membuatnya ingin mempunyai ide yang sama. Langit pun mengeluarkan senjata bola yang mirip digunakan oleh Angkasa tadi.
"Akira, aku akan menggunakannya sebaiknya kamu berhati-hati!" Langit memberi peringatan kepada Akira.
'Tuan akan menggunakan senjata rahasia itu.' (Akira)
Langit pun melemparkan bola itu ke tengah-tengah musuh. Tentu saja benda itu membuat penasaran lawan.
__ADS_1
Drrrtttttt! Drrrtttttt!
"A-kh!
"Kyaaa-aak!"
Bola itu terus berputar sambil menembakkan isi peluru yang ada di dalamnya. Sementara itu, lawan mereka terus berteriak karena terkena tembakan dari bola itu.
Sudah lebih dari satu menit bola itu berputar sambil memuntahkan peluru ke segala arah. Akhirnya bisa berhenti juga. Kini di sana terlihat tubuh musuh yang berkelimpahan dengan banyak darah di tempat itu.
"Apa mereka semua itu mati?" tanya Akira penasaran.
"Mungkin saja. Aku tidak tahu ke arah mana saja peluru itu terlontar," jawab Langit.
Lalu Langit dan Akira pun memeriksa keadaan musuh mereka. Kebanyakan dari mereka belum mati meski ada juga yang mati. Selanjutnya mereka pun melucuti senjata milik musuh, tidak bisa memberikan perlawanan kembali.
"Sebaiknya kita mencari teman kita yang lain," kata Langit. Dia baru sadar kalau sekarang ini Nick sedang tidak ada bersamanya.
***
Lalu, pergi ke mana Nick? Bagaimana dengan pertempuran Shine di luar sana? Tunggu kelanjutannya, ya. Sambil menunggu up bab berikutnya yuk baca juga karya aku ini.
Bukan Istana Impian
Irwansyah adalah suami dari Rela Ambarita, anak didik dari ayah Azizah. Dia seorang penyayang dan penyabar. Rumah tangganya yang harmonis jadi hancur, saat dia minta izin untuk menikahi Azizah atas permintaan gurunya. Azizah, seorang guru PAUD dan guru mengaji, harus kehilangan rahimnya karena menderita kanker rahim. Tunangannya meninggalkan dia, setelah tahu tidak akan bisa memberikan keturunan.
Mama Fatonah yang merupakan ibu kandung Irwansyah menolak keras permintaan putranya itu.
Kebaikan hati Rela, memberikan izin pada Irwansyah untuk menikahi Azizah setelah mengetahui kisah pilu hidup gadis sholeha itu.
Tekanan batin Rela dan Azizah rasakan saat mulai kedatangan Tante Rose di rumah mereka, yang suka mengadu domba dan menyebarkan gosip.
Akankah kehidupan rumah tangga mereka bahagia di tengah-tengah gunjingan para tetangga?
__ADS_1
Apakah Irwansyah akan mempertahankan keduanya atau melepas salah satunya?