
Hubungan mereka pun terjalin bertahun tahun. Kebersamaan mereka membuat banyak orang yang iri dengannya. Dari kelas satu sampai kelas enam mereka selalu duduk di bangku yang sama. Mereka sudah melewati ujuan nasional. Tinggal menunggu hasil dari apa yang mereka kerjakan.
Bahkan tak sedikit yang mengatakan mereka berpacaran, biasa lah anak SD dikit dikit di bilang pacaran, ntar cuma bisa cie cie.
Bahkan mereka tak menyangka jika hubungan mereka akan bertahan selama enam tahun.
Di dalam sebuah hubungan pasti ada masalah masalah. Saling menuduh, saling menyahkan bahkan pertengkaran pertengkaran kecil bahkan besar sedinh saja terjadi. Jika seperti itu, pasti Linda yang akan membuat mereka akur kembali.
Setelah akur mereka merasa tak ada kejadian sebelum ini. Semua berjalan biasa biasa saja.
Ayah, Ibu, Dimas dan Zela pun sering liburan pada hari hari libur untuk mengisi kegiatan mereka yang kosong. Zela pun merasa mempunyai keluarga yang utuh.
Sekarang mereka sedang berada di salah satu pantai di Kota Yogyakarta. Karena memang kebetulan hari ini hari libur, jadi banyak wisatawan yang memadati pantai itu.
Untuk menghilangkan jenuh dan beban pikiran setelah ujian nasional, Linda mengajak kedua anaknya itu untuk berlibur di pantai.
Keluarga Dimas juga seperti keluarga keluarga yang lain, yaitu menggelar tikar di tepian pantai. Tetapi yang berada di atas tikar hanya Linda. Sedangkan Zela dan Dimas memilih bermain di tepian pantai bersama ombak ombak kecil di awasi oleh Panji.
"Yah basah deh," ucap Zela karena kakinya terkena ombak, padahal dengan jelas ia melakukan dengan sengaja.
"Aku juga Put, samaan kita," jawab Dimas.
"Put maju yuk," ajak Dimas.
"Ayo Lan," jawab Zela yang sangat bersemangat.
Mereka pun mulai maju maju mendekati ombak. Wah bahagianya mereka ketika ombak mendekat dan membasahi sebagai tubuh kedua anak itu.
Setelah puas dengan ombak, mereka pun hanya duduk duduk di atas pasir sambil menikmati ombak yang saling kejar kejaran.
__ADS_1
Panji yang kelelahan menjaga kedua anaknya yang super aktif pun memilih menyusul Linda yang sedang duduk di atas tikar. Jadi, Linda dan Panji mengawasi dari jauh.
"Put," ucap Dimas, seketika Zela pun menolak dan menatap Dimas. Tatapan itu pun sangat dalam.
"Iya, ada apa Lan?" jawan Zela.
"Aku punya sesuatu buat kamu," ucap Dimas, sambil mengeluarkan sebuah kotak dari saku celananya.
"Apa itu Lan?" tanya Zela penasaran. Dimas pun langsung membuka kotak itu, dan ternyata kotak itu berisi sebuah kalung emas ada liontin di tengah.
"Wah cantik," ucap Zela merasa takjub.
"Kamu nyolong ya," ledek Zela.
"Enak aja, di beliin lah sama ibu," jawab Dimas.
"Jadi, kalung cantik ini buat aku," ucap Zela dengan hati yang berbunga bunga.
"Iya, sini biar aku pakaikan," ucap Dimas lalu berjalan ke belakang Zela dan memakaikan kalung itu. Setelah selesai, wah sangat cantik dan cocok kalung itu berada di leher Zela.
"Cantik banget kamu Put," ucap Dimas merasa bahagia.
"Ah iya, makasih banyak Alan," ucap Zela langsung memeluk Dimas. Setelah puas Zela pun melepaskan pelukannya.
"Put, Alan minta jaga baik baik ya kalung pemberian Alan itu. Kamu juga jaga diri baik baik. Nanti kalo Puput sendiri atau udah punya teman baru, Alan minta, Puput jangan lupain Alan. Jaga baik baik kenangan kita ya. Alan minta maaf selama Alan punya salah sama Puput," ucap Dimas dengan mata yang berkaca kaca.
"Kok Alan ngomong gitu sih, Alan nggak akan pergi kan," ucap Zela menatap Dimas dengan air meminta penjelasan kepada Dimas dengan apa yang Dimas ucapkan tadi.
"Zela, Dimas ayo kesini," ucap Linda mengakhiri percakapan itu.
__ADS_1
"Ayo ke ibu," ajak Dimas, Zela pun hanya mengangguk tanpa menjawab. Masih memikirkan apa yang Dimas ucapkan.
Mereka pun sampai di rumah malah hari, ketika langit sudah gelap, karena tadi Dimas meminta kepada kedua orang tuanya untuk menikmati senja.
Untuk kali ini Zela tidur di rumahnya sendiri. Malah harinya entah mengapa Zela masih belum bisa menutupkan matanya. Zela masih terus memikirkan perkataan Dimas saat sedang menatap senja tadi sore.
"Kedatangan senja yang menenggelamkan matahari mengajarkan pada kita, bahwa segala sesuatu tak ada yang abadi."
Zela berusaha mencerna apa yang dari tadi Dimas ucapkan. Kenapa sikap Dimas seperti seseorang yang akan meninggalkan pasangannya.
Zela berusaha keras untuk berfikir akhirnya pada tengah malam dia pun mengantuk dan terlelap tanpa sadar.
"Aaaaaaa," ucap Zela berteriak bangun dan langsung duduk. Ayah Zela pun menghampiri putrinya mengapa masih pagi sudah teriak teriak seperti orang di hutan.
"Ada apa sayanh," ucap ayah Zela langsung berlari menghampiri putri semata wayangnya yang masih berada di atas ranjang.
"Pah Zela mimpi kalo Dimas pergi ninggalin Zela sendiri," ucap Zela dengan air mata membasahi pipinya. Dengan segera, ayah Zela pun memeluk anaknya, mengusap usap rambutnya. Setelah merasa reda, Zela ingin bertemu dengan Dimas untuk memastikan secara langsung.
"Pah, Zela mau ke rumah Dimas sekarang," ucap Zela.
"Kamu mandi dulu aja sayang, nanti baru ke rumah Dimas," ucap ayah Zela mencoba memberi pengertian.
"Enggak Zela mau sekarang," ucap Zela lepas dari pelukan ayahnya dan berlari menuju ke rumah Dimas.
"Dimas Dimas," ucap Zela mengetuk pintu rumah Dimas.
Zela juga heran, kenapa rumah Dimas gelap dan kosong seakan tak berpenghuni. Tapi Zela tak menyerah, dia terus menggedor nggedor rumah Dimas dan memanggil nama Dimas. Air mata pun turut merasakan apa yang Zela rasakan.
Ayah Zela pun menyusul putrinya menuju rumah Dimas, disana terlihat Zela yang duduk lemas. Ayah Zela pun segera menggendong dan membawanya ke dalam rumah.
__ADS_1