
Akhirnya Zela pun satu motor bersama Dimas. Dimas pun sangat sangat bahagia karena satu motor bersama Zela. Tetapi, bagi Zela ini semua adalah bencana.
"Dim kita ke taman dulu," ucap Zela.
Mendengar ucapan Zela, Dimas pun langsung berbunga bunga. Ekspetasi ekspetasi manis pun langsung terlintas di pikiran Dimas. Hati Dimas pun menjadi, berdetak lebih kencang.
Ekspetasi Dimas ialah, nanti Zela bakal mengungkapkan perasaannya kepada Dimas, atau Zela ingin kembali kepada Dimas, dan membuat hubungan seperti dulu.
Sesampainya di taman, Dimas langsung memarkirkan motornya. Zela pun berjalan mendahului Dimas untuk duduk di sebuah bangku yang ada. Raut wajah pun berseri seri dan senyum yang terus mengembang.
Zela pun duduk diikuti dengan Dimas yang berada di sampingnya. Zela terus saja menjaga jarak dadi Dimas, tapi Dimas terus saja mendekat.
"Dim nggak usah deket deket ngapa!" ucap Zela kesal. Dimas pun menurut, lalu menjauhkan tubuhnya dari Zela.
"Gue mau ngomong sama elo," ucap Zela. Hati Dimas pun dag dig dug.
"Gue mau minta sama elo. Plis lah elo jauhin gue Dim," ucap Zela.
Tidak ada angin tidak ada hujan, Dimas yang mendengar itu pun bagai di sambar petir siang hari.
"Kenapa elo minta buat gue jauhin elo sih Zel?" tanya Dimas menatap mata Zela.
"Ya karena udah cukup dengan drama yang lo buat saat ini! Gue muak dengan semuanya!" ucap Zela dengan nada yang sudah mulai meninggi.
__ADS_1
"Zela! Ini semua gue buat bukan drama! Gue cuma mau elo kembali sama gue," jawab Dimas.
"Buat apa gue kembali sama elo! Buat apa hah!" ucap Zela dengan emosi di ubun ubun.
"Ya buat kita supaya bisa kembali kaya dulu,", jawab Dimas.
"Omong kosong apa yang kau bicarakan Dimas. Masa lalu? Biar lah masa lalu, jangan lo mengusiknya kembali, karena masa lalu tak akan pernah bisa kembali lagi," ucap Zela.
"Oke mungkin bisa saja kembali, tapi tak akan sama persis seperti kita dulu. Lalu buat apa masa lalu itu kembali. Lebih baik tidak usah," ucap Zela.
"Kita saling bertemu hanya sama sama untuk menambah beban hati dan pikiran," imbuh Zela.
"Zel gue mohon, ayo lah kita kembali lagi seperti dulu. Kita bangun dari awal," ucap Dimas dengan tatapan sendu.
"Zel apa sebegitu bencinya elo sama gue," ucap Dimas.
"Coba deh elo pecahin gelas kaca ke lantai, trus pecahan itu elo pungut, trus elo tata lagi kaya semula. Bisa kembali jadi gelas, tapi bekasnya akan selalu ada," ucap Zela.
Dimas pun diam seribu bahasa. Merenungi apa yang di ucapkan oleh Zela.
"Elo juga nggak pernah mikirin perasaan orang lain!" ucap Zela.
"Orang lain mana yang kau sebut Zel!" timpal Dimas.
__ADS_1
"Elo nggak pernah gitu, mikirin perasaan Diva. Diva Dim Diva," ucap Zela membentak.
"Kenapa Diva? Apa Diva ada di dalam masalah ini? Enggak kan," jawab Dimas.
"Benar benar lelaki egois, hanya memikirkan perasaanya sendiri," ucap Zela.
"Gue nggak egois Zel! Gue cuma mau kita kembali kaya dulu," jawab Dimas.
"Nggak egois? Elo pikir dengan elo ngedeketin gue, nggak ada yang sakit hati? Ada Dim ada. Elo nggak pernah mikirin perasaan Diva yang selalu ada buat elo," ucap Zela dengan penuh penekanan.
"Diva hanya sebatas teman buat gue! Diva itu sama menurut gue sama yang lainnya," ucap Dimas.
"Tapi Diva? Mungkin Diva menganggap kamu spesial. Kalo elo nggak bisa balas perasaannya, setidaknya elo hargain deh perasaan Diva, jangan di buat sakit hati," ucap Zela.
"Gue perempuan Dim, gue bisa rasain apa yang Diva rasain. Dan gue juga nggak seegois elo," ucap Zela.
"Jadi gara gara Diva elo nggak bikin masa lalu kita terulang kembali?" ucap Dimas.
"Ini semua gara gara elo sendiri , bukan gara gara orang lain, apalagi Diva," ucap Zela.
"Gue minta sama elo, elo jauhin gue," ucap Zela.
"Ya udah gue duluan, makasih," ucap Zela meninggalkan Dimas.
__ADS_1