
Tak terasa, sudah satu bulan pertemanan mereka terjalin. Cukup dekat Zela dengan keluarga Dimas. Apa lagi Linda, semenjak mendengar cerita art itu, Linda menganggap Zela seperti anak kandungnya sendiri. Linda pun bersikap adil kepada Dimas dan Zela.
Siang ini mereka sedang menikmati waktu berada di taman. Mereka duduk di sebuah bangku sambil menjilati es krim yang hampir meleleh.
"Dimas super hero," ucap Zela menatap Dimas.
"Apa?" jawab Dimas yang juga menatap Zela. Mereka pun saling menatap.
"Dimas super hero suka makan es krim nggak?" tanya Zela.
"Suka lah apalagi sama kamu," jawab Dimas polos membuat Zela menjadi malu malu.
"Zel," giliran Dimas yang memanggil.
"Iya apa?" tanya Zela.
"Aku minta kamu jangan panggil aku Dimas super hero lagi," ucap Dimas.
"Kamu nggak suka kalo aku gitu, ya udah aku nggak manggil kamu nama itu lagi," jawab Zela dengan wajah sedih dan mata berkaca kaca. Dimas pun tak tega menatap Zela, rasanya ia bersalah telah mengatan itu.
Tetapi, Dimas juga risih dengan panggilan Dimas super hero yang dibuat oleh Zela. Dimas bingung mau menjelaskan bagaimana kepada Zela.
"Maksud aku bukan gitu Zel" ucap Dimas mencoba memberi pemahaman untuk Zela.
"Iya aku tahu, aku minfa maaf," ucap Zela dengan air mata yang semula di bendung kini menetesi pipinya.
Itu malah tambah membuat Dimas semakin bingung. Dimas anak terakhir yang biasa di manja, kini di suguhkan dengan seorang anak kecil sedang mengangis. Dimas pun menghapus setiap air mata yang turun dari mata Zela.
__ADS_1
"Udah ya, jangan nangis," ucap Dimas. Hingga akhirnya tangis Zela pun mereda.
"Sekarang, gimana kalo kita bikin nama panggilan buat kita berdua," ucap Dimas.
"Zela setuju," ucap Zela penuh semangat.
"Zela beri nama buat aku, aku beri nama buat Zela," ujar Dimas, Zela pun mengangguk setuju.
Mereka pun mulai memikirkan nama apa yang cocok. Mereka tenggelam dengan pikiran dan khayalan khayalan masing masing.
Hingga sepuluh menit berlalu, tetap saja mereka belum menyuarakan ide mereka. Mereka hanya menjawab tidak tidak atau menggelengkan kepala dengan ide yang muncul di kepalanya.
"Aha aku udah nemu," ucap Zela.
"Cepet banget kamu Zel," protes Dimas yang belum menemukan ide.
"Ah Dimas juga udah nemu nih Zel," ucap Dimas.
"Namanya apa?" tanya Zela menatap Dimas.
"Kamu dulu lah," ucap Dimas.
"Enggak! Kamu dulu," ucap Zela membantah perkataan Dimas.
"Ya udah deh aku dulu," jawab Dimas pasrah.
"Aku beri nama kamu Puput," ujar Dimas.
__ADS_1
"Kok Puput sih kan jelek," protes Zela merasa tak terima.
"Ih Puput kan lucu, gemesin," ucap Dimas dari hati.
"Beneran?" tanya Zela dengan mata berbinar.
"Iya beneran. Sekarang Zela, Zela beri nama aku siapa?" tanya Dimas menatap Zela.
"Alan," jawab Zela polos.
"Jelek banget, kon Alan," ucap Dimas yang giliran protes.
"Ih Dimas, Alan kan pangeran," ucap Zela mencubit Dimas.
"Aduh sakit, jangan nyubit nyubit dong Put," ucap Dimas.
"Kok Put sih?" tanya Zela yang masih bingung.
"Ya kan tadi aku beri nama kamu Puput," ucap Dimas, Zela pun tersenyum senang.
"Emang beneran, nama Puput itu ngegemesin?" tanya Zela yang belum percaya.
"Iya Zela beneran," jawab Dimas.
Hingga mereka pun memutuskan untuk pulang karena matahari sedang menyinari tepat di atas kepala kita. Mereka pun di jemput oleh sopir Zela.
Karena terlalu lelah bercanda, mereka pun terlelap bersama sama di mobil. Sesampainya di rumah Dimas, mereka pun langsung di angkat untuk di tidurkan di kasur.
__ADS_1