
Gadis kelahiran Surabaya itu, sedang termenung dengan pikirannya. Berjalan ke arah jendela, lalu berdiri menatap indah bintang yang bersinar di antara gelapnya malam.
*Kenapa kamu membuka luka lama yang telah aku lama pendam. Pergi tanpa pamit, seperti orang yang hilang di telan bumi, bahkan secarik kertas untuk mengakhiri pertemuan kita pun tak ada. Bertahun tahun aku mencoba untuk mencari keberadaan kamu yang tak kunjung ketemu, hingga akhirnya aku mengenal kata menyerah.
Setelah aku menyerah, perlahan lahan namamu pun hilang dari ingatanku. Dan aku pun memulai menata hidupku kembali tanpamu. Hinga akhirnya aku pun berhasil melupakan mu walau di hati masih membekas tulisan nama mu.
Hingga aku merasa aku baik baik saja seperti aku sebelum mengenal kamu. Tapi kini? kenapa kita dipertemukan dalam waktu yang tidak tepat. Aku belum siap jika luka lama ku akan kembali lagi.
Huh sekarang perasaan sedang terombang ambing oleh waktu. Cepat atau lambat pasti kita akan bertemu kembali, aku sangat yakin itu*.
Begitulah kata kata yang terlontar bergitu saja dari mulut Zela. Kata kata itu juga diselingi dengan cairan bening dari pelupuk mata yang menggenangi pipinya.
"Woi elo kenapa Zel," ucap Hana menepuk bahu Zela. Zela pun cepat cepat menghapus air matanya.
"Elo nangis," ucap Hana sambil mengajak Hana untuk duduk di atas ranjang.
"Elo kenapa?" tanya Hana.
"Ng nggak papa gue, hemm," ucap Zela gugup dan menggantung perkataannya.
"Hem kenapa?" tanya Hana yang semakin penasaran.
__ADS_1
"Ah iya, gue cuma rindu sama Surabaya," jawab Zela dengan senyum dipaksakan supaya Hana tidak terus bertanya yang lebih jauh lagi.
"Oh gitu, elo gimana sih, katanya mau ikut sama gue ke Jakarta, baru beberapa hari di Jakarta udah rindu aja sama Surabaya," ucap Hana yang tidak menaruh curiga sama sekali atas ucapan Zela.
"Ya maklum lah gue kan tinggal dari kecil di Surabaya," jawab Zela.
"Ah masa, nggak percaya gue," ledek Hana.
"Ih masa elo nggak percaya sih, emang muka gue muka muka pembohong apa," ujar Zela kesal.
"Gitu aja ngambek," ucap Hana langsung mencubit pipi Zela.
"Hana! pipi gue," ujar Zela kesal.
Salah satu anak bar bar alumni SMA Harapan pun sama, sedang menatap indah bintang yang bersinar. Kejadian bertemu dengan Puput membuat hatinya semakin gundah. Zela dan Dimas memiliki nama kesayangan tersendiri saat hubungan mereka yang sangat dekat dulu, Dimas menjadi Alan dan Zela menjadi Puput.
Put gue kangen sama elo, maafkan gue. Andai aja gue ngomong sama elo, kalo gue mau pergi kemana pasti kita nggak akan kaya gini. Bertahun tahun kita berpisah, akhirnya di pertemukan. Tapi apakah pertemuan kita adalah pertemuan yang bahagia.
Seperti Zela, kalimat itu pun keluar dari mulut Dimas, mulut Dimas juga tak henti hentinya mengumpat atas penyelasannya.
"Ahh siall," ucap Dimas berteriak.
__ADS_1
Fikri yang mendengar suara teriakan om nya itu langsung berlari saja masuk ke dalam kamar om nya. Dengan lincahnya, Fikri menghampiri Dimas.
"Om lagi ngapain teriak teriak," ucap Fikri langsung memeluk kaki Dimas. Dengan segera, Dimas pun mengangkat keponakan yang menggemaskan itu untuk duduk di atas pangkuannya.
"Om nggak papa ganteng," ucap Dimas mencubit pipi keponakannya itu.
"Lah tadi kenapa teriak teriak?" tanya Fikiri, jiwa penasaran keponakan Dimas itu meronta ronta.
"Ah om tadi cuma tes suara, besok om mau nyanyi," jawab Dimas supaya keponakannya itu tidak terus mendesak untuk menjawab pertanyaannya.
"Oh nyanyi, Fikri ikutan dong om," jawab Fikri yang langsung percaya dengan ucapan Dimas.
"Om udah selesai nyanyi," jawab Dimas.
"Yah," jawab Fikri menundukan kepalanya, tentunya karena kecewa kepada om nya itu. Melihat itu, Dimas pun menjadi tidak tega kepada keponakannya.
"Ya udah, besok kita nyanyi lagi," ucap Dimas.
"Beneran om?" ucap Fikri mengangkat kepalanya, dan menatap Dimas.
"Iya beneran," jawab Dimas.
__ADS_1
"Yeyy," jawab Fikri bersorak.