CINTA ANAK ANAK BAR BAR

CINTA ANAK ANAK BAR BAR
Episode 110


__ADS_3

Sepeninggalan Zela dari taman, Dimas pun langsung ikut pulang. Dimas juga membiarkan Zela pulang sendiri, tanpa adanya drama kejar kejaran.


Di kamar, Dimas termenung memikirkan semua kata kata yang tadi Zela ucapkan. Kata kata yang bisa membuat mulut menjadi bungkam.


Apa benar Diva diam diam menyukainya, tetapi di dalam hati kecil Dimas tidak bisa berbohong, bahwa dia juga mempunyai rasa yang lebih kepada Diva.


Bagaimana ini siapa yang bakal di pilih, apakah Zela yang notabenya teman kecil yang dulu dianggap seperti keluarga, apa Diva yang 3 tahun terakhir ini selalu menemani.


Sama halnya dengan Opal, dia pun sedang bingung, perasaannya seperti di ombang ambing. Hana sepertinya menyukai Firman.


Keesokan paginya mereka mengadakan perayaan atas ulang tahun Lisa yang kemarin di rumah Lisa. Orang tua Lisa mengadakan makan makan sekaligus merayakan kepulangan Kakak Lisa.


Rumah Lisa pun menjadi ramai, walaupun isinya cuma anak anak bar. bar, tapi mereka kalo jadi satu seperti menjadi satu kampung.


Mereka menggelar tikar di atas lantai, lalu di tata lah daun pisang sebagai alas mereka makan. Kemudian di susul dengan nasi liwet, lauk dan teman temannya.


Ayah Lisa pun segera memimpin doa, lalu mereka pun mulai makan. Ya walaupun sederhana tapi bahagiaa wkwkwk.


Selesai makan anak anak bar bar pun segera mencuci tangannya, karena tadi makan menggunakan tangan, lalu anak anak bar bar pun bercengkrama di salah satu ruangan di rumah Lisa yang biasa mereka gunakan.


"Nih tante bawa oleh oleh buat kalian," ucap Vina membawa nampan dari dapur lalu meletakkan di tengah tengah mereka.


"Emang abis dari mana tante?" tanya Fira.


"Bukan tante yang pergi, itu loh Bang Budi," jawab Vina.


"Ya udah kalo gitu tante ke dapur dulu, kalian terusin aja," ucap Vina lalu meninggalkan anak anak bar bar itu.

__ADS_1


"Emang Bang Budi sampai disini kapan?" tanya Hana.


"Baru aja tadi malam," jawab Lisa.


"Kangen elo ama Bang Budi?" ledek Diva.


"Iya lo Han parah, udah deketin Firman, Opal, masa Bang Budi elo deketin juga," ledek Lisa.


"Apaan kalian, gue kan cuma setia sama Firman," ucap Hana sambil menatap Firman, lalu mengedipkan sebelah matanya.


Mendengar ucapan Hana, hati Opal terasa tertusuk oleh sepuluh pedang. Sampahnya dirinya di depan Hana, padahal waktu Firman belum datang, semua baik baik saja.


"Apaan sih jijik gue," ucap Firman kesal.


"Jangan jijik, ntar cinta loh," ucap Hana dengan genitnya.


"Amit amit," ucap Firman bergumam tapi masih terdengar dengan jelas.


"Opal di kemanain Han," ucap Zela dengan nada meledek.


"Udah gue buang," jawab Hana santai.


Entah itu jawaban real atau candaan, tetapi tetap saja bagi Opal itu rasanya sangat sakit. Ibarat aku sing berjuang aku sing kelaran. Maksudnya adalah, aku yang berjuang aku juga yang sakit.


"Wah parah loo Han," ucap Angga.


"Gila parah elo

__ADS_1


"Hajar Pal," ucap Dimas.


Opal pun menganggapi ucapan teman temannya cukup dengan senyuman yang ramah. Hana juga menatap mata Opal tanpa rasa bersalah sedikit pun.


"Gara gara elo tuh Han, Opal jadi nangis," ucap Rafli.


"Kok gue sih, emang gue salah apa," ucap Hana.


...Han, kamu memang nggak ada rasa sedikit pun sama aku ya. ~Batin Opal....


"Emang elo nangis Pal?" tanya Hana kembali menatap Opal.


"Emanh nangis kenapa elo Pal?" imbuh Hana.


"Haha enggak kok, biasa lah mereka suka bercanda jangan di dengerin lah," jawab Opal berusaha menunjukkan bahwa dirinya baik baik saja.


"Lis kado dari gue udah di buka belum?" tanya Firman menatap Lisa.


"Udah," jawab Lisa singkat padat dan jelas.


"Kamu suka?" tanya Firman.


"Iya gue suka," jawab Lisa untuk menghargai kado pemberian dari Firman.


"Kok gue nggak di kasih kado sih Firman," ucap Hana genit.


"Emang kenapa elo pake di kasih kado," ucap Firman jutek.

__ADS_1


__ADS_2