
Kini mereka bersiap siap untuk ke rumah Hana. Seperti biasa mereka berkumpul terlebih dahulu di rumah Lisa. Karena ibunya Lisa yang sangat perhatian, jadi mereka harus sarapan di rumahnya dahulu sebelum ke rumah Hana. Tentu disikapi dengan baik dan semangat yang membawa oleh Opal.
Disela sela makannya, Opal membuka suara karena Dimas yang mereka tunggu tunggu belum datang juga. Seharusnya Dimas sudah datang dari tadi.
"Eh Dimas mana sih kok belum nongol," ujar Opal.
"Iya nih biasanya kan udah," jawab Diva. Tiba tiba ada notifikasi di hp Diva, dengan segera Diva membuka dan membacanya. Ternyata ada pesan dari Dimas yang tak bisa ikut bersama teman temannya.
"Nih Dimas kasih tau ke gue dia nggak bisa karena ada urusan sama keluarganya," ujar Diva.
"Tumben Dimas nggak kasih tau ke gue," jawab Rafli spontan.
"Lo nggak penting," ucap Opal sebagai candaan.
"Emang elo ya," ucap Rafli kesal.
Setelah mereke menyelesaikan sarapannya, mereka pun segera menuju ke rumah Hana setelah berpamitan dengan Vina dan Rizky.
Di perjalanan mereka pun mampir membeli buah buahan dan kue. Karena mereka sadar diri untuk menjamu mereka yang dibilang banyak rakyat pasti akan memerlukan sesuatu yang banyak.
Mobil terparkir sempurna di depan rumah Hana, tapi mereka ragu untuk bertemu dengan Hana. Apakah sikap Hana seperti yang kemarin kemarin terhadap mereka.
__ADS_1
"Udah ayo lah masuk aja buruan," ucap Firman kesal.
"Ya udah ayo masuk," jawab Lisa.
Mereka pun turun dari mobil dan memencat bel rumah Hana. Pintu terbuka lebar, disana sudah ada Ambar dan Bayu yang menyambut mereka dengan senyum sejuta watt.
Mereka masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Kebetulan Zela dari dapur hendak kembali ke kamar melewati ruang tamu, Zela pun heran berasal dari mana orang orang ini.
"Zela sini," ucap Ambar memerintahkan Zela supaya mendekat.
"Ada apa bu?" Zela berjalan menghampiri Ambar.
"Hana dimana sayang?" tanya Ambar kepada Zela.
"Ya udah panggilin Zela suruh kemari, bilang aja ada yang ayah sama ibu mau bicarain," ucap Ambar.
"Oke bu, ya udah Zele ke atas dulu," ucap Zela meninggalkan ruang tamu.
Anak anak bar bar alumni SMA Harapan pun bertanya tanya dalam hati, siapa anak yang tadi, kenapa dekat sekali dengan tante Ambar trus manggilnya ibu lagi. Tapi sayangnya mereka hanya bisa memendam pertanyaan itu jauh jauh karena tidak mau mencampuri urusan keluarga Hana.
Hana pun sudah terlihat menuruni anak tangga menghampiri kedua orang tuanya. Dia memilih duduk di sofa seoranh diri. Hana menatap para teman lamanya dengan tatapan sinis.
__ADS_1
Ini kan orang orang jahat yang ngikutin aku, kenapa sama ini dibawa ke rumah sih, ada ada aja. ~Batin Hana.
"Iya bu ada apa?" tanya Hana.
"Hana ada yang mau ibu bicarain sama kamu," ujar Ambar. Dengan tatapan penuh keseriusan.
"Iya bu ada apa, kalo ada apa apa bilang aja sama Hana," ujar Hana.
"Ini ada temen temen kamu kesini, katanya kangena sama kamu," ucap Ambar menatap anak anak bar bar alumni SMA Harapan, selanjutnya menatap Hana.
Cih apa apaan, kangen nggak, jijik gue kangen ama Hana. ~Batin Firman.
"Temen Hana cuma satu, orang selama ini Hana tinggal di Surabaya nggak pernah ke Jakarta, ini juga pertama kalinya Hana ke Jakarta kalo nggak dipaksa sama ibu," ujar Hana. Teman temannya pun hanya pasrah, yang memang memahami kondisi Hana saat ini.
"Hana ini temen temen kamu, kamu itu dulu itu tinggal di Jakarta, gara gara nenek kamu minta kamu tinggal di Surabaya jadi ibu sama ayah pindahin kamu ke Surabaya," ucap Ambar.
Oh jadi, sekarang mereka pun tahu alasan Hana yang pindah mendadak tanpa memberitahukan mereka.
"Apaan bu, mereka bukan temen Hana, mereka orang jahat, dari kemarin ngikutin Hana terus, ngapain sekarang ibu malah bawa mereka ke mari sih," ucap Hana ketus.
"Hana itu temen kamu di Jakarta," ujar Ambar dengan nada sedikit meninggi.
__ADS_1
"Mereka pun temen Hana! Mereka semua orang jahat!" ucap Hana penuh emosi dan penekanan. Hana pun berlari kembali ke kamarnya.