
Ambar menangis tersedu sedu di pelukan suaminya. Bagaimana tidak, anak satu satunya sedang berada di ICU. Sudah satu jam, tetapi dokter yang sedang menangani anaknya tak kunjung keluar. Membuat Ambar dan Bayu semakin bingung, sebenernya apa yang dialami oleh Hana. Selama ini mereka melihat anaknya baik baik saja.
Tak lama kemudian seorang laki laki berjas putih pun keluar dari ICU. Ambar dan Bayu pun langsung mendekati lelaki itu.
"Anak saya kenapa dok?" tanya Ambar yang begitu panik.
"Apakah bapak dan ibu adalah orang tuanya?" tanya dokter itu.
"Iya, kami orang tuanya, bagaimana kondisi putri kami pak?" tanya Bayu yang sedikit tenang. Kalo dia ikut panik siapa yang akan mengenangkan istrinya.
"Mari bapak dan ibu ikut ke ruangan saya," ujar pak dokter itu. Mereka pun berjalan di belakang pak dokter. Sesampainya di ruangan pak dokter, Ambar dan Bayu pun tidak sabar menunggu hasil dari pemeriksaan Hana.
"Apa yang terjadi dengan anak saya dok?" tanya Ambar.
"Anak ibu mengalami kanker otak stadium akhir," ujar pak dokter.
"Pak jangan bercanda, anak saya itu baik baik aja," jawab Ambar yang tak menyangka.
"Maaf bu, tapi itu sesuai dengan peraturan medis," ujar pak dokter.
"Apakah bisa di sembuhkan dok?" tanya Bayu.
"Karena sel kanker sudah menyebar jadi harapan untuk sembuh hanya 0,5%. Kemungkinan untuk bertahan hidup paling lama hanya satu bulan," ujar pak dokter.
"Ya sudah kalau begitu terima kasih," ujar Bayu.
"Iya pak bu sama sama, semoga di beri kesabaran," jawab pak dokter dan di balas senyuman oleh Bayu.
__ADS_1
Mereka pun keluar dari ruangan dokter itu dan kembali ke ruang ICU. Saat mereka kembali, terlihat suster yang baru saja keluar dari ruangan itu.
"Sus apakah sudah boleh menjenguk?" tanya Ambar.
"Iya boleh, silahkan bu," jawab suster lalu pergi.
Ambar dan Bayu perlahan masuk ke dalam ruangan yang saat ini Hana tempati. Terlihat wajah Hana yang begitu pucat. Perlahan mereka pun mendekati brankar Hana.
"Sayang cepat bangun ya," ujar Ambar mengelus kepala Hana lalu menciumnya.
"Iya, kamu baik baik aja ya. Yang kuat," ujar Bayu.
Sedihnya melihat anak semawa wayangnya terbaring lemas di brangkar rumah sakit. Dan kenyataan pahitnya adalah Hana paling lama bertahan satu bulan. Bagaimana ini.
"Ya sudah bu, kita sholat dan berdoa yang terbaik untuk Hana," ajak Bayu.
Keesokan harinya, Hana baru membuka matanya. Matanya berusaha menyesuaikan cahaya yang ada. Pertama yang Hana lihat adalah ruangan yang serba putih. Dan ada tangan yang sedang menggenggam tanganya. Pemilik tangan itu yang tak lain adalah ibunya Hana yang masih menutup matanya.
Karena merasa ada bergerak, Ambar pun langsung membuka matanya. Bahaginya dia, bangun tidur di suguhkan pemandangan yang di tunggu tunggu.
"Sayang kamu sudah bangun," ucap Ambar dengan girangnya.
"Yah yah bangun," ujar Ambar. Bayu pun segera membuka matanya.
"Hana udah bangun, panggil dokter yah," ujar Ambar. Bayu pun langsung bangun dan mencari dokter yang memeriksa Hana. Saat sudah bertemu, Bayu dan dokter itu pun ke ruangan Hana.
Bayu dan Ambar pun keluar dari ruangan atas perintah dari dokter. Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan Hana di rawat.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi anak saya dok?" tanya Ambar.
"Kondisi pasien baik, tapi ingat hanya satu bulan kalian menghabiskan waktu bersama oh iya setelah ini pasien akan di pindahkan di ruang rawat inap," ujar pak dokter lalu meninggalkan Ambar dan Bayu.
"Hanya satu bulan yah," ujar Ambar.
"Iya, yang sabar ya semoga yang terbaik buat Hana," jawab Bayu.
Ambar dan Bayu pun ke kantin untuk sarapan, sedangkan Hana di temani oleh suster yang merawat Hana. Hana juga sudah di pindahkan di ruang rawat inap. Selesai sarapan, Ambar dan Bayu masuk ke ruang rawat Hana. Disana terlihat Hana yang sedang di bujuk makan oleh suster.
"Udah sus, mulut saya mau mual," ujar Hana.
"Satu kali lagi de, biar nggak lemes," jawab suster. Ambar pun segera menghampiri brangkar Hana.
"Sudah sus sini biar saya saja," ujar Ambar menawarkan diri.
"Oh iya bu silahkan, tapi harus di pastikan makan ya," ujar suster sebelum bangkit dari kursi samping brangkar Hana.
"Baik sus," jawab Ambar duduk di kursi yang tadi suster duduki. Ambar pun mengambil alih sendok dan mangkok, Ambar mulai menyuapi Hana dengan makanan rumah sakit.
"Nih Han makan," ujar Ambar sambil menyiapu Hana.
"Enggak mau bu, nggak enak," jawab Hana.
"Ayo makan biar nggak lemes," ujar Ambar. Ingin mengucapkan supaya cepat sembuh tetapi kemungkinan Hana sembuh hanya 0,5% rasanya hanya sedikit sekali kemungkinan yang akan terjadi.
"Eh bu jangan bilang sama teman teman ya," ujar Hana.
__ADS_1
"Oh iya, untung aja ibu belum bilang sama Zela. Han kamu udah tahu kondisi kamu?" tanya Ambar. Hana tersenyum lalu mengangguk.