CINTA ANAK ANAK BAR BAR

CINTA ANAK ANAK BAR BAR
Episode 102


__ADS_3

Satu minggu sudah Zela seperti orang pesakitan. Orang orang yang melihatnya pasti merasa iba kepada anak itu, apalagi Zela sudah tidak mempunyai ibu. Zela juga selama itu berada di rumah sakit. Tak ada protes dari Zela selama di rumah sakit. Anak itu sekarang menjadi anak yang sangat pendiam.


Akhirnya, hari ini Zela pun sudah di perbolehkan pulang oleh dokter tapi masih harus sering sering kontrol ke rumah sakit.


Zela juga sering menanyakan tentang keberadaan Dimas dan keluarga tapi tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Zela. Terkadang Zela juga berusaha mencari keberadaan Dimas dan keluarga tetapi selalu bisa di gagalkan oleh ayahnya.


Satu bulan berlalu, keadaan Zela alhamdulilah lebih baik. Zela juga sudah mau berbicara tetapi hanya berbicara seperlunya. Ia menjadi seseorang yang sangat tertutup, pendiam dan cuek.


Zela juga sudah mulai masuk di Sekolah Menengah Pertama, Zela yang banyak pendiam jadi sampai sekarang belum ada teman yang dekat. Dia apa apa selalu sendiri.


Guru guru pun heran dengan sikap Zela sampai sampai guru BK memanggil ayah Zela untuk menjelaskan apa yang Zela alami. Ayah Zela pun menjelaskan tentang apa yang Zela alami dari kisah pertama Zela dan Dimas sampai keadaan Zela yang saat ini.


Kini Zela sudah resmi menjadi murid kelas delapan dengan nilai yang biasa biasa saja. Padahal dulu dia termasuk anak yang rajin dan berprestasi.

__ADS_1


Ayah Zela yang melihat prestasi anaknya menurun pun menjadi prihatin. Dia juga tidak bisa memaksa kehendaknya, jika ia memaksa bisa bisa Zela akan tertekan.


Akhirnya, ayah Zela pun memutuskan untuk pindah ke Surabaya. Ia membawa Zela ke rumah ibu dari ayah Zela. Siapa tau, nanti Zela bisa melupakan semua yang terjadi.


Ayah Zela berharap dengan pindah ke Surabaya, Zela bisa melupakan semua kenangan yang berada di Yogyakarta dan mulai menata hidup baru di Surabaya.


Ayah Zela juga ingin kembali melihat anaknya yang dulu, yang ceria, cerewet dan banyak tingkah. Semoga saja harapan ayah Zela bisa terwujud.


Pesawat mereka sudah lepas landas meninggalkan Bandara Internasional Adisutjipto menuju Bandara Internasional Juanda. Di dalam pesawat, Zela hanya diam tanpa berbicara sepatah katapun.


Gaya bicara Zela pun sudah tidak sesingkat dan sedingin dulu. Ia berbicara sudah agak melunak. Zela pun sudah tak sependiam dulu. Banyak yang diajarkan oleh Nenek Zela sampai Zela mulai terbuka.


Ayah Zela pun bahagia, karena secara perlahan anaknya kembali seperti dulu. Keputusan membawa Zela ke Surabaya adalah keputusan yang sangat tepat.

__ADS_1


Satu tahun di sekolah barunya, Zela mulai bergaul dan banyak mendapat teman, tapi masih tetap dengan apa apa sendiri. Tapi lebih baik lah dari pada di sekolah yang dulu, sama sekali tak ada teman. Prestasinya pun kembali membaik seperti semula.


Tapi sangat disayangkan, orang yang Zela sayangi kembali pergi. Nenek Zela yang selalu ada untuk Zela harus pergi selama lamanya. Zela pun berdoa dan berusaha mengiklaskan untuk tidak terpuruk seperti sebelum sebelumnya.


Tingah Zela semakin hari semakin menambah, kini jiwa Zela pun kembali utuh. Pemberani dan pembantah, kini sifat baru yang dimiliki oleh Zela.


Saat masuk MPLS, Zela pun menjadi bahan omongan para kakak kelas dan teman teman yang baru masuk sama sepertinya. Berjalan layaknya preman wkwk, wajah yang songong dan berbuat sesuka hati.


Zela mah bodoamat sama omongan orang orang yang membicarakan tentang keburukannya.


Zela juga termasuk anak yang berprestasi tetapi tingkah lakunya yang kurang sopan dan terlalu bebas berekspresi. Ayah Zela terkadang kewalahan dengan tingkah anaknya yang sering kali di panggil oleh guru BK.


Hingga akhirnya Zela bertemu dengan Hana yang di kenal dengan murid baru. Pertemuan pertamanya membuat mereka langsung cocok dan mulai hubungan lebih dekat. Selanjutnya hari hari mereka di habiskan dengan banyak pengalaman pengalaman baru. Zela dan Hana pun layaknya pasangan yang tak terpisahkan.

__ADS_1


Flash back off


__ADS_2