CINTA ANAK ANAK BAR BAR

CINTA ANAK ANAK BAR BAR
Episode 119


__ADS_3

Sesampainya di rumah Dimas, perasaan Zela makin campur aduk. Rasanya, ia tak ingin turun dari mobil. Tinggal Zela yang masih di dalam mobil. Mereka pun menunggu Zela turun.


"Woi Zel, turun, emang mau ngapain noh di mobil," ucap Hana.


Gue tau Zel, elo pasti belum siap jika ketemu ayah sama ibu. ~Batin Dimas.


"Ah iya iya maaf," jawab Zela.


Zela pun langsung turun dari mobil, lalu menghampiri Hana. Di genggaman tangan Hana erat erat.


"Kenapa elo Zel?" tanya Hana yang menatap Zela heran.


"Nggak papa pengen aja," jawab Zela.


Gue tahu, pasti ada sesuatu di antara kalian. ~Batin Hana.


Mereka pun mulai masuk satu satu ke rumah Dimas, Zela masuk terakhir sebelum Hana. Mereka pun menempatkan diri di ruang tamu.


Maafin gue Zel, jadi buat elo ketemu sama ayah dan ibu. ~Batin Dimas.


Zela pun langsung mengeluarkan hp nya. Dia menunduk dan berpura pura fokus dengan hp nya. Saat mendengar suara Dimas memanggil ibunya, perasaan Zela tambah campur aduk.


"Bu ada temen temen," ucap Dimas berteriak memanggil ibunya. Biasanya kalo hal kaya gini, emak emak antusias. Mendengar suara anaknya, Linda pun langsung pergi ke ruang tamu.


"Ah iya anak anak tante pada main nih," ucap Linda basa basi saat menemui mereka.


"Hehe iya tan, tadi abis joging," jawab Lisa.


"Ini temen cewe kalian yang baru siapa namanya Dim?" tanya Linda memperhatikan Zela. Jantung Zela pun berdetak lebih kencang.


"Zela bu," jawab Dimas. Linda pun tidak sampai berfikir bahwa itu Zela yang ia anggap seperti anaknya sendiri. Linda berpikir hanya itu teman Dimas yang baru.


"Zel kenalan dong, cium tangan, jangan malu maluin," ucap Hana menyenggol lengan Zela.


"Kenalin ya, saya Linda ibunya Dimas," ucap Linda menghampiri Zela, dan yang pertama mengajukan tangannya. Zela pun mendongakkan wajahnya, pandangan Linda dan Zela bertemu. Seketika mulut Linda terbuka lebar.

__ADS_1


"Zela sayangnya ibu," ucap Linda langsung menghujani pelukan kepada Zela. Zela pun tak segan membalas pelukan Linda. Zela dan Linda pun sama sama menumpahkan air mata. Rasa rindu yang ia pendam, sekarang dapat melepaskannya. Linda juga termasuk orang yang Zela rindukan. Bagaimanapun mereka pernah seperti menjadi satu keluarga yang utuh.


Anak anak bar bar yang mendengar pun terkejut. Lalu menatap Zela dan Linda. Dalam hati, mereka bertanya, ada hubungan apa di antara mereka. Sepertinya hubungan mereka sangat dekat. Sampai sampai memanggil Linda dengan sebutan ibu.


Keduanya pun sama sama mengakhiri pelukan itu.


"Udah jangan nangis, entar cantiknya ilang loh," ucap Linda sambil mengusap air mata Zela.


"Ibu juga janga nangis ya, kan jadi Zela ikut nangis," ucap Zela kembali memeluk Linda. Zela pun berusaha menahan air matanya. Lalu mereka pun kembali mengakhiri pelukannya.


"Anak ibu yang kecil ini udah tumbub besar," ucap Linda. Zela pun menanggapi dengan senyuman.


"Bu, ayah mana?" tanya Zela.


"Ah iya ada, sampai ibu lupa. Yah ada anak cantik nih," ucap Linda memanggil suaminya. Mendengar isterinya memangil, Panji pun segera mengakhiri acara minum kopi sambil membaca koran. Dia langsung menghampiri ruang tamu.


Belum sampai ruang tamu, Zela sudah berlari memeluk Panji, ah senangnya melepas rindu. Panji pun kaget melihat Zela disini. Panji pun membalas pelukan itu. Lalu mereka pun sama sama melepas pelukannya.


"Anak ayah yang cantik, bagaimana kabarnya?" tanya Panji sambil mengelus rambut Zela.


"Ayah baik kok sayang," jawab Panji, Panji pun merangkul Zela lalu menuntunnya untuk duduk. Mereka duduk di sofa yang panjang, yang tadinya di situ pada pindah.


Zela pun duduk di antara Panji dan Linda. Zela pun bahagia akhirnya dia merasa mempunyai orang tua yang lengkap kembali, walaupun sudah ada orang tua Hana.


Tanda tanya pun masih muncul di dalam jiwa anak anak bar bar itu. Zela yang terlihat sangat manja kepada Linda maupun Panji, bahkan tak ada rasa sungkan di antara mereka.


"Ayah kamu dimana sayang?" tanya Panji.


"Ayah di Surabaya," jawab Zela.


"Lah kamu disini sama siapa trus tinggal dimana?" tanya Linda.


"Sama Hana dan keluarganya trus tinggal juga di rumah Hana," jawab Zela.


"Kenapa kamu nggak tinggak disini aja sayang," ucap Panji.

__ADS_1


"Kan nggak tahu, kalo ayah sama ibu disini," jawab Zela.


"Ayah, ibu Kak Ela mana? Kok nggak keliatan," tanya Zela.


"Ada di kamar, Kak Ela lagi sama anaknya," jawab Linda.


"Hah? Kak Ela udah punya anak," ucap Zela terkejut.


"Anaknya tomboy enggak kaya Kak Ela dulu," ucap Zela sambil cekikikan.


"Kamu ini ada ada aja, sana bu panggilan Ela, jangan teriak teriak entar kalo Fikri tidur jadi bangun," ucap Panji membawa Zela ke pelukannya. Linda pun menuju kamar Ela dan memanggil anaknya itu supaya bertemu Zela.


"Ayah tambah tua ya," ledek Zela.


"Walaupun tua tapi ayah tetep ganteng kan," jawab Panji.


"Iya lah, Ayah Panji mah ganteng terus," ucap Zela.


Mereka pun memerhatikan dengan seksama kedekatan Zela dan Panji. Seolah Zela adalah anak perempuan kesayangan Panji, padahal itu juga benar. Tak lama kemudian Ela pun datang bersama Fikir di gendongannya. Ela pun menurunkan Fikir dan langsung memeluk Zela. Setelah melepas rindu mereka pun mengakhiri pelukannya.


"Adiknya kakak yang nyolong perhatian ayah," canda Ela.


"Kakak aja yang nggak bisa curi perhatian ayah," balas Zela. Ela pun mencubit hidung Zela.


"Anak kak Ela udah besar? semoga besarnya nggak kaya kakak, ya kan yah?" canda Zela menatap Panji.


"Kamu ini ada ada aja," jawab Panji mengelus kepala Zela.


"Tuh kan, kamu baru datang aja, udah nemplok ke ayah," ucap Ela berlagak sedih.


"Kak Ela kalah terus sih," ejek Zela sambil menjulurkan lidahnya. Ela dulu tidak tinggal bersama mereka melainkan ingin ngekost supaya mandiri, Linda dan Panji pun mengizinkannya. Karena dulu Ela orang yang tomboy.


"La, ibu kamu kemana?" tanya Panji.


"Ke dapur, mau masak yah," jawab Ela.

__ADS_1


"Ah mau ikut ibu masak deh pasti seru," ucap Zela berlari meninggalkan semuanya dan menuju dapur.


__ADS_2