
Pagi pagi sekali orang tua Hana sampai di bandara internasional Juanda. Orang tua Hana pun langsung pergi ke rumah sakit tempat Hana dirawat. Saat mereka masuk ke dalam ruangan Hana, terlihat Hana yang masih terlelap di atas brangkar dengan Zela yang juga terlelap disamping Hana di atas kursi.
Perlahan ibu Hana pun mendekati brangkar Hana dan mengelus elus kepalanya. Hana yang merasa ada sesuatu di kepalanya pun perlahan membuka matanya.
"Ibu siapa ya?" tanya Hana.
Ambar yang mendengar pun bingung, kenapa putrinya tidak mengenali dirinya. Karena memang belum ada yang cerita kepada orang tua Hana tentang kondisi Hana sekarang ini.
"Ini ibu sayang, yang melahirkan mu," jawab Ambar.
"Maaf saya tidak mengenalmu," ucap Hana. Ayah Hana pun segera mendekati istrinya.
"Hana sayang ini ibu, dan ini ayah kamu, kenapa kamu tak mengenalnya," ucap Ambar.
Zela yang mendengar perdebatan ibu dan anak itu pun segera bangun.
"Ada apa Han?" tanya Zela.
"Ibu ini ngaku ngaku ibu aku," jawab Hana.
"Emang elo kenal sama ibu ibu ini Zel?" imbuh Hana.
__ADS_1
"Enggak lah," jawab Zela.
"Maaf bu, mungkin ibu dan bapak salah kamar," ucap Zela.
"Ah iya mungkin, saya sama suami saya pamit dulu, assalamualaikum," ucap Ambar.
Ambar memilih meninggalkan ruang rawat Hana daripada harus berdebat dengan Hana. Ambar dan suaminya pun menuju rumah nenek Hana.
Karena masih pagi buta Nek Ida pun masih di dalam kamarnya, hanya para pembantu yang sedang membereskan rumah. Ayah dan Ibu Hana pun langsung ke kamarnya.
Pukul 08:00 Nek Ida pun keluar dari kamar hendak sarapan, lalu langsung berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk cucu kesayangan nya.
Nek Ida pun terkejut, di meja makan sudah ada anak dan menantunya itu. Nek Ida pikir mereka akan sampai siang hari. Ayah dan Ibu Hana pun langsung salim kepada Nek Ida. Lalu mereka pun sarapan bersama.
"Bu, Hana enggak kenal sama kami, padahal kan Am yang melahirkan," ucap Ambar.
"Anak mu itu memang nggak ingat siapa siapa, dia amnesia akibat kecelakaan yang dialami, kemarin aja dia enggak kenal ibu, trus Hana berusaha mengingat tetapi tidak bisa malah dia hampir aja pingsan, keringatnya keluar dimana mana," jelas Nek Ida.
"Tetapi kenapa Hana kenal dengan temannya yang menemani Hana waktu tidur di sampingnya," tanya Ambar.
"Hana emang enggak ingat, teman Hana itu yang bersama Hana dari waktu kecelakaan sampai saat ini, Hana percaya kalo dia itu temennya karena dia selalu nemenin Hana, Hana juga belum punya ingatan apa apa tentang temannya itu," jelas Nek Ida. Ayah dan Ibu Hana pun paham apa yang dijelaskan Nek Ida.
__ADS_1
"Ya udah selesai sarapan kita langsung pergi ke rumah sakit, nanti ibu bicara baik baik sama Hana," ucap Nek Ida, Ayah dan Ibu Hana pun mengangguk.
Sesampainya di rumah sakit, orang tua Hana dan Nek Ida pun langsung menuju ruang rawat Hana. Ayah dan Ibu Hana pun menunggu didepan tempat Hana dirawat. Disana Hana sedang dibujuk makan oleh Zela.
"Assalamualaikum sayang," ucap Nek Ida.
"Nenek," ucap Zela dan Hana bersamaan.
"Ini nek masa Zela paksa paksa Hana buat makan, Hana kan nggak selera nek," ucap Hana mangadu.
"Bener Zela sayang, kamu harus makan biar cepet sembuh," ucap Nek Ida.
"Wleee," Zela pun menjulurkan lidahnya.
"Udah akui elo kalah Hana," ucap Zela.
"Males ah temenan sama elo," ucap Hana kesal.
"Gitu aja ngambek," ledek Zela.
"Ya udah makan gih, gue suapin deh biar mesra," imbuh Zela.
__ADS_1
"Tau ah," jawab Hana kesal.
Walaupun kesal, Hana pun tetap memakan makanannya.