
Flash back
Kota Yogyakarta adalah kota pertemuan antara dua sejoli yang kurang lebih berumur 6 tahun. Taman Kanak Kanak Melati menjadi tempat awal kisah mereka.
Kini pertama masuk sekolah saat pindah dari Tk bla bla bla. Berjalan seorang diri, tak ada seseorang yang mendampinginya, dengan kepala mendunduk, rambut di kuncir kuda khas anak TK.
Karena jalan menunduk, secara tak sengaja, Zela pun menabrak seorang anak bertubuh gemuk. Merasa tak terima, anak itu pun mencengkam pergelangan tangan Zela dan menariknya menuju teman teman satu gengnya.
Zela yang masih TK itu pun tak bisa melawan, melawan dengan ucapan maupun fisik, dia hanya bisa mengeluarkan air mata. Betapa lemahnya anak TK. Ditambah Zela yang seorang diri, mau mengadu ke siapa selain pada dirinya sendiri.
Sampai di perkumpulan teman yang lain, anak itu pun melepas lengan Zela kasar. Zela yang saat itu takut akan di apakan. Apakah kesalahan yang ia buat begitu fatal. Ia pikir setelah di sekolah baru ini semua akan menyenangkan.
"Hai kamu berani beraninya nabrak aku!" ucap anak itu dengan kasar.
"Maaf," jawab Zela.
"Maaf maaf! Aku nggak trima kamu minta maaf!" ucap anak itu kembali menarik pergelangan tangan Zela dengan kasar. Air mata Zela pun kembali mengalir membasahi pipinya.
"Lepas!" ucap seorang anak laki laki lantang.
"Beraninya kamu sama anak cewe!" ujar anak laki laki itu.
"Kamu siapa beraninya ikut campur!" ujar anak yang gemuk tadi.
Mendengar suara keributan, anak anak yang lain pun ikut menggerubung. Akhirnya guru pun mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa ini?" tanya bu guru menghampiri mereka.
"Ini bu, anak gendut ini narik temen saya sampai pergelangan tangannya merah bu," ucap laki laki itu.
"Enggak bu enggak," ucap anak itu mencoba membela dirinya sendiri.
Melihat luka yang di pergelangan tangan Zela pun membuat guru percaya dengan apa yang di ucapkan anak laki laki itu.
"Bu saya mau luka temen saya di obati," ucap laki itu.
"Baiklah ayo kamu ikut ibu," ucap bu guru. Sementara anak gendut tadi pun ditangani oleh guru yang lain. Selesai mengobati luka, dua anak itu pun duduk di sebuah bangku.
"Nama kamu siapa?" tanya Zela dengan polosnya.
"Nama aku Dimas, kalo nama kamu siapa" ucap Dimas sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Nama aku Zela," jawab Zela membalas uluran tangan Dimas.
"Kamu kesini sama siapa?" tanya Dimas.
"Sendiri, tadi cuma diantar sopir terus sopir nya pulang," jawab Zela.
"Kalo aku di tungguin sih sama bibi aku," ucap Dimas.
"Kamu anak baru?" tanya Dimas.
"Iya aku anak baru, aku baru mulai sekolah disini hari ini. Jadi aku belum punya teman," jawab Zela.
"Aku juga baru seminggu sekolah disini," ujar Dimas.
"Ya udah mulai sekarang kita berteman," ucap Dimas sambil menjulurkan jari kelingkingnya.
"Oke kita berteman!" ucap Zela penuh semangat, lalu membalas uluran jari kelingking Dimas. Rasanya seperti orang yang sedang mengucapkan janji tanpa orang lain mengetahui.
Di dalam kelas tadi, Zela dan Dimas pun seolah dua sejoli yang di mabuk cinta, padahal kan masih bocil wkwk. Mereka berpisah di gerbang sekolah saat sopir sudah menjeput mereka masing masing.
"Dimas Dimas," ucap Linda menghampiri kamar anaknya. Di buka pintunya terlihat Dimas yang baru bangun tidur siang.
"Iya bu ada apa?" tanya Dimas.
"Ya udah bu Dimas siap siap sebentar," jawab Dimas turun dari ranjang dan bersiap siap.
Linda mengetuk pintu rumah tetangga barunya itu bersama Dimas di sampingnya. Tak lupa, Linda pun membawa buah tangan dari rumahnya.
"Assalamualaikum," ucap Linda.
"Waalaikumsalam," jawab seorang art sambil membuka pintu.
"Maaf cari siapa ya bu?" tanya art sopan.
"Enggak cari siapa siapa, saya kesini cuma mau mampir, saya tentang sebelah, nama saya Linda dan ini anak saya Dimas," jawab Linda tersenyum ramah.
"Oh iya, silahkan masuk," jawab art itu.
Linda dan Dimas pun masuk ke ruang tamu, kebetulan art yang membuka pintu untuk Linda dan Dimas adalah art yang sedang menyuapi makan seorang anak kecil.
"Zela," ucap Dimas langsung menghampiri Zela.
__ADS_1
"Dimas," jawab Zela dengan senyum khasnya.
"Rumah kamu disini?" tanya Dimas.
"Iya, rumahku disini, kamu mau apa ke rumah ku?" tanya Zela.
"Aku diajak ibu mampir ke rumah ini, ternyata yang punya rumah ini adalah kamu" ujar Dimas.
"Kalian udah saling kenal?" tanya Linda ikut bergabung dan diikuti art itu.
"Udah tante, dia kan super hero aku," jawab Zela dengan polosnya.
"Super hero?" tanya Linda menerka nerka apa yang sebenarnya terjadi antara Dimas dan Zela.
"Iya, tadi Dimas nyelamatin aku dari anak gendut," ucap Zela polos.
"Non nggak papa kan, nggak ada yang sakit," ucap art itu panik takut kena marah majikannya.
"Enggak papa kok bi, kan tadi ada Dimas super hero," jawab Zela.
"Kamu ini ada ada aja, Dimas anak tante bukan super hero," ujar Linda.
"Dia super hero tante," jawab Zela tak mau kalah.
"Iya deh, Dimas super hero kamu," ucap Linda yang akhirnya mengalah.
Akhirnya Linda dan art itu pun pergi ke dapur membahas yang tak jauh dari apa yang mereka lakukan. Linda juga sempat bertanya, dimana ibu Zela, art itu menjawab bahwa Zela sudah tidak memiliki ibu sejak lahir. Linda sebagai seorang ibu pun merasa iba dengan Zela.
"Dimas Dimas, kenapa sih kamu tadi tolongin aku, kita kan belum kenal, trus kamu juga sebut sebut aku temen," tanya Zela menatap Dimas.
"Ya karena mulai sekarang kita teman," jawab Dimas.
"Dimas super hero jawab pertanyaan Zela yang tadi," ucap Zela merengek.
"Iya kan tadi udah," jawab Dimas.
"Ah malah sama Dimas super hero! Jahat," ucap Zela beranjak berdiri.
"Mau kemana?" tanya Dimas memegang pergelangan tangan Zela.
"Mau pergi! Dimas super hero jahat!" jawab Zela polos.
__ADS_1
"Ih kok gitu," ucap Dimas.
Zela pun lolos dari pegangan tangan Dimas. Dimas pun tak mau kalah akhirnya menyusul Zela. Zela yang terus saja kabur membuat mereka seperti orang kejar kejaran.