CINTA ANAK ANAK BAR BAR

CINTA ANAK ANAK BAR BAR
Episode 113


__ADS_3

Selama perjalanan, motor Diva dan Dimas pun tak seperti dulu. Biasanya mereka saling bertukar pengalaman dan pendapat, tapi kini mereka hanya diam saja, seolah seseorang yang belum mengenal. Ibaratnya orang yang sedang naik ojek.


Saling diam tanpa sepatah kata pun. Sesampainya di rumah Diva, Diva pun langsung turun dari motor Dimas. Tak lupa, Diva pun mengucapkan tanda terima kasih kepada Dimas.


"Terima kasih Dim," ucap Diva.


Tanpa menoleh apalagi membalas, Dimas pun langsung melajukan motornya meninggalkan rumah Diva. Diva menatap kepergian Dimas sampai benar banar bayangannya hilang, baru Diva masuk ke dalam rumahnya.


"Pulang sama Dimas Div?" tanya Andi, ayah Diva yang kebetulan sedang berada di teras sambil membaca koran.


"Iya yah," jawab Diva.


"Lah Dimasnya kemana, nggak di suruh mampir," ucap Andi. Sebenarnya Andi tahu bahwa Dimas yang mengantarkan putrinya, sudah hafal malah, dia bertanya hanya sekedar basa basi semata.


*Jawab ucapan gue juga nggak, apalagi gue suruh Dimas masuk,* ~Batin Diva.

__ADS_1


"Oh iya udah tadi yah, Dimas ada urusan jadi langsung pulang," jawab Diva. Ayah Diva pun mengangguk, jawaban atas perkataan Diva.


"Ya udah yah, Diva ke dalam dulu," ucap Diva. Diva pun melangkah meninggalkan ayahnya.


Diva langsung melangkahkan kakinya menuju dapur, karena kerongkongannya terasa kering. Di dapur ternyata ada ibunya sedang memasak.


"Udah pulang sayang?" tanya Aida, ibu Diva.


"Udah bu," jawab Alia sambil meneguk air putih yang tadi ia ambil.


"Iya bu, oh ya udah Diva ke kamar dulu ya bu," ucap Diva meninggalkan dapur sekaliy ibunya, menuju kamarnya. Diva buru buru ke kamar karena tak ingin di hujam dengan banyak pertanyaan oleh ibunya.


Sesampainya di kamar, Diva langsung melempar tasnya sembarangan, lalu langsung rebahan. Diva menatap langit langit kamar itu, lalu memejamkan matanya. Tak terasa bulir bulir air mata mulai keluar dari sudut mata Diva.


Sampai kapan perasaan gue akan seperti ini. Perasaan gue nggantung, nggak tahu jalan dan nggak tahu arahnya kemana. Gue bingung mau lupain, gimana cara ngelupainnya. Gue udah berusaha banget buat lupain elo Dimas, tapi apa yang terjadi.

__ADS_1


Jujur Dimas, gue masih sakit saat lihat elo lagi sama Zela. Hati gue perih banget liat itu. Tapi gue nggak bisa larang perasaan elo sama Zela. Itu perasaan elo, yang bisa ngatur cuma elo. Gue bisa apa?


Cuma elo Dim, yang bisa buat gue sampai di titik ini. Elo juga yang mengombang ambingkan perasaan gue. Nggak ada kepastian sama sekali.


Sekarang elo cuek banget, nggak kaya elo yang dulu. Gue pengen banget elo balik kaya Dimas yanh gue kenal dulu.


Itu lah ucapan, angan angan dan keinginan Diva. Dimas pun sebenarnya sama. Sesampainya di rumah, dia langsung masuk kamar dan merebahkan tubuhnya.


Sial, gue bingung. Gue pengen banget Zaa, kita kaya dulu. Elo manggil gue Alan, gue manggil elo Puput. Itu semua terlalu indah Za buat di lupain.


Dimas pun mengambil pigura yang berada di nakas samping tempat tidur. Ia memandang foto itu, foto sepasang anak kecil yang masih memakai seragam tk. Anak itu yang tak lain adalah Dimas dan Zela saat masih anak anak. Dimas menyimpan dan menjaga pigora itu dengan sangat baik. Karena itu merupakan salah satu kenangan masa kecilnya dengan Zela.


Gue sayang Put sama elo. Ucap Dimas lalu memeluk pigura yang tadi di pegang. Setelah puas, Dimas meletakkan kembali pigura itu ke tempat semula. Lalu mengambil hp nya, membuka galeri, melihat fotonya bersama Diva.


Div gue nggak bisa bohongin hati gue. Gue sebenarnya juga sayang sama elo, tapi di satu sisi gue juga ingin kembali sama Zela. Yang Zela ucapkan hari itu memang benar, gue telalu egois dan serakah untuk memiliki semuanya. Tapii, aku tidak bisa memilih di antara kalian. Aku memang lemah.

__ADS_1


Gue dingin dan cuek ke elo bukan tanpa alasan Div. Gue mau elo nggak naruh harapan lagi sama gue. Biar elo bisa cari laki laki yang jauh lebih baik dari pada gue.


__ADS_2