CINTA ANAK ANAK BAR BAR

CINTA ANAK ANAK BAR BAR
Episode 101


__ADS_3

Keesokan harinya, Zela sebenarnya sudah bangun tetapi masih betah di atas ranjang. Seakan tak ada tenaga untuk beranjak dari ranjangnya itu.


Semangat pagi yang dimiliki oleh Zela tiba tiba saja hilang. Makan tidak berselera. Mandi tak merasa basah. Tidur pun tak nyenyak. Seperti kehilangan separuh jiwanya.


Keceriaan yang dimiliki Zela selama enam tahun terakhir pun seperti hilang begitu saja sejak hari kemarin. Sering melamun dan termenung seorang diri. Entah apa yang Zela renungkan, hanya Zela seorang yang tahu.


Jika ada yang tanya, pun tidak ada jawaban dari Zela. Benar benar Zela merasa terguncang atas kepergian orang orang yang ia sayangi. Padahal kemarin lusa mereka masih berlibur di pantai, tapi sekarang hilang bagai di telan bumi.


Padahal hasil ujian nasional mereka bakal di umumkan besok pagi, tapi Zela tak ada respon sama sekali tentang hasil nilai ujiannya.


Di buka pintu, ada sosok bibi art masuk membawa nampan yang berisi nasi beserta teman temannya. Ia meletakan nampan tersebut di atas nakas lalu membuka tirai yang menghalangi cahaya matahari masuk ke dalam kamar Zela.


"Non Zela makan dulu ya, tadi bibi udah buatin makanan kesukaan Non Zela loh,", ucap bibi mencoba membujuk Zela, tapi tak ada respon sama sekali dari Zela.


"Non makan ya Non, dari kemarin Non belum makan loh," ucap art itu terus berusaha membujuk Zela.

__ADS_1


Tapi, Zela pun tetap saja diam, tak ada respon apalagi untuk membuka mulutnya. Akhirnya bibi art itu pun menyerah dan meninggalkan kamar Zela mencari keberadaan ayah Zela.


"Tok tok tok," suara ketukan pintu oleh bibi art itu.


"Masuk," jawab ayah Zela. Bibi art itu pun masuk dengan sopan.


"Ada apa bi?" tanya ayah Zela tanpa mengalihkan pandangan dari pekerjaannya.


"Maaf tuan, non Zela masih belum mau makan, bibi bingung," ucap bibi art sopan.


"Terimakasih tuan. Makanan nona Zela ada di nakas tuan. Kalo begitu saya pamit," ucap bibi art meninggalkan ruang kerja ayah Zela.


Kasihan kamu nak, maafkan ayah yang sibuk bekerja tanpa memperhatikan kamu. ~Batin ayah Zela.


Tak terasa air matanya pun membasahi pipi, dengan cepat ayah Zela menghapusnya. Ayah Zela segera bangkit dan menunju kamar Zela. Sesampainya di kamar Zela, terlihat Zela yang tampak termenung, membuat ayah Zela sedih melihat keadaan putrinya saat ini.

__ADS_1


"Sayang makan yuk," ucap ayah Zela lembut, Zela hanya menggelengkan kepalanya.


"Makan ya sayang, kalo kamu nggak makan nanti sakit loh, nanti ayah sedih, kamu mau lihat ayah sedih," tanya ayah Zela menatap Zela.


Ayah Zela pun memegang sendok, akhirnya Zela pun makan walaupun tanpa nafsu. Suapan pertama lolos dari mulutnya begitupun sampai suapan ketiga. Saat suapan keempat, Zela dengan cepat menutup mulutnya.


Ayah Zela pun tidak bisa memaksa, alhamdulilah Zela mau makan walaupun hanya tiga suap. Ayah Zela pun kembali meninggalkan kamar Zela.


Keesokan paginya ayah Zela hendak mengajak Zela untuk pergi ke sekolah melihat hasil ujian nasional. Pintu kamar terbuka, menampilkan sosok Zela yang terlihat pucat. Ayah Zela pun berlari mendekati Zela.


"Sayang kamu kenapa," ucap ayah Zela menempelkan telapak tangannya ke kening Zela.


"Sayang kamu sakit, badan kamu panas banget," ucap ayah Zela panik. Dia pun segera menggendong untuk membawanya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Zela pun langsung di tempatkan di ruang UGD. Ayah Zela pun sangat sangat cemas dan khawatir dengan kondisi putrinya itu, apalagi Zela adalah putri satu satunya.

__ADS_1


Setelah selesai pemeriksaan, dokter pun menemui ayah Zela dan menjelaskan apa yang terjadi pada Zela.


__ADS_2