
Nana menepis tangan Anton, bahkan meski dia semobil, tak sudi menoleh ke Anton juga.
Anton menghela napas, “Aku harusnya yang marah, Na.”
“Oiya?!” Nana menoleh dan menatap Anton tajam, “Kita sama-sama tahu kalau hidup denganmu tidak akan membuatku senang, Anton. Uangmu kalah jauh dengan Cahyo dan anakku akan terlantar nanti, ah! Anakmu akan terlantar.” Tersenyum dengan sebelah bibir mengejek Anton.
“Gajiku besar sekarang, lagi pula menikah dengan Cahyo akan membuatmu kesepian, lebih baik menikah saja denganku dan lupakan Cahyo sialan itu.” Jujur saja kalau Anton juga terhina, tapi demi cinta dan juga anaknya, dia akan memaafkan Nana lagi dan lagi. Anggap saja ucapan kasar itu hanya candaan saja.
“Ck!” Nana membuang muka lagi. Gaun pengantin masih terpasang meski sanggulnya berantakan karena dijambak Cahyo tadi, tapi semua tidak penting. Ada hal yang melebihi semua, siapa yang mengundang Anton ke sini? Nana memikirkan nama-nama yang sangat mengancam dan dia yakin kalau mama Cahyo yang ada di balik semua ini.
Cahyo... menoleh dengan malas saat mendengar pintu kamarnya terbuka, tadinya hanya menebak itu mamanya, ternyata memang benar, dan dia terkekeh. “Aku tahu Mama yang melakukan semua ini.” Kembali menatap ke luar jendela. Meski kamar ini di lantai delapan belas, Cahyo tetap menoleh ke luar yang pemandangannya hanya awan tanpa keributan, sudah kacau seperti pikirannya saat ini.
Mama Cahyo tertawa, “Kamu sangat tahu betapa leganya aku saat ini.”
“Untuk apa, Ma? Yuni sudah pergi dan anak itu—“
“Bagaimana jika itu anakmu? Zaman sudah modern, Cahyo. Kau bisa menanyakannya ke dokter.” Mama Cahyo lebih mendekat lagi, duduk di sebelah Cahyo dan merayu putranya agar menjatuhkan kepala di pangkuan. Dengan sayang terus mengusap rambut putranya, “Bawa Yuni dan cucuku kembali. Aku semakin tua, sampai kapan aku hidup sendiri, dan kesepian?”
Cahyo yang memejamkan mata mengangguk. Meski dia tak tahu harus mencari Yuni ke mana dan di tengah kalut ponselnya malah berbunyi. Dia pun bangun, itu telepon dari Surya, segera mengangkatnya sambil terkekeh, “Apa kau tidak punya pekerjaan sampai menggangguku terus?”
Surya ikut terkekeh juga, “Kau janji akan datang ke pernikahanku, kan? Mr bilang pernikahanmu pindah gedung, tempatnya sudah ganti dengan acara lain, kenapa mendadak?”
__ADS_1
Cahyo menoleh ke mamanya, mendapat anggukan, dia pun tahu kalau acara di bawah sudah di urus oleh mamanya. “Aku akan ke sana. Sampaikan saja maafku. Aku akan segera datang.” Menutup telepon itu dan melepas jas yang berselip bunga di saku depan, “Ma, aku ke bawah dulu. Terima kasih, Mama, sudah membereskan yang di bawah.”
Mama Cahyo mengangguk, “Pergilah. Jangan memikirkan hari ini.”
Cahyo mengangguk dan segera ke acara Surya. Seperti acara pernikahan kebanyakan, ramai dan beberapa karyawan kantor sudah menyapanya, memang berbeda dengan pernikahannya yang disembunyikan dan dihadiri tamu bayaran saja. Melihat pria yang melambaikan tangan di kejauhan, Cahyo terkekeh sambil mendekat, “Ada anggur?”
Surya memukul lengan Cahyo pelan, “Carilah wanita, bukan anggur. Hahahahaha.”
“Untuk apa? Aku punya istri.” Cahyo mengambil minuman dingin di sebelahnya dan ternyata itu soda. Acara ini mencerminkan Ratih, kalau Yuni ada di sini pasti sangat suka, dan tidak mau pulang sampai acara selesai nanti.
“Istri? Apa maksudmu istri yang itu?” Tunjuk Surya ke tamunya.
“Ya, itu hanya salah satunya dan alasan lain karena aku tahu kau tidak jadi menikah dengan Nana.” Surya itu sekutu Cahyo dan dia tahu apa pun yang terjadi dengan sahabatnya.
“Hahahaha. Kau memang punya orang dalam.” Cahyo meminum soda dinginnya lagi, meski matanya tetap menatap satu orang, dia tak hilang fokus dengan pembicaraannya dan Surya.
Surya memasukkan tangan ke saku celana, “Ya, kau harus berterima kasih padaku.”
Cahyo segera meletakkan gelas, “Aku pergi sebentar.” Cahyo melihat tamu itu pergi dan dia mengekor perlahan, meski tahu tujuannya toilet wanita, apa Cahyo peduli? Tanpa sungkan, Cahyo masuk dan melempar senyumnya dari pantulan cermin.
“Mas... Cahyo?” Yuni menelan ludah, bahkan dia segera mematikan kran air dan menyudahi cuci tangan. Berbalik untuk menghadap Cahyo, serta memeluk perut untuk melindungi anaknya jika Cahyo tiba-tiba memukul, tak apa kan waspada?
__ADS_1
“Berapa hari kita tidak bertemu, Yun? Senyummu semakin lebar, apa sesedih itu saat hidup bersamaku?” Cahyo terus berjalan mendekat.
Yuni menarik napas panjang dan dalam, baru setelahnya dia mendongak, “Bukan tentang kebahagiaan, Mas. Aku... memikirkannya saat akan bersedih.” Yuni mengusap perutnya.
Cahyo menelan ludah, pikirannya begitu berkecamuk, apa benar itu anaknya? “Aku... membelikan toko bunga untukmu. Kau tahu aku tidak mengerti tentang itu, kan? Jadi... datanglah ke sana sesekali. Urus anak buahmu sendiri, Yun.”
Yuni membuang muka, “Aku tidak membutuhkannya, Mas. Aku punya tabungan meski tak seberapa dan aku akan membuka usaha dengan uang itu. Terima kasih sudah memberiku apa pun selama ini.” Yuni menoleh ke Cahyo dan tersenyum.
“Apa kau sedang pamitan?” Lidah Cahyo kelu, rasanya ada yang tercabut, dan dia tak bisa menahannya lagi.
Yuni mengangguk, “Anggap saja begitu.”
Cahyo ikut mengangguk juga. Tersenyum meski tipis dan pergi meninggalkan Yuni begitu saja.
Yuni langsung menyandar di dinding, hatinya sakit lagi, kenapa Cahyo harus menyakiti hingga dirinya sulit memaafkan? Cinta itu nyatanya masih kalah dengan rasa benci dan marah yang dia miliki saat ini.
Mr... merasa Yuni di toilet terlalu lama dan saat menoleh dia tak sengaja melihat Cahyo ke luar dari sana. Mr pun segera berlari, melihat Yuni menangis sambil menyandar tembok, segera mendekatinya, “Ada apa? Cahyo menemui Anda? Menyakiti Anda lagi?”
Yuni menggeleng, dia sedang tak bisa membicarakan apa pun, dadanya begitu sesak dan sakit.
Melihat Yuni menangis semakin deras, Mr pun menarik Yuni dalam pelukan, mengusap punggung yang bergetar itu, tak ingin wanita yang memikat hatinya terus sedih seperti ini.
__ADS_1