Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Hanya begini saja?


__ADS_3

Cahyo melempar sebuah amplop lumayan tebal, setelah mendengar hal yang membuatnya sedih, dia pun merasa harus melakukan sesuatu. “Apa pun, aku mau apa pun, jangan ada yang terlewat sedetik pun darinya.”


 


“Siap, Tuan!” Mengambil amplop itu dan tersenyum bangga.


 


***


 


Melompat tujuh bulan. Semua orang semakin usang dan memuakkan, tak ada satu pun yang bisa melakukan pekerjaan dengan benar, apa lagi mengetahui Yuni di Singapura bersama Mr, entah apa yang dilakukan di sana. Cahyo sudah melempar dokumen untuk ke empat kalinya di hari ini. Semua karyawan tak becus bekerja, “Apa gajimu kurang? Sudah kukatakan aku tidak mau klien itu terlepas dan kau malah membuat dokumen seperti itu? Urus surat pengunduran diri dari pada membuatku semakin gila!” Teriaknya sambil menunjuk pintu ke luar.


 


Surya masuk, dia membantu karyawan mengambil dokumen, dan langsung menyuruh pergi. “Ada apa denganmu?” Meletakkan dokumen di depan Cahyo.


 


Membuang napas kasar, Cahyo enggan menjawab, lebih fokus ke dokumen yang baru diantar Surya, “Apa ada peresmian?” Itu adalah dokumen atas penyelesaian pekerjaan di pantai.


 


Surya mengangguk, “Yuni akan datang dengan Mr, aku mendengar itu dari Hendra, dan Anton juga menyiapkan pesta kecil agar banyak pemuda yang datang ke pantai saat peresmian.”


 


Cahyo mengambil stempel dan membubuhkan tanda tangannya, “Masih bisa kamu percaya dengan Hendra dan Anton.” Terkekeh, merasa pembicaraan ini sangat lucu.


 


“Mungkin sulit bagimu, tapi tidak bagiku. Hendra akan menikah dengan kekasihnya besok lusa, surat cuti juga sudah dikirim, apa kau masih berpikir dia dan Yuni ada main di belakang?” Hanya Surya yang berani menegur Cahyo seperti itu.


 


Cahyo terkekeh lagi, “Aku sudah melupakan Yuni.”


 


“Oiya? Secepat itu?” Bahkan Surya bisa melihat dengan jelas seperti apa kehidupan Cahyo yang semakin berantakan.


 


Cahyo mendongak, melempar dokumen itu mendekat ke Surya, dan tersenyum, “Ada lagi yang harus kutanda tangani?”

__ADS_1


 


Surya tertawa dan mengeluarkan sebuah kertas kecil yang bertulis sebuah restoran dari sakunya, “Kuharap kamu bisa makan malam di sana. Banyak wanita cantik dan kau akan suka.” Mengambil dokumen itu dan pergi.


 


Cahyo enggan mengambil kertas itu, tapi dia membaca tempat yang dia tahu letaknya, hanya mencebikkan bibir, dan Cahyo melanjutkan pekerjaannya lagi.


 


Yuni... tersenyum ke Mr, pesawat yang ditumpanginya baru saja mendarat, dan dia turun perlahan dengan dibantu Mr, “Aku sangat rindu dengan udara ini.” Menghirup sepuasnya, seolah tak ada udara sejuk selain di Indonesia. Andai vila tak direnovasi terlalu lama, mungkin dia tak perlu pergi ke Singapura, tapi sekarang semua sudah berakhir, kan?


 


Mr terkekeh, “Hati-hati dengan langkahmu, Yun.” Entah sejak kapan nama itu tersemat tanpa ‘nona’, Yuni bilang sebutan itu hanya akan menghilangkan keakraban, tapi Mr tak peduli asal tetap Yuni orangnya.


 


“Apa vila benar-benar sudah selesai total, Mr?” Yuni tetap digandeng Mr, bahkan dengan perut yang semakin besar, dan Yuni tak mau memakai rok selutut untuk mempertegas kehamilannya.


 


“Bukan hanya vila, pantai kita sudah selesai juga, apa kamu mau melihatnya dulu?” Mr selalu menawarkan yang terbaik untuk Yuni.


 


 


Mr mengangguk, “Tentu, kenapa tidak?” Membiarkan sopir membawakan kopernya dan melesat ke vila dengan kecepatan sedang.


 


“Hm... apa aku boleh tidur di kamarku yang dulu?” Yuni tersenyum begitu manis.


 


“Kenapa harus bertanya? Vila itu milikmu juga, kan?” Ini yang paling disukai dari Yuni, kepolosan dan manjanya, selalu menyentuh hati.


 


Yuni pun tersenyum semakin lebar. Sesampainya di vila, segera ke kamar, sebentar lagi senja, dan Yuni ingin melihat matahari terbenam di sana. “Astaga!” Yuni langsung menutup mulutnya dengan ke dua tangan, “Ini ...?”


 


Mr yang mengekor Yuni, tersenyum sambil terus mendekat, “Bagaimana? Kamu menyukainya?” Saat Yuni menoleh, “Aku sengaja mengajakmu ke Singapura karena bunganya mati, jadi mereka perlu menanamnya ulang, bagaimana? Ada yang kurang?”

__ADS_1


 


Yuni memeluk Mr begitu saja, “Aku tak pernah meminta apa pun dan kau malah memberikan segalanya untukku hingga aku tak tahu bagaimana cara membalasnya.” Hanya gurauan saat bilang taman yang indah di belakang vila dan Mr pun mewujudkannya, pria macam apa Mr ini? Terbuat dari apakah hatinya?


 


Mr terkekeh, “Ini sangat mudah, jangan berlebihan,” Segera mengurai pelukan dan membingkai wajah Yuni, “cepat mandi dan kita harus makan malam. Aku tidak mau ada yang pingsan lagi.”


 


Yuni mengangguk cepat. Dia segera mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.


 


Mr pun terkekeh, dia juga membersihkan diri karena tak mau terlambat, jarak dari vila ke restoran cukup jauh, dan satu setengah jam bukan waktu yang sebentar untuk menempuhnya. Setelah selesai bersiap, Mr sengaja menyetir sendiri, membawa Yuni di kursi penumpang, mendengar cerita yang cukup seru dari Yuni, hingga tak terasa mobil yang ditumpangi sudah tiba di restoran.


 


“Aku saja yang pesan, ya?” Yuni memilih beberapa makanan untuknya dan Mr, lalu kembali menoleh, “Kita akan bertemu dengan siapa?”


 


“Klienku, beberapa pekerjaan malah bermunculan saat aku pergi, dan mereka semua berdemo beberapa hari lalu.” Mr melihat ponsel yang ditaruh meja berdering, “Aku angkat dulu, di sini bising, hanya sebentar, ya?” Mr pun berdiri dan mencari tempat yang sedikit sepi. Ada live musik di dalam.


 


Yuni mengangguk. Saat pelayan mengantar makanan, “Aku ke toilet sebentar kalau ada yang kembali.”


 


“Iya, Nyonya.” Pelayan itu terus menata makanan dan semua yang dipesan di meja.


 


Yuni mencuci tangan, mengibaskan agar tak terlalu basah, dan menempelkannya di leher belakang. Entah, rasanya begitu gerah. Setelah puas, Yuni pun berniat untuk kembali agar Mr tak mengkhawatirkannya. “Oh! Maaf, aku—“ Yuni sadar dirinya tak fokus dengan jalan hingga membuatnya tak sengaja menubruk seseorang dan itu adalah Cahyo.


 


“Tidak—“ Cahyo juga baru tahu kalau itu Yuni. Dunia seolah berhenti, dia ingin memeluk, tapi bagaimana dengan harga dirinya? Perut itu terlihat lucu, tapi Cahyo tak berani bertanya, dia hanya berdehem, “Hm?! Maaf sudah menabrakmu.” Mengangguk dan beranjak lebih dulu.


 


Yuni mengangguk, lidahnya kelu untuk menjawab, apa hanya seperti itu saja? Tak adakah kerinduan hingga ingin menanyakan kabar? Tak ada keterkejutan? Pertemuan yang Yuni kita akan dahsyat ternyata hanya seperti ini saja? Yuni menarik napas beberapa kali, hingga setelah semua tenang, melanjutkan langkah, melempar senyum saat melihat Mr sudah kembali ke kursinya.


 

__ADS_1


Sedangkan Cahyo, hanya pergi beberapa langkah sebelum kemudian bersembunyi di balik pembatas, dia enggan beranjak, tetap di sana untuk melihat punggung yang begitu dia rindukan. Andai Yuni tahu betapa kelu juga lidahnya untuk berucap. Saat Yuni menjauh untuk kembali entah ke mana, Cahyo tersadar saat melihat seorang pria, “Apa kalian bahagia?” Begitu ingin dengan jawaban itu dari bibir Yuni sendiri, tapi melihat Yuni tertawa bersama Mr, harus apakah dia sekarang?


__ADS_2