
Cahyo mendengar teriakan itu cukup lantang, “Angkat saja, Yun! Bilang aku sedang mandi!” Cahyo masih setengah jalan, malas ke luar dengan keadaan begini, biar diurus Yuni saja.
Yuni tak mengindahkan ucapan Cahyo, dia malah menggeletakkan begitu saja ponsel Cahyo, dan meneruskan kesibukannya merias diri. Saat Cahyo ke luar, Yuni berdiri, “Aku turun dulu, Mas. Mama sibuk di dapur. Aku akan membantunya.” Tersenyum dan pergi. Semua ucapannya memang hanya alasan, Yuni tak ingin mendengar Cahyo telepon Nana, dia tak mau lupa diri setelah kejadian semalam. Memangnya siapa dia?
Cahyo mengurap rambutnya dengan handuk, saat akan mengambil sisir untuk merapikan rambutnya, ponselnya menyala, ada notif pesan singkat dan beberapa panggilan tak terjawab, tentu saja dari Nana. Cahyo mengedarkan pandangan, di kamar ini hanya ada dirinya, “Dia tidak mengangkatnya? Bukankah sudah kusuruh tadi?” Mengambil ponsel itu dan berganti menelepon Nana, mengabaikan pesan yang dikirim, karena yakin setelah telepon itu tersambung akan menjawab semuanya.
Yuni yang baru sampai dapur, tersenyum ke mertuanya, “Masak apa, Ma?”
Mama Cahyo membalas senyuman itu juga, “Mama tahu ini sudah malam, tapi mama rasa tidak salah kita makan bubur, aku sangat menginginkannya.” Tersenyum lebih lebar dan kembali mengiris ayam agar lebih tebal lagi.
“Apa Mama sakit? Papa juga tidak terlihat dari tadi. Aku hanya melihatnya tadi saat makan siang saja, Ma.” Yuni membantu menyiapkan kedelai goreng, dia selalu suka dengan semua menu pilihan mertuanya, sangat variatif.
“Papamu sibuk, Yun. Tapi biarkan saja, seusiaku dan papamu harus punya kesibukan, dia dan temannya punya pekerjaan baru, jadi selama beberapa hari ini akan sering di luar.” Mama Cahyo senang saat diperhatikan.
Yuni mengangguk, “Aku akan menatanya di meja, Ma.” Baru dua nampan dan Cahyo sudah turun untuk bergabung. Tak ada yang bisa dilakukan selain melempar senyumnya.
“Kau... tidak mengangkat teleponnya?” Sungguh, Cahyo sangat penasaran dengan jawaban apa yang akan diberikan oleh Yuni.
“Tidak, Mas. Sedikit tahu akan membuatku lebih baik. Ada mama di dapur, duduklah sebentar, makanan segera siap.” Yuni tersenyum kembali dan berbalik pergi.
Cahyo terkekeh, bisa dibilang Yuni banyak berubah, apa mungkin semua karenanya juga? Saat Yuni dan mamanya bergabung, Cahyo makan dalam diam, dua wanita di depannya banyak melempar senyum, tapi Cahyo tak ingin menanyakan karena apa.
“Bagaimana di kantor? Semuanya berjalan lancar? Kudengar Yuni mulai ditunjuk oleh klienmu sekarang.” Mama Cahyo tersenyum saat putranya memperhatikannya.
“Ya, klien dari Singapura sepertinya menyukai Yuni, dia yang ingin bertemu dengan Yuni awalnya, tapi setelah bertemu Yuni sendiri, Yuni malah diberi kursi khusus. Aku tidak tahu apa tujuan klienku. Aku juga tidak bisa menebaknya.” Cahyo terkekeh, menoleh ke Yuni sebentar, dan lanjut makan kembali.
Yuni menghela napas, “Apa... Mas Cahyo cemburu? Bahkan aku dengan Mr tak melakukan apa pun.” Apa mungkin karena ini juga Cahyo meminta haknya? Bahkan semalam pun semua berlalu terlalu cepat, tak seperti cerita novel, salah kalau dia berpikir Cahyo sudah mengubah diri.
Mama Cahyo tertawa, “Tidak ada suami yang tidak cemburu, Yun. Bahkan apamu akan melakukan hal yang sama jika ada yang mendekati mama. Apa kamu mau mencobanya?”
“Ahhh... tidak, Ma. Papa dan Mas Cahyo berbeda. Papa—“
“Aku juga manusia.” Cahyo memotong ucapan Yuni.
“Jadi... kamu memang cemburu? Baru tahu kalau istrimu ini memang cantik?” Mama Cahyo tertawa lebih keras lagi, “Hahahaha. Aku suka mendengarnya. Habiskan makananmu, Yun. Banyaklah istirahat. Aku tidak mau wajahmu cepat tua karena menghadapi Cahyo.”
“Ck! Mama ini ....” Cahyo menggeleng, apa kata mamanya tadi? Memalukan sekali. Kenapa mamanya malah tak berpihak padanya? Itu tidak adil, kan?
Yuni tertawa, dia dan mama Cahyo selalu kompak, bersyukur sekali karena memiliki mertua yang selalu ada di pihaknya seperti itu.
Cahyo... setelah makan malam tadi dia di ruang kerjanya, beberapa kali melihat layar ponselnya, banyak pesan yang diabaikan, panggilan tak terjawab, dan juga rasa penasarannya. Kenapa semua menjadi semakin rumit?
Panggilan telepon dari Nana kembali membuatnya berdering dan kali ini Cahyo tak tahan untuk tak menerimanya, “Sudah malam, Na.”
__ADS_1
“Lalu? Sebelum ini kamu tak pernah mempermasalahkan apa pun, kenapa sekarang seperti ini? Aku memutuskan hubungan denganmu karena emosiku yang tinggi dan sekarang kamu dengan mudahnya bicara seolah aku benar-benar bukan siapamu?! Datanglah. Aku bisa terjun dari jendela apartemen ini dan kamu akan melihat berita kematianku besok pagi di koran yang kau baca.”
Cahyo menelan ludah. Dia tak pernah melihat Nana seserius ini. Ditambah dengan telepon yang dimatikan begitu saja, Cahyo pun berdiri, ke kamarnya untuk mengambil pakaian yang lebih hangat.
Yuni menggeliat, mengucek matanya karena lampu yang tiba-tiba terang, “Mas? Mencari apa?” Sangat silau saat lampu dinyalakan begitu saja oleh Cahyo.
“Di mana kunci mobilku? Aku tak biasa meletakkan sembarangan begini.” Cahyo terus mencari, bahkan di saku jas kotornya tadi, tapi tetap tak dia temukan juga.
“Mas, mau ke mana? Menemui Nana?” Yuni turun dari ranjang, menarik laci di nakas, dan mengambil sesuatu dari sana.
“Sebenarnya iya, tapi kamu yang bilang kalau sedikit tahu akan lebih baik, kenapa bertanya?” Cahyo menoleh, melihat seperti apa mimik wajah Yuni, dan tak menemukan apa pun juga. Cahyo pun kembali mencari kunci mobilnya ke meja rias milik Yuni, tak ada, dia berencana mencari di nakas dekat tempat tidurnya.
“Aku menemukannya di lantai, mungkin terjatuh, dan aku menyimpannya.” Yuni mengulurkan kunci mobil itu ke Cahyo.
Cahyo mengambilnya dan segera berbalik.
“Pakailah pakaian yang lebih hangat, Mas. Aku tidak mau kamu flu lagi. Bukankah banyak pekerjaan akhir-akhir ini?” Yuni tersenyum saat Cahyo menoleh ke arahnya, “Jangan sampai dirimu sakit.” Naik ke ranjang, menarik selimut untuk menghangatkan dirinya, dan kembali tersenyum ke Cahyo, “Hati-hati. Ini sudah malam. Berhentilah kalau Mas mengantuk di jalan.” Yuni memejamkan matanya. Dia akan melanjutkan tidurnya.
Cahyo menghela napas, ke ruang ganti untuk memakai baju yang lebih hangat karena dia sudah mengenakan piama, dan ke luar dengan langkah yang lebih pelan. Dia tak ingin mengganggu Yuni yang tidur, bahkan lampu saja sudah dimatikan kembali, dan Cahyo segera ke apartemen Nana.
Mobil itu kian menjauh, Yuni segera bangun tadi, berdiri di balkon menunggu apakah Cahyo benar-benar pergi, dan ternyata tak ada yang diurungkan. Meski wajahnya hanya diam, air matanya membelah pipi juga, dan Yuni mengusapnya perlahan sebelum kemudian kembali masuk selimut lagi. Dia tak boleh lemah.
Senyumnya secerah bunga matahari dan Nana duduk dengan girang di sebelah Cahyo, “Ini hasil tesnya, kita harus ke dokter untuk memeriksa lebih lanjut, aku ingin kita segera menikah.” Mengulurkan tes pek ke Cahyo.
Cahyo mengambilnya, membuka dan mengeluarkan bungkusan pipih itu, melihat dua garis merah yang cukup jelas di sana. Dia menelan ludah, “Ya, kita akan ke dokter besok pagi. Setelah itu ikutlah denganku ke rumah.”
Nana bertepuk tangan dan langsung memeluk Cahyo, “Mungkin karena ini beberapa hari ini mood-ku tidak baik, maafkan aku, Sayang. Sebelum perutku semakin besar, kita akan menyelenggarakan pesta yang sangat meriah, dan seluruh penjuru dunia akan tahu bertapa bahagianya kita. Anak yang selama ini kita tunggu, sebentar lagi akan menemani hari-hari kita, Sayang.” Nana tak mengendurkan sedikit pun pelukannya.
Cahyo mengangguk, mengecup kening Nana, dan mengusap juga punggung kekasih yang selama beberapa hari ini mempermainkan hatinya. “Tidurlah. Aku akan menemanimu.” Cahyo menggendong Nana, menurunkannya di ranjang, dan ikut bergabung setelah melepas jaketnya.
“Apa kita akan melewatkan malam ini hanya dengan seperti ini saja? Kau... tidak mengajakku bermain? Aku bisa melakukannya, Sayang.” Nana tersenyum sambil bersiap melepas pakaiannya.
Cahyo segera menahan tangan Nana, “Tidak. Aku yakin dia masih sangat kecil, kudengar kita tidak bisa melakukan apa pun sebelum dia berumur tiga bulan, aku bisa menahannya. Tidurlah. Aku akan memelukmu sampai pagi.” Cahyo merebahkan diri, membuka tangan agar Nana masuk ke pelukannya, dan terus mengecupi puncak kepala Nana agar cepat tidur. Itu adalah kebiasaan yang dilakukannya selama ini saat tidur dengan Nana.
Nana memejamkan mata sambil tersenyum lebar. Sangat lama dia tak merasakan betapa manisnya Cahyo saat sisi romantisnya ke luar dan dia sangat menyukai saat-saat seperti ini.
***
Esoknya... Nana tersenyum lebar. Dia sedang berbaring dengan alat USG dingin yang menempel di perutnya, “Kapan dia terlihat, Dok?”
Dokter malah terkekeh, “Masih dua minggu, sangat umum kalau hanya kantung ketubannya saja, dia terlalu kecil, tapi dua minggu lagi datanglah. Makhluk mungil itu akan mengejutkanmu dengan perkembangannya yang pesat.”
__ADS_1
Nana menoleh ke Cahyo, “Dua minggu lagi. Aku sudah tidak sabar.”
Cahyo tersenyum, dia sedang tak bisa mengatakan apa pun, bimbang dan bingung, dia merasa di tengah Sabana saat ini. Harusnya dia senang dengan kabar menggembirakan ini, tapi kenapa malah terasa aneh, seolah ada yang akan hilang dan dia ketakutan, tapi apa? Seolah badai akan menggemparkan dunia, tapi bagaimana? Cahyo sangat gusar hingga tak bisa menguasai dirinya sendiri.
Dokter itu tersenyum lagi, “Datanglah dua minggu lagi, Nyonya, dan ini vitamin yang harus Anda minum setiap hari.”
Nana pun tersenyum tak kalah manisnya, “Terima kasih, Dokter. Ayo kita pulang, Sayang. Sayang? Sayang?!” Nana sampai mengguncang pelan lengan Cahyo. “Sepertinya kamu melamun tadi? Apa yang kami pikirkan?” Tanya Nana di luar, dia dan Cahyo sedang berjalan menuju tempat penebusan vitamin, dan Nana tak sabar menahan rasa penasarannya. Kenapa Cahyo jadi pendiam begini? Seolah kehamilan itu tidak diinginkan. Padahal dia menunggunya sangat lama.
Cahyo terkekeh, “Aku terlalu bahagia sampai tak bisa berkata-kata. Lagi pula semalam lenganku seperti mati rasa karena kamu tidur terlalu lelap, konsentrasiku berkurang banyak karena itu, tapi jangan kawatir. Asal anak kita senang.”
Nana memeluk lengan Cahyo lebih erat, “Maafkan aku, setelah sampai rumah aku akan segera memijit lenganmu.”
Cahyo malah terkekeh semakin keras, “Sepertinya menyenangkan. Duduklah di sini, biar aku yang mengambilkan vitamin, aku tidak akan lama.” Cahyo pun meninggalkan Nana, berpikir terlalu keras membuat otaknya tak waras, haruskah dia menyerah dari sekarang?
Yuni... tertawa keras, “Mama, itu sangat memalukan.” Dia dan mertuanya sedang bertukar cerita, mesti status itu bisa lebih formal, nyatanya Yuni dan mertuanya sangat kompak melebihi sahabat.
Mama Cahyo tak kalah keras juga saat tertawa, “Iyaaa, tanya papamu kalau dia kembali, aku bahkan sampai malu. Hahahaha. Lain kali berliburlah lagi. Banyak pekerjaan akan membuat orang mudah emosi. Tetaplah waras, Yun.”
Yuni memeluk mertuanya, “Aku sangat bahagia ada di sini, Ma. Tanpa berlibur pun aku akan betah.”
Mama Cahyo mengusap rambut Yuni, andai putranya tahu sebaik apa hati perempuan yang memeluknya saat ini, “Papamu berhutang besar ke ayahmu, Yun. Mungkin menikahkanmu dengan Cahyo adalah keegoisan yang dimiliki papamu. Maafkan dia kalau sampai sekarang kamu belum bahagia.”
Yuni mengurai pelukannya dan mengerutkan kening sambil menatap mama Cahyo, “Kata siapa? Aku sangat bahagia di sini. Ada Mama dan papa, mas Cahyo juga selalu menemaniku saat Mama dan papa pergi, semua orang di sini sangat baik, apa yang bisa membuatku tidak bahagia, Ma? Jangan pernah mengatakan hal semacam itu lagi.”
Mendengar ucapan Yuni, kenapa hati mamanya Cahyo jadi terharu, sampai-sampai air matanya mengalir begitu saja.
Yuni tersenyum sambil mengusap pipi mertuanya, “Apa pun yang terjadi di rumah ini, sekecil apa pun itu, aku sangat bahagia, Ma. Jangan pernah memikirkan hal lain, termasuk mas Cahyo, aku dan mas Cahyo adalah sisi yang berbeda tak termasuk dalam rana itu, tapi meski begitu aku sangat bahagia bisa menikah dengan mas Cahyo. Dia... sangat baik, putramu itu sangat perhatian meski terkadang menyebalkan, dan aku selalu ingin memukulnya kalau kesal."
Mama Cahyo terkekeh sambil menyeka air matanya sendiri, “Ya, kamu benar, aku pun ingin melakukan itu, tapi Cahyo sudah dewasa, dan aku tak mungkin memukulinya lagi.”
Yuni mendekat dan menatap mama Cahyo tajam, “Ma, yakinlah kalau suatu saat kita akan punya kesempatan untuk memukuli mas Cahyo yang menyebalkan itu.”
“Hahahahaha.” Mama Cahyo terbahak-bahak, begitu juga dengan Yuni, ke duanya seperti komplotan mafia sekarang.
Pelayan mendekati nyonyanya, bahkan setengah berlari, dan menunduk di depan nyonya besar itu, “Tuan Cahyo pulang, Nyonya.”
Mama Cahyo membersihkan pipinya dengan tisu dan menoleh ke pelayannya sambil mengerutkan kening, “Lalu? Bukankah dia setiap hari pulang ke rumah?” Tertawa kembali sambil menoleh ke Yuni yang juga ikut menertawakan leluconnya.
Pelayan itu menarik napas panjang dan dalam, “Iya, Nyonya. Hm... tapi... tuan Cahyo pulang dengan nona Nana sekarang.”
Mamanya Cahyo menoleh ke pelayan dan menatapnya tajam, kalimat macam apa itu? Bercanda pun juga tidak mungkin. Dia pun segera berdiri, merapikan pakaiannya agar tetap terlihat anggun, dan segera menyambut tamu yang tak pernah dia undang ke rumah besar ini. Betapa berani dan kurang ajar sekali putranya hingga mengajak ****** itu menginjak rumahnya. Dia akan memberi pelajaran.
__ADS_1