
Yuni mengetuk pintu ruang kerja Cahyo.
“Masuk!” teriak Cahyo dari dalam.
Yuni membuka pintu, tersenyum canggung ke Cahyo, “Maaf, Mas. Ibu dan ayah agak repot tadi, jadi aku baru—“
Mengetahui Yuni yang datang, Cahyo segera berdiri dan menarik lengan Yuni, “Sudah jangan banyak bicara. Ikut aku sekarang.” Cahyo terus menarik hingga ke luar kantor, mengajak Yuni naik mobil, “Jalan, Pak.” Baru setelahnya dia kembali menoleh ke Yuni.
“Kita mau ke mana, Mas? Tidak jadi rapat?” Yuni jadi bingung sendiri.
“Tidak jadi. Kamu lama pulangnya. Mereka bilang nanti. Aku ingin mengajakmu ke salon.” Cahyo mengambil ponselnya yang baru saja berdering, “Sial!”
“Ada apa, Mas?” Yuni benar-benar tak paham dengan pekerjaan Cahyo.
Cahyo menggeleng, “Mereka minta makan malam, Yun. Kita tidak punya banyak waktu. Pak, lebih cepat.” Cahyo jadi panik sendiri.
Yuni menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, “Jangan panik, Mas. Yakin saja semua pasti akan berjalan lancar. Pak, kita ke salon terdekat saja. Semua salon bagus, kan?”
“Iya, Non Yuni.” Sopir berjalan lebih lamban, belok kiri saat melihat ada salon di depannya, dan mengangguk ke Cahyo dan Yuni dari kaca spion atas.
“Ayo, Mas.” Yuni tersenyum lagi. Ada keraguan di wajah Cahyo, Yuni hanya mengangguk untuk meyakinkan, “Ayo, Mas ....” Ajaknya lagi dan kali ini lebih merayu.
Cahyo membuang napas kasar. Dia ikut turun juga mengekor Yuni. Salon ini tidak buruk, Cahyo tahu mana langganan mamanya, dan pilihan Yuni yang sembarang ternyata cukup ramai juga.
“Aku mau ke pesta nanti malam, kalau suamiku, pijat saja, dia terlihat lelah.” Yuni menggandeng Cahyo begitu saja.
__ADS_1
Cahyo mengerutkan kening, peran yang Yuni lakonkan cukup aneh, dia mencoba menikmati meski rasanya aneh. Yuni terlalu lembut, pernikahannya seperti sungguhan, dan Cahyo pernah juga semesra ini dengan Yuni meski hanya bisa dihitung dengan jari. Pekerja salon menyuruhnya duduk setengah berbaring, Cahyo merasakan basah di rambutnya, sepertinya cocok untuk memejamkan mata. Perlahan pijatan yang begitu nyaman dirasa di pundak. Cahyo tersenyum, ini adalah pilihan terbaik di hidupnya.
Banyak waktu dihabiskan oleh Yuni, ketika semua sudah selesai, Yuni malah mendapati Cahyo tertidur. Dia mendekat dan mengusap lengan Cahyo, “Mas.”
Cahyo membuka mata. Yuni terlihat begitu cantik dan itu membuat senyumnya mengembang.
“Ayo pulang, Mas. Kita siap-siap berangkat.” Yuni masih saja tersenyum. Saat melihat Cahyo mengerutkan kening pertanda bingung, Yuni pun mengingatkan, “Bukankah klien dari Singapura akan mengadakan rapat?”
“Oh, iya! Ayo!” Cahyo segera berdiri dan mengajak Yuni pulang lebih dulu. Dia harus mandi dan menyiapkan beberapa dokumen. Tak banyak yang dia bicarakan, sesampainya di rumah saja dia segera mandi, dan saat ke luar dari kamar mandi Cahyo malah dibuat terkesima. Setelah celana dan jas di sana terlihat cocok, Yuni pintar saat memilihnya, dan itu membuat senyum Cahyo mengembang. Segera mengenakannya dan turun, di ruang tengah Yuni sudah menunggu dengan sebuah tas, Cahyo menghampiri untuk memeriksa tas itu, “Dari mana kau tahu aku akan membawa ini?”
Yuni tersenyum, “Aku bertanya ke Surya. Kupikir aku bisa sedikit membantu. Kamu sangat panik, Mas. Aku hanya ingin sedikit meringankan bebanmu.” Yuni akan memulai usahanya setelah ini.
Cahyo mengangguk. “Ayo!” Dia tak ingin terlambat di makan malam atau proyek penting akan terlepas begitu saja. “Ingat, Yun. Proyek ini sangat penting. Lakukan apa yang menurutmu bagus, ya?” Cahyo melemparkan senyumnya.
“Selamat malam, Mr.” Cahyo mengulurkan tangan untuk menyambut kliennya. Baru saja melangkah, ternyata dia datang bareng dengan klien itu, dan bertemu di depan restoran.
“Tuan Cahyo, senang bertemu Anda lagi dan Nona Yuni, Anda sangat luar biasa.” Orang Singapura itu memuji.
Yuni tersenyum lebar, “Maaf, tadi siang saya terlambat datang ke kantor, ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggal.”
“Tidak masalah. Mari masuk.” Orang Singapura itu segera menanyakan tempat pesanannya dan memesan menu untuk semua orang yang ikut rapat.
Yuni terus memasang senyum, tak ada wanita lain di sini, tapi dia akan berusaha seramah mungkin.
__ADS_1
“Nona Yuni, apa Anda suka minum?” Orang Singapura itu sengaja memesan minuman beralkohol, menuang untuk dirinya sendiri dan Cahyo, baru setelahnya menuangkan untuk Yuni.
Yuni nyengir, “Maaf, saya tidak pernah minum, tapi sepertinya bisa dicoba, apa ini pahit, Mr?” Yuni melirik ke Cahyo, meski ada gelengan di sana, Yuni tak mungkin menolak permintaan klien itu atau proyek yang dibicarakan suaminya terlepas.
Orang Singapura itu menggeleng, “Tidak. Aku suka semua hal yang manis, termasuk dengan ini, cobalah!” Minum lebih dulu dalam sekali teguk dan menuang kembali untuk dirinya sendiri.
Yuni menarik napas, keringat ke keningnya tiba-tiba ke luar, dan dia segera memasukkan minuman itu ke mulutnya. Menelan tanpa merasa seperti apa dan meringis saat membuka mata untuk melihat orang Singapura dan Cahyo.
Cahyo ikut meringis juga. Dia minum bagiannya dan sangat tahu minuman macam apa ini. Saat kliennya memenuhi gelasnya dan gelas Yuni lagi, Cahyo tinggal menghitung mundur hal aneh yang diyakini akan terjadi.
“Hahahahaha. Itulah kenapa aku suka denganmu, Nona Yuni. Anda selalu menempatkan tamu di posisi tertinggi dan saya sangat puas saat Anda mau menemani apa pun keinginan saya.” Orang Singapura itu melihat dengan kepalanya sendiri kalau Yuni sudah menghabiskan gelas ke dua, “Saya akan ke kantor Anda besok untuk menanda tangani kontrak itu, Tuan Cahyo.”
“Tapi saya membawa dokumennya sekarang, Mr. Saya pikir Anda akan kerepotan kalau harus bolak balik. Jadi saya menyiapkannya. Maaf kalau saya lancang.” Cahyo jadi tak enak hati meski dia tetap tak mau rugi.
Orang Singapura itu melirik, Yuni sudah menghabiskan minuman ke tiga, “Baiklah. Saya akan menanda tanganinya sekarang.” Memanggil ajudannya untuk meminta bolpoin dan membubuhkan tanda tangannya di setiap tempat yang dibutuhkan.
Cahyo tersenyum. Dia menyimpan kembali dokumen dengan benar. Kliennya langsung tanda tangan begitu saja tanpa membaca syaratnya lebih dulu, dia untung besar kali ini. “Terima kasih atas kerja samanya, Mr.” Cahyo kembali mengulurkan tangan untuk menjabat.
“Sama-sama. Senang melihat Anda dan istri Anda yang luar biasa ini.” Orang Singapura itu tertawa, “Ayo kita makan!” Mulai menikmati hidangan di meja.
Cahyo menoleh ke Yuni, wanita itu senyumnya jadi aneh, “Kita makan, Sayang.” Sengaja menyuapi Yuni agar tak terjadi hal yang tak dia inginkan.
“Perasaanku tidak enak, Mas. Apa kita bisa pulang sekarang?” Yuni merengek ke Cahyo dan suara itu tentu saja didengar oleh klien Cahyo.
__ADS_1
Cahyo menelan ludah. Dia menoleh dan meringis ke kliennya. Tak sopan sekali, bukan?