
Cahyo menggeliat panjang, pekerjaan hari ini sangat banyak, dan menguras tenaga. Baru saja memikirkan akan makan apa siang ini, pintu ruangannya terbuka, dan menampilkan sosok Nana yang tersenyum sambil berjalan mendekat.
“Hey, Sayang. Aku sangat merindukanmu.” Nana memeluk Cahyo, mencium bibir itu singkat, dan segera duduk di pangkuan, “Sudah selesai?”
Cahyo mengangguk, “Kenapa ke sini? Bukankah wanita hamil dilarang bepergian?”
“Ya, tapi pria yang punya kekasih hamil harusnya sering menjenguknya. Aku rindu.” Nana membuka kancing kemeja Cahyo, memasukkan tangannya dan meraba dada itu.
Cahyo terkekeh, “Aku sangat sibuk sekali. Banyak pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, rapat, klien yang ingin pekerjaannya segera diselesaikan, dan—ah! Aku bekerja ‘kan untukmu, jadi jangan menuntutku lebih banyak lagi dari ini, okey?” Cahyo tersenyum, mengeluarkan tangan Nana karena itu membuatnya geli, apa lagi Nana memainkan kecil kembar di dadanya. Jangan sampai miliknya bangun saat kehamilan Nana masih muda begitu.
Nana tertawa, “Oke, Sayang. Aku mau mengajakmu mencoba baju pengantin kita, membayar katering, dan mencari gedung yang bagus. Meski hanya siri, jangan membuat terlalu sedih, Sayang. Apa aku berlebihan?”
“Tidak. Tentu saja tidak. Berdirilah! Kita berangkat sekarang.” Cahyo tersenyum, merangkul Nana di sampingnya, dan segera turun. Sudah jam istirahat, tak ada alasan untuk menolak permintaan kecil itu. “Apa kamu pernah ke sini?” Cahyo heran saat Nana menunjuk tempat yang pernah dia datangi juga dengan Yuni.
__ADS_1
Nana mengangguk, “Iya. Gaun di sini sangat bagus, make up-nya, fotografernya, dekorasi, mereka tidak akan mengecewakan. Aku ke sini beberapa hari yang lalu, ada gaun yang sangat indaahhhhhh... sekali. Ah! Itu dia. Aku coba dulu, ya?”
“Oke. Aku tunggu di sini.” Cahyo tersenyum, berbalik, dan duduk di kursi panjang. Kursi yang sama dengan tempatnya saat menunggu Yuni dulu.
Nana segera ke ruang ganti, dibantu oleh karyawan di sini, dia pun ke luar kembali setelah mengenakan gaun pengantin pilihannya. “Bagaimana? Kita akan mengingatnya seumur hidup, Sayang. Aku mau yang terbaik.” Nana terus tersenyum. Hari-hari indah akan segera dimulai.
Cahyo mendekat, “Ini terlalu terbuka, Sayang. Kulihat dadamu semakin besar akhir-akhir ini. Apa bisa dinaikkan sedikit?” Cahyo menoleh ke karyawan.
“Sudah. Aku tidak mau dia terlalu terbuka di depan tamu.” Cahyo menoleh ke Nana, memeluk pinggang itu, dan tersenyum. “Oiya, selama ini kita sangat kesulitan punya anak, bagaimana bisa? Aku mengkhawatirkanmu. Jangan karena terlalu lelah impian itu hilang lagi.” Cahyo mengusap perut Nana, masih rata, dan Cahyo tak mengerti dengan perasaannya sendiri.
Nana mengalungkan tangan ke pundak Cahyo, “Aku sangat menginginkan itu, Sayang. Jadi aku ke dokter, aku minum vitamin, aku minum suplemen apa pun, aku minum obat, semuanya. Saat itu aku sedang subur, dan dokter ingin kita berhubungan, aku ingin merayumu dengan kemarahanku, ternyata berhasil. Tuhan sangat baik ke pada kita.” Nana memeluk Cahyo.
Cahyo pun membalas pelukan itu tak kalah erat, “Ya, Dia baik sekali.” Memberikan kecupan di rambut Nana tanpa melepas pelukan itu sedikit pun.
__ADS_1
Yuni... baru saja bangun. Dia masih telanjang, hanya berbalut selimut, dan tersenyum dengan bibir pucatnya. Semalam Cahyo melakukannya beberapa kali, dia tak ingat sampai jam berapa, seprei di bawahnya sampai kotor, dan dia masih terus tersenyum mengingat itu.
Tahu tak mungkin di sini seharian, Yuni segera mandi dan turun, melempar senyum ke mertuanya, dan duduk bersama. “Ma, papa ke mana?” Yuni mengambil kudapan di depan mertuanya.
"Papamu itu sekarang jadi orang penting, main golf sampai lupa waktu, dan entah punya bisnis apa dengan teman-temannya. Mama jadi di rumah sendiri.” Mama Cahyo terkekeh, “Apa semalam sangat menyenangkan?” Yuni mengangguk dan mama Cahyo pun mengusap rambut menantunya, “Mama senang mendengarnya, Sayang. Kalau sudah begini, apa kamu masih ingin pergi?”
Yuni menggeleng, “Mama sangat tahu kalau dari dulu aku mencintai mas Cahyo, tapi semua sangat sulit, Ma.”
“Sulit? Bertahanlah sebentar lagi, Sayang. Apa yang ditutupi, serapi apa, sedalam apa, tetap akan terbongkar juga.” Mama Cahyo terus mengusap rambut Yuni. Berharap dengan begitu menantunya akan tega dan tahu kalau dirinya ada di pihak Yuni.
Yuni mengangguk, “Ma, bagaimana kalau ternyata anak yang dikandung Nana bukan anak mas Cahyo? Apa Mama percaya?”
Mama Cahyo mengerutkan kening, “Kenapa kamu bertanya seperti itu? Apa kamu punya buktinya?”
__ADS_1