
“Hendra?” Yuni berjalan lebih cepat, “Kamu tahu aku sakit?” Mengajak Hendra masuk, “Aku sangat terkejut.”
Hendra malah heran, “Kamu sakit? Sejak kapan? Kamu tidak ke dokter?” Mengulurkan tangan untuk menyentuh kening Yuni.
“Heh?!” Cahyo dengan sigap menarik tangan Hendra agar menjauh dari istrinya, “Bukankah urusanmu denganku, huh?!” Menarik Yuni agar tak terlalu dekat dengan Hendra.
Yuni menoleh ke Cahyo, “Kamu ke sini untuk bekerja?” Melihat Hendra mengangguk, Yuni pun meringis ke Cahyo, “Kupikir kamu menjengukku. Masuklah! Aku akan membuatkan minum. Kalian tidak mungkin membahas pekerjaan di sini, kan?” Yuni menggandeng lengan Cahyo, “Ayo masuk, Mas!”
Cahyo membuang napas kasar, dia berlalu begitu saja setelah Yuni menggandengnya, duduk di ruang tamu dan menatap Hendra tajam.
“Ini dokumen yang kuceritakan,” Hendra sudah mulai bekerja jadi manager area sekarang, karena ada urusan mendesaklah membuatnya harus datang ke mari, “Mr bilang pembangunan harus sudah tiga puluh persen bulan depan, beliau akan ke lokasi untuk mengeceknya. Anton sendiri yang bilang padaku.”
Cahyo membaca dokumen itu, “Aku tidak bisa ke pantai lagi, semua kuserahkan padamu, ada penginapan di sana, kamu bisa menggunakannya, kos dan kantor berlawanan arah dari pantai, kan?”
__ADS_1
Hendra mengangguk senang, “Aku akan segera pindah ke sana.”
“Bagus! Tidak usah ke sini lagi.” Cahyo membubuhkan tanda tangan dan segera mengembalikan dokumen ke Hendra, “Pulanglah!” Menunjuk dengan dagu di mana letak pintu rumahnya.
"Sudah selesai? Cepat sekali?" Yuni ke luar dengan membawa nampan, dia menyajikan minuman untuk Hendra.
“Tidak, Mas. Aku dan Hendra kan berteman, mana mungkin aku tidak ke sini, kamu benar-benar tidak berniat menjengukku, Hen?” Yuni duduk di sebelah Hendra.
“Aku tidak tahu kamu sakit, Yun. Kalau tahu aku pasti akan ke sini lebih awal. Bagaimana keadaanmu? Apa semuanya baik?” Tentu saja Hendra kawatir dengan kesehatan Yuni, dia tahu kalau Cahyo tak menyukai Yuni, bisa saja Yuni dianiaya setiap hari, kan?
“Dia hanya kelelahan karena aku sering memuaskannya setiap malam.” Cahyo menjawab dengan sinis.
__ADS_1
“Mas!” Yuni segera menutup mulut Cahyo dengan tangannya, tak peduli kalau tak sopan, nyatanya Cahyo lebih tak sopan lagi dengan mengatakan hal senonoh semacam itu.
Hendra menelan ludah, “Aku tidak menanyakan tentang ranjang kalian.” Mengambil minum agar tenggorokannya yang kering segera lega.
“Cepat habiskan minuman itu, Yuni baru saja sembuh, jangan karena kamu di sini dia jadi kelelahan lagi.” Cahyo sudah tak tahan melihat Hendra lebih lama lagi.
Yuni menggeleng, “Pelan-pelan, Hen. Jangan terlalu memikirkan ucapan Mas Cahyo. Ini dimakan juga kuenya.” Yuni mendorong piring berisi bolu hitam agar lebih dekat ke Hendra.
Hendra mengambilnya, “Terima kasih, Yun. Pekerjaanku banyak, benar kata Tuan Cahyo, aku harus cepat kembali ke kantor. Kamu jaga kesehatan, ya? Aku ambil ini.” Hendra menunjukkan dua potong bolu hitamnya ke Yuni dan berdiri. Dia akan kembali ke kosan untuk mengemas pakaiannya untuk pindah ke pantai.
“Ya, pintu ke luarnya di sana. Yuni tidak bisa mengantarmu, dia harus banyak istirahat, iya, kan?” Cahyo merangkul pinggang Yuni agar istrinya itu tak sampai beranjak, dia tak akan membiarkan Yuni menjamu Hendra sebaik itu, Yuni ini hanya miliknya saja.
__ADS_1