Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Ramuan gila


__ADS_3

Cahyo menggeliat, tidurnya sangat nyenyak dan dia bangun tepat saat alarm berbunyi seperti biasanya, “Yun?!” Cahyo mengerutkan kening karena tak menemukan Yuni. Bukan hanya itu, bahkan minuman pun juga tak ada, dia bangun dengan mulut cukup pahit.


Tak mungkin terus di ranjang hanya untuk menunggu minuman Yuni, Cahyo pun turun, mulai mengambil handuk, dan ke kamar mandi. “Yuni!” Dia jadi panik melihat Yuni di kamar mandi. “Kenapa kamu tidak naik, huh?! Bodoh!” Cahyo baru ingat kalau meninggalkan Yuni di bak mandi sebelum dia ganti baju semalam.


Yuni hanya menggigil tanpa bisa berkata-kata. Meski terasa Cahyo mengangkatnya dari bak mandi, meletakkannya di kasur dan melepas semua pakaiannya, Yuni tak peduli. Setelah selimut mulai membalut tubuh, dengan baju kering yang diganti oleh Cahyo, sisi ranjang lainnya entah seperti apa basahnya, dan Yuni tak ingin memikirkan itu sekarang. Dia lebih memilih menyembunyikan tubuhnya di selimut. Dingin yang dia rasakan sejak semalam belum juga pergi, tapi setidaknya ini sedikit membantu.


Dengan baju basahnya Cahyo turun, beberapa pelayan yang menyapa tak dia pedulikan, lebih memilih mencari telepon rumah dan menelepon dokter keluarga. Setelah ada jawaban dari seberang sana kalau sebentar lagi akan datang, barulah Cahyo ke dapur, “Buatkan minuman apa saja, pakai air panas semua, dan cepat bawa ke kamarku.” Cahyo berbalik setelah mengatakan itu. Tentu saja dia kawatir dengan Yuni.


“Tuan Cahyo, kenapa bajunya basah semua?” Tanya salah satu pelayan.


Cahyo menoleh, “Bukan urusanmu.” Melangkah cepat, baru kali ini dia merasa bersalah. Tubuh di bawah selimut itu masih menggigil, Cahyo sangat paham seperti apa dinginnya, bahkan untuk menanyakan keadaan saja dia tak berani. Setelah pelayan tertua datang untuk mengantar minuman yang dia minta, barulah Cahyo menarik selimut yang digunakan Yuni untuk membalut tubuhnya.


Yuni belum tidur, dia masih terjaga karena tubuhnya begitu sakit, “Dingin, Mas. Jangan dibuang selimutnya.” Yuni meraih selimut yang terlihat begitu jauh dengan mata rabunnya.


“Minum ini dulu, cepat!” Cahyo menyodorkan nampan berisi beberapa minuman panas.


Yuni tak berani menolak, dia mengambil sembarang dan meminumnya, “Buh! Panas, Mas!” Mungkin pekikan itu terlalu keras, tapi bibirnya sudah terbakar karena paksaan Cahyo.


“Kau ingin mati?! Minum ini dari pada dehidrasi!” Bukankah dingin hanya dengan panas saja lawannya, Cahyo lebih tahu dari pada Yuni.

__ADS_1


“Ambilkan piring atau apa pun, Mas. Ini panas. Aku tidak bisa meminumnya.” Yuni yakin mulutnya akan melepuh kalau dipaksa.


Cahyo membuang napas kasar. Segera ke dapur untuk mengambil piring dan memberikannya ke Yuni. Entah apa yang akan Yuni lakukan dengan piring itu. Sangat tidak penting.


Yuni menuang minuman itu dengan tangan gemetar, meniupnya beberapa kali, baru meminumnya. Memang tak banyak membantu, tapi semua memang lebih baik, dan itu juga karena bantuan Cahyo. Baru dua teguk, pintu terbuka, dokter keluarga yang datang, Yuni menaruh piring penuh susu hangat itu, dan melempar senyum.


Dokter mengangguk ke Cahyo, “Tuan Cahyo, Anda sangat basah?”


Cahyo tersenyum, “Ya, tapi bukan aku yang harus diperiksa.”


“Siapa?” tanya dokter itu.


Cahyo bersedekap dada, “Yuni.” Menunjuk Yuni dengan dagunya. Dia juga mulai kedinginan saat ini.


Yuni menelan ludah, “Aku berendam semalam.”


“Dia minum perangsang jadi aku menyuruhnya tidur di bak mandi.” Cahyo ikut menjawab dan hampir bersamaan dengan Yuni.


“Mas?!” Itu sangat memalukan. Dari mana Cahyo tahu kalau dirinya minum minuman semacam itu? Padahal Yuni yakin tak menceritakan ke siapa pun tentang semalam.

__ADS_1


Dokter hanya tersenyum mendengar ke duanya, “Saya sangat paham dengan keadaannya. Saya akan memberikan vitamin agar tak sampai flu dan dehidrasinya cepat berkurang.” Dokter itu mengemas kembali alat-alatnya, menuliskan resep obat yang harus ditebus, dan memberikannya ke Cahyo, "Diminum tiga kali sehari semua dan ...Tuan Cahyo, saya harap Anda juga segera ganti baju agar tak sampai flu.”


Cahyo dan Yuni mengangguk bersamaan.


“Saya permisi dulu dan semoga Anda leka sembuh, Nona Yuni.” Dokter itu mengangguk dan pergi.


“Mas—“ Yuni ingin mengatakan sesuatu.


“Minum saja minuman itu, Yun. Aku mau menebus obat dulu.” Cahyo malah ke luar tanpa ingin mendengar apa ucapan Yuni. Di luar kamar, sudah ada sopir yang menyambutnya, Cahyo jadi heran.


“Maaf, Tuan Cahyo. Tuan Surya telepon Anda katanya tidak bisa?” Sopir itu mengulurkan telepon rumah.


Cahyo mengambil telepon itu, “Tebus obat ini dan segera berikan padaku atau Yuni kalau aku tidak di rumah.” Setelah sopir itu pergi, “Ya? Aku masih di rumah, Sur.” Cahyo tahu kalau hari ini ada rapat, bahkan dia sendiri yang menjadwalkannya semalam dengan Surya.


“Cepatlah datang, Cahyo. Mereka bisa demo dan ada klien yang akan berkunjung dua jam lagi, aku tidak tahu karena semua terlalu mendadak.” Surya ikut menyesal di sini.


“Ya, aku akan segera tiba, jangan kawatir. Aku berangkat sekarang.” Cahyo menutup telepon itu dan meletakkannya di meja paling dekat dengan kamarnya.


“Mas?” Yuni masih bersembunyi di selimut saat Cahyo masuk dan melewatinya begitu saja.

__ADS_1


“Jangan menggangguku, Yun. Pekerjaanku sangat banyak.” Cahyo terus berlalu. Dia akan mandi dan segera bersiap untuk ke kantor meski memang benar kata dokter tadi, tubuhnya mulai terasa tak enak oleh AC di kamarnya sendiri.



__ADS_2