
Nana tertawa sambil menutup teleponnya, dia baru saja bicara dengan perias bagus di kota ini, meski hanya menikah secara siri, setidaknya dia harus tampil cantik, kan? “Mbak!” Mengangkat tangan, dia sedang memanggil pelayan restoran untuk membayar makanannya, “Terima kasih, ya?”
Nana segera masuk mobil dan mengendarainya, “Kenapa hari ini panas sekali?” Jalanan yang macet membuat Nana semakin sebal, “Apa aku lewat sini saja?” Ini adalah jalan pintas yang ditemukannya secara tak sengaja beberapa bulan yang lalu, “Belok sini, sini, dan—ah! Aku lupa kalau aku harus belok kiri.” Nana mengerem mobilnya, melihat spion atas, dan keningnya pun mengerut, “Kenapa mobil itu ikut berhenti? Apa mereka mengikutiku?”
Nana tak jadi putar balik, dia terus berjalan ke mana pun yang dia ingin hanya untuk melihat mobil di belakangnya, “Siapa mereka?” Sangat yakin kalau dirinya sedang diikuti saat ini. Baru saja akan berhenti dan melabrak pengemudi di belakang, tapi mobil itu melewatinya, dan berlalu begitu saja setelah Nana turun.
Segera masuk kembali dan mengambil ponselnya, Nana menelepon Cahyo, tangannya gemetar sekarang. “Ka—kamu di mana, Sayang?”
Cahyo yang saat ini sedang sibuk bicara dengan Surya, malah menoleh heran, “Di... kantor. Ada apa, Na?”
“Ada orang yang mengikutiku, aku yakin, Sayang. Aku sangat takut. Anak kita. Aku takut mereka membahayakanku dan anak kita.” Nana mengatakannya dengan cemas.
Cahyo terkekeh, “Ayolah, Na! Ada apa denganmu? Selama ini kita ke mana pun dan tidak pernah ada yang mengikuti, kan? Jangankan ikut, tanya saja tidak, aku sangat sibuk, jangan merepotkanku, Na.” Cahyo menutup teleponnya.
“Halo? Halo?! Berengsek kau, Cahyo!” Nana melempar ponselnya begitu saja ke kursi penumpang di sebelahnya. Dia memijit pelipis, memikirkan siapa orang tadi, dan siapa yang kiranya bisa menyelamatkannya. Cahyo sangat berbeda, sepertinya Yuni membawa dampak besar untuk Cahyo, untung saja dia sudah hamil, dan dapat dipastikan tak akan kehilangan Cahyo untuk selamanya.
“Siapa?” Surya heran saat Cahyo mematikan telepon begitu saja. Itu bukan gaya Cahyo dan dia sangat tahu itu.
Cahyo terkekeh, “Nana, katanya ada yang mengikutinya, tapi mana mungkin? Semua orang sibuk, Sur. Tak akan ada yang mengurusnya di dunia ini. Lebih baik kita bicarakan saja yang tadi.” Cahyo menyimpan ponselnya di saku dan kembali mengatakan rencananya di Surya.
Yuni... baru saja selesai mandi, dia ingin istirahat, tapi tiba-tiba karyawan di toko bunganya telepon, jadi dia langsung ke sana dengan sopir. “Bagaimana bisa?” tanya Yuni. Dia melihat beberapa bunga yang sudah siap angkut di truk, tapi karyawannya masih saja merepotkan. Ada pesanan untuk bulan madu dan bunga yang diminta konsumen malah tertukar.
“Namanya sama, Non. Kami pikir pembeli yang tadi.” Karyawan itu menunduk.
__ADS_1
Yuni pun membuang napas kasar, “Mana nomor telepon pembeli itu?” Segera menyahut kertas kecil dari tangan karyawannya dan menelepon pembeli, ternyata itu malah nomornya Anton, “Semoga ini lebih baik dari yang kukira.” Yuni menggigit bibir bawahnya sendiri, menanti telepon itu diangkat, kegugupan pun muncul begitu saja.
“Halo, Nona Yuni. Ada masalah?” Anton masih berada di pantai yang tadi dan telepon dari Yuni membuatnya terheran.
“Aku meneleponmu sebagai penjual bunga, Ton. Bunga yang kujanjikan ternyata tidak ada, apa tidak masalah jika aku menggunakan bunga lainnya? Aku jamin mereka punya wangi yang sama.” Yuni tetap meringis meski Anton tak di hadapannya.
Anton terkekeh, “Tidak masalah, tapi ada syaratnya karena bunganya tak sesuai dengan yang kamu janjikan.”
“Okey... apa itu?” Yuni akan menerima konsekuensinya.
“Aku akan memberimu alamat apartemenku, kuberikan sandinya, dan kamu sendiri yang harus menata semuanya, bagaimana? Itu cukup untuk ganti rugi.” Anton mengatakannya sambil terkekeh.
“Okey, aku tidak sibuk hari ini, sepertinya akan menyenangkan, asal kamu tidak komplen.” Yuni ikut terkekeh juga. Dia senang, Anton memang pria yang hangat, tapi kalau dia ingat siapa kekasih Anton, rasanya miris sekali. Setelah mendapatkan alamat apartemen Anton, Yuni segera ke sana, masuk tanpa kendala, dan segera menata kamar utama.
Yuni masuk lift untuk turun, tapi tak sengaja dia melihat Nana, dan dia segera bersembunyi, “Jangan jalan dulu, ada orang yang tak ingin kutemui.” Ucap Yuni ke karyawan yang saat ini dirangkulnya.
“I—iya, Non.” Karyawan itu hanya bisa mematung.
Setelah Nana berlalu, Yuni pun segera mengajak karyawannya pulang, “Kuturunkan di sini, ya? Aku mau langsung pulang.” Yuni tersenyum dan sopir pun mengantarnya pulang. Sesampainya di rumah, dia melihat mobil Cahyo, segera mencari suaminya, dan duduk dengan sabar di kamar karena keran air di kamar mandi sedang mendengung.
‘Clek.’ Cahyo tersenyum ke Yuni, dia mengusap rambutnya yang basah, dan berlalu begitu saja untuk mencari pakaian yang nyaman. “Dari mana, Yun?” Duduk di sebelah Yuni meski tangannya masih sibuk dengan handuknya.
Yuni tersenyum, “Toko, Mas. Ada sedikit masalah tadi, tapi sudah teratasi. Mas, baru pulang?"
__ADS_1
Cahyo mengangguk, “Jangan lupa besok ikut ke kantor, ya?”
“Iya, Mas. Hm... apa... aku boleh bertanya?” Yuni tahu tatapan Cahyo mencurigainya, tapi tak ada yang dapat dilakukan selain tersenyum.
“Biasanya kamu langsung tanya, Yun.” Cahyo berdiri, mencari parfum, dan segera menyemprotkannya.
“Kamu sama Anton berteman sejak kapan, Mas?” tanya Yuni.
“Belum lama, aku kenal saat seminar, dia pemuda yang bertalenta, hobi kita sama, hanya saja dia kurang beruntung. Beberapa kali membuka bisnis properti, tapi gagal. Bagus kenal dengan Mr.” Cahyo menoleh lalu terkekeh, “Meski hanya karyawan, Mr orang yang loyal, Anton pasti punya masa depan yang lebih baik. Kenapa, Yun? Kamu menyukainya?”
“Ah! Tidak!” Yuni meringis, “Ak—aku hanya... tidak menyangka Mas punya teman Anton. Dia beli bunga ke toko, saat Mas mengajakku makan malam waktu itu dan ketemu Anton, aku terkejut.” Yuni tertawa mengingat malam itu, “Apa dia sudah menikah? Dia sering membeli bunga. Pasti untuk kekasihnya, kan? Istri?”
Cahyo menggeleng, “Mungkin sebentar lagi, aku juga penasaran dengan pacarnya, tapi sangat sulit untuk bertemu. Sering aku menyuruhnya mengajak kekasihnya, tapi pasti sibuk, dan karena itu aku tidak tahu yang mana pacarnya.”
“Mas, sama Nana?” Kalau jawabannya ‘iya’ berarti sudah tak ada harapan lagi untuk hubungan ini dan Yuni akan menyerah.
Cahyo menggeleng, “Tidak. Kamu kan tahu mama dan papa tidak menyukai Nana, aku belum mengenalkan Nana ke mana pun. Ada apa, Yun? Kamu sedang mencari sesuatu? Mungkin aku bisa membantu kalau kamu cerita.”
Yuni menarik napas panjang dan dalam, “Kuharap Mas percaya. Anton sering beli bunga di toko dan bahkan aku sendiri yang membuatkan kartu ucapan. Pacar Anton namanya Nana, Mas. Aku tadi juga merangkai bunga di apartemen Anton, aku melihat foto ke duanya berpelukan, dan aku pun melihat Nana datang ke apartemen itu juga. Sumpah!” Yuni mengangkat jari telunjuk dan tengahnya bersamaan.
“Nana? Maksudmu Nana yang kemarin ke sini bersamaku? Nana yang hamil itu?” tanya Cahyo.
Yuni mengangguk, “Iya, Mas. Aku yakin tidak salah orang. Itu Nana yang sama dengan Nana... Nana pacarmu.”
__ADS_1