Cinta Bertanda Merah

Cinta Bertanda Merah
Hukum aku


__ADS_3

“Siapa yang mengizinkanmu ke luar?” Melihat Yuni dengan dandanannya, Mr yang tadinya sibuk dengan ponsel pintar, kini berdiri dan mendekat. Memeluk begitu saja, bahkan tanpa canggung mencium pipi itu singkat, “Semua bisa berubah secepat ini setelah kau mengetahui sesuatu?”


 


Yuni tersenyum, “Aku mau kontrol, lagi pula setelah aku mengetahu semuanya, aku yakin Mr juga tak menginginkan anakku. Oiya, aku bertemu dengan mama kemarin, sepertinya aku juga akan mengurus semua uang yang sudah Mr berikan padaku, jangan kawatir. Apa aku boleh pergi sekarang?” Menyingkirkan tangan Mr perlahan, dia juga tak menyurutkan senyum karena menganggap semua ini bukan peperangan.


 


“Ah! Kamu ingin mengembalikan semuanya? Sepertinya sangat banyak dan sayangnya aku sedang tak membutuhkan uang.” Mr menghela napas, “Saham? Proyek besar? Area strategis? Hm ... biarkan aku memikirkan apa kiranya yang pantas untuk mengganti biaya pengeluaranmu selama bersamaku. Hahahahaha.” Mr terbahak-bahak sampai tubuhnya bergetar.


 


Yuni terkekeh melihat tawa Mr, “Pikirkan saja dulu, Mr. Aku pergi dulu.” Melangkah kembali, meski ada kekhawatiran dalam benaknya, dia yakin ucapan tadi bukan isapan jempol semata.


 


Mr terus memperhatikan punggung itu, “Aku akan membawa Dania-ku kembali. Cepat atau lambat, kita akan tetap menjadi satu, Dania.” Tertawa, seolah apa yang dia idamkan ada di depan mata, dan semua tak akan terlepas lagi.


 


Sedangkan Cahyo... dalam kalut memikirkan surat undangan pernikahan digital antara Mr dan Yuni malah membuat kepalanya akan pecah. Sepertinya dia tak bisa meremehkan Mr lagi, gertakannya beberapa hari lalu tak cukup berhasil, dia harus memikirkan cara yang lebih ampuh.


 


Ponsel itu malah berdering. Ada nama orang yang begitu dia percaya dan Cahyo segera mengangkatnya, “Ya? Ada masalah? Tidak biasa kau meneleponku sepagi ini.”


 


Yuni... tersenyum, “Selamat pagi, Dokter.” Ini adalah kali pertama dia memeriksa kehamilannya di Indonesia. Selama di Singapura Mr selalu menyediakan semua, memang tak bisa dipungkiri kebaikan itu meski ternyata semua palsu, dan kini Yuni harus segera mengakhirinya.


 

__ADS_1


“Nyonya Yuni, kehamilan pertama dan masuk bulan ke delapan, ya? Harus siaga, tapi Anda ke sini sendiri.” Dokter itu memeriksa dengan hati-hati dan teliti.


 


“Banyak hal terjadi di luar sana, Dokter. Tapi jangan kawatir, aku mama yang hebat, katakan saja apa yang harus kupersiapkan.” Yuni merasakan dingin di perut, dia siap bertemu dengan anaknya lagi, wajah yang selalu menjadi penguat hidupnya.


 


“Kehamilan normal memang empat puluh minggu, semua selalu berharap yang terbaik, tapi hal terburuk tetap harus diantisipasi. Jangan terlalu lelah, jaga makan, apa lagi mental. Mama yang hebat harus bisa lebih kuat, Nyonya.” Dokter itu memotret di saat yang tepat, “Anda ingin tahu jenis kelaminnya?” Menoleh ke Yuni sambil tersenyum.


 


Yuni menggeleng, “Jangan, Dokter. Aku ingin diberi kejutan. Hm ... aku sering pergi dengan mobil, bagaimana menurut, Dokter?” Setelah perut itu bersih, Yuni duduk perlahan, dan mendengar penjelasan dokter muda di depannya dengan saksama.


 


“Sebaiknya dikurangi, Nyonya. Tapi ... kalau keadaan tidak memungkinkan, Anda bisa pergi dengan kecepatan rendah, bayi Anda sangat sehat, dia kuat seperti Anda.” Dokter memberikan sebuah resep, “Ini untuk Anda dan bayi Anda, kalau ada apa pun, sekecil apa pun, jangan sungkan menghubungi saya.”


 


 


Cahyo terkekeh, menunjukkan kalender di ponselnya ke Yuni, “Ini jadwalku periksa rutin, kebetulan saja kita bertemu, kau?”


 


Yuni tidak percaya, tapi dia tak punya bukti untuk menantang, “Aku beli vitamin. Periksalah dulu, bukankah pekerjaanmu banyak? Jangan terlalu lama meninggalkan kantor.” Yuni berlalu menjauh, tapi Cahyo mengikutinya, dan dia sedang malas berdebat sekedar untuk mengusir Cahyo dari sisinya.


 


“Aku bisa kembali lagi nanti, tapi karena kita bertemu di sini, apa boleh aku bertanya padamu?” Cahyo sedang mencari sebuah jawaban saat ini.

__ADS_1


 


“Kalau ini tentang anakku, aku tidak bisa menjawabnya, Mas. Lagi pula aku buru-buru.” Yuni mempercepat langkah, dia kacau, dan bisa saja semua malah mengganggu kesehatan bayinya nanti.


 


Cahyo tersenyum samar. Yuni begitu jauh dan dia tak rela. Bagaimana bisa akhir kisahnya seperti ini? Sebelum Yuni benar-benar menghilang, Cahyo pun tak kuasa, “Aku akan datang di pernikahanmu!” Sengaja bicara sekeras mungkin agar Yuni tak melewatkan apa pun.


 


Langkahnya berhenti, tetapi Yuni tak mau berbalik sekedar untuk menoleh ke Cahyo. Ada apa lagi ini? Apa semua pekerjaan Mr? Sepertinya pria itu menunjukkan sisi berengseknya sekarang.


 


“Aku sengaja tidak menanda tangani surat perceraian yang kamu kirimkan, aku tahu aku salah, aku memang pria berengsek yang tak tahu berterima kasih. Aku meminta hukuman darimu, aku minta pengampunan darimu, dan semuanya malah jadi seperti ini.” Cahyo terkekeh, dia maju selangkah agar lebih dekat lagi dengan Yuni. Meski tangannya tak mampu merengkuh, setidaknya dia bisa mendengar deru napas itu. “Hukum aku dengan cara yang lain, Yun. Kumohon.” Mencakupkan ke dua tangan di dada, memelas meski Yuni tak mau memandang wajah penuh dosa ini, Cahyo ... kalah.


 


Menelan ludah, “Aku ... tidak bisa menghukummu, Mas.” Menahan sekuat tenaga agar air matanya tak jatuh. Cukup beberapa bulan lalu saja dia menangisi Cahyo seorang, kini sudah usai masa itu, dia akan menunjukkan pada anaknya bahwa mamanya ini harus hebat.


 


Lutut Cahyo lebih beradap, menekuk, berlutut di belakang Yuni, “Kumohon.”


 


Bentur tulang dan lantai itu cukup nyaring, Yuni segera berbalik, dan benar apa yang ada dalam benaknya, “Mas?!” Berusaha membantu Cahyo agar berdiri seperti pria gagah seperti dulu.


 


“Hukum aku, Yun. Lakukan apa pun, bahkan jika membunuhku adalah sesuatu kebenaran bagimu, lakukanlah. Aku lebih baik mati.” Memang pipinya tak basah oleh air mata, tetapi ucapannya adalah buah dari kejujuran hati, dan Cahyo harap Yuni masih mampu membaca matanya dengan baik.

__ADS_1


 


Yuni yang tadinya ingin mengajak Cahyo berdiri, malah melepas lengan itu, “Jangan lakukan ini, Mas. Kamu selalu mengingatkanku dengan rasa sakit yang kau buat sendiri. Kalau memang apa yang kau katakan benar, kenapa tidak membunuh dirimu sendiri? Aku tak ingin tangan yang nanti kugunakan untuk menggendong anakku tercemar oleh bau darah, sedangkan aku ingin memaafkanmu meski sangat berat. Kalau boleh aku jujur, bagaimana jika Mas mencoba merasakannya? Sakit bukan? Bahkan Mas tak pernah tahu kalau apa yang kurasakan dulu melebihi rasa sakitmu hari ini.” Yuni berbalik begitu saja dan pergi. Dia tak ingin dilihat Cahyo andai air matanya jatuh. Meski begitu tetap menahan sekuat tenaga agar tak terlihat menyedihkan oleh banyaknya orang yang memperhatikannya dan Cahyo sejak tadi.


__ADS_2