
Hendra duduk diam. Dia bahkan tak berani sekedar menawari Surya minuman. Yakin kalau kedatangan Surya membawa surat pemecatannya saat ini.
Surya menghela napas, “Aku yakin kamu tahu seperti apa sikap Cahyo. Dia ingin memecatmu sekarang juga, tapi dengan pekerjaan yang menumpuk, itu bukan pilihan yang bagus, jadi bolehkah aku tahu kenapa kamu terus mencari masalah?” Surya lebih banyak tahu dari pada Cahyo dan kini dia ingin mengerti apa tujuan Hendra.
Menelan ludah, Hendra menatap mata yang begitu tajam, “Kami pergi bertiga, Cahyo salah paham, tapi aku tidak bisa membuktikannya. Anton pergi mendadak dan hari ini adalah hari yang penting bagi Yuni, aku tidak bisa kalau tak datang, lagi pula pekerjaan di sini tak ada yang perlu dikawatirkan.”
“Kalau begitu beri aku satu alasan kenapa kamu memilih pergi dengan Yuni dari pada rapat dengan kami?” Surya tak akan menelan semua mentah-mentah.
Hendra pun tak punya pilihan lain, “Aku menjenguk Yuni saat dia sakit,” Menyadari Surya mengerutkan kening, Hendra pun segera menambahkan, “itu memang sudah lama, tapi semua ini berhubungan. Nyonya besar mendengar percakapanku tentang Nana dan beliau ingin aku mengajari Yuni nyetir mobil, dan kemarin adalah hari di mana Yuni ujian SIM. Aku dan Ratih merayakan itu, tapi telepon membuat Ratih pergi, sedangkan Cahyo datang begitu saja. Sungguh!” Hendra tahu semua terdengar tak masuk akal, “Kamu bisa bertanya ke nyonya besar kalau tak percaya denganku.”
“Anggap saja aku percaya, tapi kamu menyukai Yuni, kan? Harusnya kamu menjaga sikap. Yuni itu istri orang.” Hanya itu yang Surya sayangkan.
Hendra mengangguk, “Aku hanya tak ingin Yuni bersedih. Kalau pernikahan itu terjadi, Cahyo sangat mencintai Nana, lalu buat apa Yuni bertahan. Aku akan pergi dan membahagiakan dia kalau kamu memecatku sekarang.” Meski posisi pekerjaannya sangat bagus, Hendra bisa melepas semua jika Surya mau, demi Yuni seorang.
__ADS_1
Surya pun berdiri, “Anggap saja semua tak pernah terjadi dan perasaanmu yang salah itu... lupakan saja. Sampai kapan pun tak akan pernah ada jalan untuk ke sana, Hen.” Beranjak, Surya hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan setelah dia mengerti, pergi adalah pilihan terbaik.
Hendra tak menyusul, dia malah menelepon Yuni, tak ada jawaban di sana, dan dia berganti dengan menelepon Ratih. Mungkin ada yang bisa dilakukan setelah ini.
***
Hari berganti. Ruang makan ruang besar ini hanya berisi tiga orang, sepi dan sunyi, hanya ada denting piring yang beradu dengan garpu serta pisau. Cahyo sarapan dengan cepat lalu pergi. Baru saja masuk ruang kerjanya dan Nana yang menyambut malah membuatnya jengah, “Apa yang kamu lakukan di sini?”
Cahyo mendorong Nana, terlalu ditempel dia semakin risi, “Dari mana? Mereka pintar sekali membuat berita seperti itu.” Meletakkan tas kerjanya di meja dan duduk. Cahyo siap membuka laptop untuk bekerja.
Nana terkekeh lagi, “Banyak telinga di sini, Sayang.” Meraba dada Cahyo dari belakang, membelai untuk mencipta rangsang, bahkan Nana mendesah di telinga Cahyo, “ Akuh... rinduuuh ....”
Mendengar desah manja itu, Cahyo pun terkekeh, “Aku sangat sibuk, Na. Nanti siang saja, aku akan ke apartemen, dan kita bercinta sampai puas.”
__ADS_1
Nana segera melepas tubuh Cahyo, “Oiya? Nanti siang?” Terkekeh, “Aku bukan akan kecil yang bisa kau bohongi, Cahyo. Aku cukup sabar.”
“Lalu? Sikapmu yang seperti ini yang terlihat seperti anak kecil. Kamu pikir dari mana semua uang itu, huh?! Dari pekerjaan ini, Na!” Cahyo menaikkan nada bicaranya.
“Oke. Aku akan menggugurkan bayi ini agar kau tak perlu lagi menganggapku terlalu butuh dengan uangmu.” Nana pun berbalik dan pergi.
Cahyo segera berdiri, menarik tangan Nana, dan memeluknya. “Maaf, Sayang. Maafkan aku.” Terus mengusap punggung Nana dan mengecup kepalanya. Dia tak ingin kehilangan bayi itu.
Nana menetaskan air mata, “Aku hanya merindukanmu, jangan mengusirku seperti ini, bukan setahun dia tahun kita bersama, jangan menganggapku seperti orang asing. Kau menyakitiku, Cahyo.” Terus terisak di pelukan Cahyo.
Cahyo semakin mengeratkan perlukan itu, “Iya, Sayang. Maafkan aku. Banyak pekerjaan dan itu sangat menguras pikiran. Maafkan aku, ya?” Dia mengurai pelukan, “Ada rapat sebentar lagi. Kamu pulang dan aku akan ke sana setelah selesai rapat, sungguh, aku janji kali ini.” Memeluk Nana lagi dan mengecupnya.
Merasa menang, Nana pun tersenyum, dia akan terus menggenggam apa yang menjadi miliknya, dan dengan segala cara. ‘Aku tahu, sangat sulit bagimu melepasku, Cahyo, dan aku tak akan membiarkanmu berdiri dari bawah kakiku untuk selamanya.’ Meski hanya dalam batin, Nana akan menjaga apa yang selali dia rencanakan, itu adalah mutlak untuknya.
__ADS_1